Penulis: Rif’ah Kholidah W.
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Zainab binti Khuzaimah adalah salah satu ummul mukminin. Ia dilahirkan di Makkah, 13 tahun sebelum Rasulullah saw. diutus menjadi Nabi. Sejak tinggal di Makkah, ia dikenal menyayangi kaum fakir miskin. Ketika cahaya Islam menerangi bumi Jazirah Arab dan Nabi saw. mulai menyampaikan agama agung ini, Zainab binti Khuzaimah termasuk orang yang pertama masuk Islam.
Zainab hidup bersama Islam sejak dalam buaian. Ia menyaksikan langsung upaya kaum muslim yang mengorbankan segala sesuatu demi mempertahankan nikmat tauhid. Kondisi tersebut membuatnya makin kokoh dan teguh memegang keyakinan agamanya. Ia tidak pernah lelah sesaat pun dalam beribadah dan berzikir kepada Allah Taala. Ia selalu menyantuni fakir miskin sehingga dijuluki Ummul Masaakiin (ibunda kaum fakir miskin).
Pakar ilmu nasab, Ali bin Abdul Aziz al-Jurjani mengatakan, sebelum menikah dengan Rasulullah saw., Zainab menikah dengan Thufail. Ia lalu dinikahi oleh saudaranya yang gugur sebagai syuhada, Ubaid bin Harist al-Muththalibi. Sementara itu, Imam Adz-Dzahabi berpendapat bahwa suami pertama Zainab adalah Abdullah bin Jahsy yang gugur dalam Perang Uhud.
Ketika suaminya gugur sebagai syuhada di jalan Allah, Zainab menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah dan rela atas takdir yang diterimanya. Zainab berhati kuat, beriman, dan tawakal. Ia yakin dan percaya penuh kepada Allah Taala. Pada saat itu, ia berfirasat bahwa Allah Swt. akan memberinya seorang pengganti yang lebih baik daripada suami terdahulunya. Akan tetapi, ia tidak tahu calon suaminya yang agung itu. Tidak pernah terlintas sedikit pun dalam hati Zainab bahwa ia akan menjadi istri dari manusia paling agung sepanjang zaman.
Setelah masa iddah Zainab selesai, tiba-tiba Rasulullah saw. datang meminangnya dan mengurus pernikahan mereka. Dalam pernikahan tersebut, Rasulullah saw. memberi mahar kepada Zainab sebesar 400 dirham. Rasulullah saw. juga membangun sebuah rumah sederhana di samping rumah Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar. Kedua wanita mulia ini tidak merasa terusik dengan kedatangan anggota keluarga baru, Zainab binti Khuzaimah. Mereka tidak cemburu dengan sifat-sifat wanita lainnya yang dapat memicu persoalan di antara mereka. Di satu sisi, Zainab juga tidak berhasrat bersaing dengan Aisyah dan Hafshah yang lebih dahulu membangun rumah tangga bersama Rasulullah saw..
Sejak masa jahiliah, Zainab binti Khuzaimah sangat menyayangi kaum fakir miskin. Setelah berislam, kasih sayang dan kepeduliannya kepada kaum papa menguat. Apalagi setelah menjadi istri Rasulullah saw., sifat ini makin kuat. Ini karena ia menyaksikan langsung kasih sayang yang memancar deras dari hati Rasulullah saw. setiap saat. Ia selalu menekankan agar kaum muslim bersedekah kepada fakir miskin. Ia terus menganjurkannya hingga mencapai tahap itsar (mendahulukan kebutuhan orang lain daripada kebutuhan sendiri).
Zainab binti Khuzaimah, semoga Allah meridainya, hidup di bawah naungan kasih sayang, cinta, dan kelembutan. Ia hidup dalam dekapan kehangatan dan keagungan Islam sehingga sangat bahagia. Ia berbelas kasih, bersikap lembut, dan berbuat baik kepada orang-orang miskin. Zainab menghabiskan semua waktunya untuk beribadah kepada Allah Swt., serta menyantuni dan bersedekah kepada fakir miskin. Sifat mulia tersebut membuatnya dikenal sebagai Ummul Masaakiin (ibunda kaum fakir miskin). Ini adalah julukan agung yang menyebarkan semerbak kasih sayang.
Zainab hidup bersama Rasulullah saw. dalam rentang waktu yang sangat singkat. Ia menyibukkan diri dengan banyak beribadah, seperti puasa, salat malam, dan lainnya. Beberapa bulan sejak pernikahannya dengan Rasulullah saw., Zainab menghembuskan napas terakhirnya. Rasulullah saw. kembali bersedih. Kematian Zainab telah mengingatkan beliau kepada kematian Khadijah ra., wanita paling agung. Zainab merupakan istri Nabi saw. yang pertama kali meninggal di Madinah, lalu jasadnya dimakamkan di pemakaman Baqi’.
Zainab binti Khuzaimah meninggal dunia tanpa meriwayatkan hadis dari Nabi saw. karena sangat sibuk mengurus orang-orang miskin. Masa kebersamaannya dengan Rasulullah saw. pun begitu singkat. Demikianlah, kepergian Ummul Masakin yang tidak pernah menyisakan harta. Jika bertemu fakir miskin, ia selalu memberi segala yang dimilikinya. Ia yakin akan mendapatkan gantinya di sisi Allah Swt., apa pun yang diberikan kepada-Nya tidak mungkin sia-sia. Ia memindahkan apa yang dimilikinya di dunia ke akhirat agar dapat meraih kenikmatan surga yang tidak akan pernah terputus dan sirna.
Beberapa pelajaran berharga bisa kita ambil dari kisah Zainab binti Khuzaimah. Pertama, senantiasa istikamah melakukan kebaikan. Zainab binti Khuzaimah, sejak zaman jahiliah hingga menjelang wafat, senantiasa menyantuni fakir miskin. Ia juga bersikap lemah lembut dan kasih sayang kepada mereka hingga mendapat julukan sebagai Ummul Masaakiin.
Kedua, lebih mendahulukan kebutuhan orang lain daripada kebutuhan sendiri hingga mencapai tahap itsar.
Ketiga, mampu mengendalikan dorongan nafsu dan keinginan duniawi sehingga mudah menyedekahkan seluruh harta yang dimilikinya. Bahkan, kepergiannya menghadap Allah Swt. tidak menyisakan harta. Semoga para muslimah mampu meneladan sikap baik dan dermawan Zainab binti Khuzaimah. Wallahualam. [MNews/YG]
______________________________________________
Referensi: Shahabiyyat Haul ar-Rasul jilid 1 hal.227–235, Mahmud Al-Misri, Al-I’tishom, 2006.
