Wagub Jawa Tengah mendukung penuh upaya hilirisasi hasil riset yang diciptakan oleh perguruan tinggi yang dikerjasamakan dengan industri. Menurut aktivis muslimah Hardika Khusnuliawati, S.Kom., M.Kom., kondisi tersebut tidak lepas dari sistem kapitalisme yang menaungi tata kelola riset hari ini.
Tag: industri
[Politik Ekonomi Islam] Politik Industri (Bagian 2/2)
Kita menyerukan pentingnya membangun industri-industri peralatan demi merealisasikan politik ekonomi tertentu (Islam), yaitu menjadikan negara kita sebagai negara industri, baik politik (kebijakan) ini mendatangkan keuntungan atau kerugian, baik kita memiliki pasar di luar negeri atau pun tidak.
[Politik Ekonomi Islam] Politik Industri (Bagian 1/2)
Politik industri ditegakkan untuk menjadikan suatu negara sebagai negara industri. Hal ini ditempuh melalui satu jalan saja, yaitu menciptakan industri alat-alat (industri penghasil mesin) terlebih dulu.
[Politik Ekonomi Islam] Sumber-Sumber Ekonomi (Bagian 19/46)
Pabrik merupakan pilar perindustrian. Menjelaskan hukum-hukum pabrik berarti menjelaskan hukum-hukum perindustrian secara keseluruhan.
[Politik Ekonomi Islam] Sumber-Sumber Ekonomi (Bagian 14/46)
Seseorang yang membangun pabrik, lalu memproduksi barang-barang yang termasuk milik umum, maka statusnya adalah seperti orang yang menanam di tanah orang lain tanpa hak, yakni menanam di atas tanah seseorang tanpa seizinnya.
[Politik Ekonomi Islam] Sumber-Sumber Ekonomi (Bagian 11/46)
Kerusakan muncul bukan karena kepemilikan pabrik sebagai kepemilikan individu, tetapi karena diterapkannya sistem kapitalisme. Hal ini terjadi ketika peningkatan produksi dijadikan sebagai asas sistem serta manusia diberi kebebasan dalam hal kepemilikan dan berusaha.
[Politik Ekonomi Islam] Sumber-Sumber Ekonomi (Bagian 10/46)
Hukum asal kepemilikan industri bersifat individual. Artinya, setiap individu rakyat boleh memiliki industri. Adapun hukum industri adalah mengikuti hasil produksinya.
Paradoks Tingginya Pengangguran pada Era Industrialisasi
Era industrialisasi yang seharusnya mampu menyerap tenaga kerja, nyatanya hanya janji palsu. Ini merupakan paradoks. Sedari dahulu, industri tidak bisa menjadi sektor utama dalam menyerap tenaga kerja. Tidak heran banyak pengamat ekonomi mengatakan bahwa gejala deindustrialisasi telah tampak di negeri ini.
