Di Aceh, tenda pengungsian menggantikan rumah-rumah, gelapnya malam tanpa listrik menggantikan cahaya lampu masjid, dan kecemasan akan kehilangan pendapatan menggantikan ketenangan menyambut Bulan Suci. Mau sampai kapan?
Tag: bencana Sumatra
Ramadan di Tenda Pengungsian, Potret Lambannya Negara Menangani Bencana Sumatra
Ramadan 1447 H datang dalam suasana yang getir bagi ribuan korban bencana Sumatra. Ini karena negara belum berfungsi sebagai raa’in, pengurus yang menjadikan keselamatan dan kebutuhan rakyat sebagai prioritas utama. Belanja untuk pemulihan korban kerap dipandang sebagai beban fiskal, bukan tanggung jawab.
[Kabar] Huntara Belum Memadai, Pemerhati: Negara Kehilangan Visi Riayah Akibat Kapitalisme
Pemerhati kebijakan publik Iin Eka Setiawati menyampaikan, berbagai alasan kelambanan penyelesaian huntara menunjukkan kelalaian negara dalam menangani bencana Sumatra. “Negara telah kehilangan visi riayah akibat penerapan sistem kehidupan sekularisme kapitalisme,” ujarnya.
[Tokoh Bicara] Tokoh Muslimah: Solusi Mengatasi Bencana Adalah Kembali kepada Aturan Allah Swt.
Para tokoh muslimah memberikan pandangannya terkait pentingnya kembali kepada hukum-hukum Allah Swt., terutama setelah terjadinya bencana dalam acara Isra Mikraj 1447 H bertema “Dari Langit ke Bumi, Solusi Islam atas Bencana”.
[Fokus WAG] Anak-Anak Yatim Piatu Korban Bencana Sumatra, Tanggung Jawab Siapa?
Nasib anak-anak yang kehilangan keluarga setelah bencana harus menjadi perhatian utama negara, jangan pernah diabaikan. Persoalan anak yatim piatu bukanlah persoalan sementara, melainkan persoalan jangka panjang yang menyangkut masa depan generasi.
Tanggung Jawab Negara terhadap Anak Yatim Piatu Penyintas Bencana Sumatra
Pascabencana Sumatra, banyak anak kehilangan orang tua dan berubah status menjadi yatim, piatu, bahkan yatim piatu. Mereka rentan kehilangan hak dasar atas pengasuhan, perlindungan, dan masa depan. Sayang, belum terlihat adanya komitmen khusus dan sistemis negara terkait pengurusan mereka, terutama setelah kehilangan keluarga. Negara cenderung berhenti pada fase tanggap darurat.
Diskursus Bencana Antroposentris dan Ekonomi: Becermin dari Sumatra
Menilik dampak cuaca yang disebabkannya, siklon Senyar akan tetap menyebabkan dampak cukup berat terhadap kawasan Sumatra bagian utara, seideal apa pun kondisi lingkungannya. Namun, apakah kemudian tidak ada andil manusia sama sekali dalam kasus ini? Apakah bencana Sumatra semata-mata murni karena kejadian alam? Atau ada bagian dari kerakusan manusia di dalamnya?
Mendulang Cuan dari Lumpur Bencana, Kebijakan Nirempati dan Salah Prioritas
Pernyataan bahwa lumpur bencana bisa dijual ke swasta menunjukkan bahwa pemerintah tidak empati kepada korban bencana dan merupakan kebijakan yang salah prioritas. Rencana mendulang cuan dari lumpur bencana Sumatra ini mempertegas watak kapitalistik pemerintah.
Sistem Penanganan Bencana Terbaik Hanya dalam Khilafah
Dalam Islam, seorang muslim berkewajiban menolong dan membantu saudara-saudaranya yang sedang ditimpa kesulitan, termasuk akibat banjir, longsor, dan bencana lainnya. Namun demikian, tanggung jawab terbesar sesungguhnya ada di pundak negara sebagai pengayom, pelayan, dan pelindung rakyat. Sudah seharusnya negara mengupayakan penanggulangan bencana dan senantiasa stand by dalam menangani bencana maupun korbannya.
Kesehatan Anak-Anak Terancam Akibat Penanganan Pascabencana yang Tidak Komprehensif
Negara tidak total dan serius menangani bencana, padahal bencana membutuhkan respons cepat dan tepat. Pemerintah setengah hati melindungi anak-anak yang merupakan kelompok rentan, sekaligus generasi masa depan bangsa. Penanganan yang lambat ini akan membawa dampak buruk pada masa depan mereka.
[Kabar] Pemerhati: Trauma Pelajar Korban Bencana Mempertaruhkan Masa Depan Peradaban
Bencana Sumatra tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan materiel, tetapi juga trauma psikologis. Menurut pemerhati pendidikan dan dunia remaja Diansyah Novi Susanti, S.Pt., dalam konteks ini, pelajar yang menjadi korban bencana bukan sekadar korban kemanusiaan, melainkan aset strategis peradaban yang nasibnya tidak boleh dipertaruhkan dan diabaikan.
[Kabar] Praktisi: Bencana Memunculkan Krisis Pendidikan Multidimensi
Praktisi pendidikan Vita Yulia Indrasari menilai, bencana banjir di berbagai wilayah Sumatra tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga memunculkan krisis pendidikan multidimensi. Berikut penuturannya.
