Pelaku bunuh diri didominasi kelompok usia 21–30 tahun. Ini menunjukkan potret kelam krisis kesehatan mental pada generasi muda. Sayangnya, sekularisme menyuburkan sifat asosial yang membuat individu merasa “sendiri di tengah keramaian”. Bagaimana mengurai masalah ini?
Kategori: Opini
Pembelanjaan Harta dalam Fikih Infak
Islam sebagai agama yang sempurna sudah menjelaskan secara terperinci bagaimana cara seorang muslim membelanjakan harta untuk dirinya sendiri maupun orang-orang yang wajib dinafkahi. Peradaban Islam juga meminimalkan penyebab munculnya berbagai kebingungan dan kekeliruan dalam membelanjakan harta.
[Nafais Tsamarat] Mukhlas
Orang yang mukhlas adalah orang yang Allah pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketawakalan mereka.
Zainab binti Khuzaimah, Ibunda Kaum Fakir Miskin (Ummul Masaakiin)
Zainab binti Khuzaimah senantiasa istikamah melakukan kebaikan. Sejak zaman jahiliah hingga menjelang wafat, ia senantiasa menyantuni fakir miskin. Ia juga bersikap lemah lembut dan kasih sayang kepada mereka hingga mendapat julukan sebagai Ummul Masaakiin.
Fenomena Generasi “Maybe Later”, Isyarat Nyata Kelalaian Riayah Negara
Fenomena “maybe later” (“mungkin nanti”) menunjukkan bahwa ketidakpastian ekonomi mulai memengaruhi keputusan-keputusan penting generasi muda. Mereka bukan sekadar menunda satu kebutuhan, tetapi harus menangguhkan langkah yang berkaitan dengan masa depan.
Backlog Perumahan: Tidak Cukup Turun, tetapi Harus Zero
Penurunan backlog kepemilikan rumah seolah-olah merupakan sebuah pencapaian yang positif, padahal semu, karena adanya kontradiksi besar dengan realitas di lapangan. Di satu sisi, angka ini menunjukkan bahwa program pembiayaan hunian dianggap tepat sasaran, tetapi di sisi lain, terjadi kenaikan rasio kredit macet.
Pernyataan “Indonesia Negara Islami”, Cukupkah Hanya dengan Menerapkan Nilai?
Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menegaskan bahwa Indonesia bukan negara Islam, melainkan negara islami yang dibangun di atas nilai-nilai Islam serta kesepakatan para pendiri bangsa. Dalam pandangannya, substansi jauh lebih penting dibandingkan simbol formal. Tepatkah pandangannya tersebut?
Zakat, Popularitas, dan Paradigma Negara
Meski telah diklarifikasi, pernyataan Menag RI bahwa umat perlu “meninggalkan zakat” tetap menyisakan problem epistemologis dan politis. Masalahnya bukan semata pada diksi, melainkan pada paradigma yang melatarinya.
Melemahnya Rupiah Akibat Sistem Ekonomi yang Salah, Saatnya Menerapkan Sistem Ekonomi Islam
Melemahnya nilai tukar rupiah adalah dampak dari tata kelola kebijakan ekonomi yang salah. Menyikapi kondisi ini, dengan hanya bersandar pada sikap sabar dan tawakal tidak akan menyelesaikan masalah. Akar permasalahannya adalah menjadikan sistem ekonomi kapitalisme sebagai landasan kebijakan ekonomi negara.
Di Balik Wacana Penutupan Prodi, Quo Vadis Pendidikan Tinggi?
Terdapat total 122 prodi yang ditutup sepanjang 2026, baik di PTN maupun PTS. Beberapa prodi dihapus dengan alasan jumlah mahasiswanya berkurang, di samping wacana penguatan industrialisasi berbasis sains dan teknologi. Jelas, ini layak memunculkan kritik, sebab kebijakan ini tampak bukan sekadar tuntutan kemajuan teknologi, melainkan arah pendidikan yang mulai bergeser.
Pesta Babi: Orkestrasi Keserakahan Oligarki dan Represi Demokrasi
Film Pesta Babi menuai polemik. Acara nobar film ini mengalami pembatalan dan pembubaran di berbagai daerah, di antaranya karena narasi di dalamnya dianggap provokatif. Realitasnya, Papua saat ini sedang menghadapi deforestasi serius demi keuntungan super besar. Penggundulan hutan Papua menggambarkan keserakahan oligarki.
Konten Viral Freestyle Merenggut Nyawa, Di Mana Tanggung Jawab Negara?
Fenomena konten freestyle yang viral di media sosial memakan korban jiwa, sehingga memicu kekhawatiran banyak pihak. Sayang, kekhawatiran itu hanya berbuah imbauan agar orang tua lebih ketat mengawasi anak-anak. Padahal, di balik persoalan ini ada aspek yang lebih besar, yakni sejauh mana negara hadir melindungi anak-anak dari dampak berbahaya arus digital.
