Karhutla di Indonesia bukan semata-mata persoalan bencana alam, seperti kemarau dan kekeringan. Namun, terkait erat dengan regulasi struktural dalam mengatur penguasaan dan pemanfaatan lahan. Regulasi struktural lebih mengedepankan nilai ekonomi dan membiarkan masyarakat menanggung kerusakan akibat karhutla.
Kategori: Lingkungan dan Energi
Karhutla Meluas hingga Menelan Korban Jiwa, Akumulasi Kejahatan Negara Korporasi?
Karhutla makin meluas dan menelan korban jiwa. Terus berulang dan meluasnya karhutla erat kaitannya dengan ulah korporasi serta izin pemerintah. Karhutla adalah akumulasi kejahatan negara korporasi.
Karhutla Berulang, Perempuan dan Generasi Menanggung Beban Berlapis
Karhutla menyebabkan krisis kesehatan dan sosial. Ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak-anak merupakan kelompok rentan terdampak karhutla. Mereka menanggung beban berlapis. Sungguh, kapitalisme adalah sistem yang destruktif.
Krisis Air Bersih, Bukan Sekadar Faktor Godzila El Nino
Antrean panjang untuk memperoleh air bersih terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Lonjakan bencana kekeringan juga terjadi tahun ini dibandingkan tahun lalu. Miris, perusahaan air minum dalam kemasan tidak kesulitan memperoleh pasokan dan terus berproduksi. Inilah buah pahit tata kelola kapitalistik dalam ekonomi dan lingkungan hidup.
Paradoks Negeri Kaya Batu Bara, tetapi Krisis Pasokan
Negara dengan produksi batu bara yang besar seperti Indonesia semestinya tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan listrik dalam negeri. Namun, realitas menunjukkan kondisi yang paradoks, PLN justru kekurangan batu bara. Ini menunjukkan bahwa krisis pasokan batu bara di Indonesia sesungguhnya bukan sekadar persoalan produksi.
Hantaman El Nino dan Pelemahan Rupiah, Beban Petani Makin Berat
Situasi ekonomi global, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar, serta ancaman kekeringan akibat el nino membawa dampak besar bagi petani dan produksi pertanian. Kelestarian sektor ini kini terancam oleh kombinasi faktor, mulai dari perubahan iklim global, alih fungsi lahan secara masif, degradasi kesuburan tanah, hingga persoalan sosial-ekonomi seperti rendahnya minat generasi muda untuk bertani.
BBM Nonsubsidi dan Elpiji Naik, Kapitalisme Menjadikan Layanan Dasar sebagai Komoditas
Saat ini migas yang sejatinya milik rakyat dikapitalisasi, sedangkan negara hanya berperan sebagai regulator yang mengikuti kepentingan kapitalisme global. Paradigma ini menjadikan BBM dan elpiji sekadar komoditas pasar, bukan layanan dasar yang dijamin negara.
Deforestasi Meningkat Pesat, Realitas Kerusakan Alam yang Difasilitasi
Lonjakan deforestasi di Indonesia pada 2025 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Miris, sebagian besar deforestasi tersebut terjadi secara legal. Sejatinya, peran negara sangat krusial untuk mengatur sekaligus menentukan arah pengelolaan SDA. Namun, arah kebijakan yang diambil justru menunjukkan keberpihakan yang problematik.
Keresahan Konsumen Akibat Kelangkaan BBM, Beban Rakyat Kian Berat
Kelangkaan BBM yang berulang menegaskan pentingnya menghadirkan tata kelola energi yang mampu menjamin ketersediaan, stabilitas, dan pemerataan akses secara berkelanjutan. Dalam hal ini, Islam menawarkan kerangka pengelolaan energi yang bersifat menyeluruh, dimulai dari landasan ideologis hingga implementasi teknis yang terstruktur.
Islam, Masa Depan Kemajuan Tata Kelola Rantai Pasok Energi Global
Apa yang hari ini tampak sebagai krisis energi, perebutan mineral, dan dominasi perdagangan global sejatinya adalah peringatan keras bahwa sudah saatnya umat Islam melepaskan diri dari sistem yang lahir dari akidah yang bertentangan dengan Islam. Di tengah berlimpahnya kekayaan alam dan minerba yang Allah Taala titipkan, banyak negeri muslim justru jatuh pada kondisi yang dikenal dengan istilah kutukan sumber daya.
Diskursus Bencana Antroposentris dan Ekonomi: Becermin dari Sumatra
Menilik dampak cuaca yang disebabkannya, siklon Senyar akan tetap menyebabkan dampak cukup berat terhadap kawasan Sumatra bagian utara, seideal apa pun kondisi lingkungannya. Namun, apakah kemudian tidak ada andil manusia sama sekali dalam kasus ini? Apakah bencana Sumatra semata-mata murni karena kejadian alam? Atau ada bagian dari kerakusan manusia di dalamnya?
Kesehatan Anak-Anak Terancam Akibat Penanganan Pascabencana yang Tidak Komprehensif
Negara tidak total dan serius menangani bencana, padahal bencana membutuhkan respons cepat dan tepat. Pemerintah setengah hati melindungi anak-anak yang merupakan kelompok rentan, sekaligus generasi masa depan bangsa. Penanganan yang lambat ini akan membawa dampak buruk pada masa depan mereka.
