[Kabar] Hilirisasi Riset Memperkuat Kepentingan Industri, Aktivis: Akibat Kapitalisme!

[Kabar] Hilirisasi Riset Memperkuat Kepentingan Industri, Aktivis: Akibat Kapitalisme!

Muslimah News, NASIONAL — Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin mendukung penuh upaya hilirisasi hasil riset yang diciptakan oleh perguruan tinggi di wilayahnya. Namun, ia mendorong agar hasil riset tersebut dikerjasamakan dengan industri supaya bisa lebih banyak memberikan kebermanfaatan. Hal itu dikatakan Wagub dalam kegiatan Workshop Hilirisasi Paten di kampus Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Kota Semarang, Kamis (18-9-2025).

Kepentingan Industri

Aktivis muslimah Hardika Khusnuliawati, S.Kom., M.Kom. menyampaikan, ada persoalan mendasar, yakni selama ini, arah hilirisasi lebih banyak ditentukan oleh kepentingan industri. “Kondisi tersebut sesungguhnya tidak lepas dari sistem kapitalisme yang menaungi tata kelola riset hari ini. Kapitalisme menempatkan ilmu pengetahuan sebagai instrumen untuk mengejar akumulasi keuntungan. Karena itu, riset yang dianggap bernilai adalah riset yang bisa dikomersialisasi dan menghasilkan profit bagi pemilik modal,” terangnya kepada MNews, Selasa (25-11-2025).

Dari sini, ujarnya, tampak bahwa hilirisasi riset memang diarahkan untuk memperkuat hubungan antara kampus dan industri sehingga inovasi yang lahir dari perguruan tinggi bisa lebih cepat masuk ke ranah komersial.

“Selain itu, persoalan hak kekayaan intelektual (HAKI) juga mengemuka. “Tidak sedikit hasil riset yang sudah dihilirisasi terikat pada paten atau lisensi industri sehingga akses masyarakat luas terhadap teknologi tersebut menjadi terbatas. Padahal, pengetahuan semestinya menjadi solusi terbuka bagi problem bersama,” paparnya.

Sebaliknya, ia menambahkan, riset-riset strategis yang tidak memberikan nilai ekonomi jangka pendek, meski sangat penting bagi masyarakat, cenderung dipinggirkan. “Industri, dengan logika bisnisnya, tentu berorientasi pada profit. Dampaknya, tema-tema riset yang menyentuh kebutuhan vital masyarakat, seperti pengembangan obat untuk penyakit langka, solusi lingkungan berkelanjutan, atau pelayanan publik bagi wilayah terpencil sering kali tersisih,” bebernya.

Sistem Islam

Dalam sistem Islam, ungkap Hardika, riset tidak diarahkan sekadar untuk publikasi, paten, atau keuntungan komersial. “Tujuan utamanya adalah menyelesaikan problem vital umat. Ada dua fondasi yang menjadi dasar. Pertama, riset dijalankan dengan membentuk kepribadian Islam yang kukuh,” ujarnya

Ia menjelaskan, para ilmuwan, insinyur, dokter, hingga pemimpin politik terikat dengan syariat. “Tujuan akhirnya bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan penerapan Islam kafah melalui institusi Khilafah, menjaga persatuan umat, dan membawa risalah Islam ke seluruh dunia,” tegasnya.

Kedua, imbuhnya, riset difokuskan pada kebutuhan nyata masyarakat. “Negara menugaskan universitas, akademi, dan pusat riset untuk menggarap bidang vital, seperti air, pangan, energi, kesehatan, keamanan, hingga pertahanan. Dengan begitu, umat bisa mandiri dan tidak bergantung pada negara lain,” cetusnya.

Menurutnya, dengan kerangka seperti ini dan disertai dengan dukungan dana yang kuat dari negara, riset dalam Islam bukan hanya sarana ekonomi atau gengsi akademik, melainkan pilar bagi kemajuan peradaban Islam dan kesejahteraan umat secara menyeluruh. “Semua ini hanya dapat terwujud dalam negara yang menerapkan Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan termasuk dalam pengaturan riset,” pungkasnya. [MNews/IK]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *