Penulis: Abdurrahman al-Maliki
Muslimah News, TELAAH KITAB — Politik industri ditegakkan untuk menjadikan suatu negara sebagai negara industri. Hal ini ditempuh melalui satu jalan saja, yaitu menciptakan industri alat-alat (industri penghasil mesin) terlebih dulu. Dengan adanya industri alat-alat ini akan tumbuh industri-industri lainnya.
Ini artinya industri alat-alat harus langsung direalisasikan sebelum yang lainnya, yaitu membangun industri-industri yang akan memproduksi alat-alat, seperti mesin (motor) dan yang sejenisnya. Setelah alat-alat produksi dalam negeri tersedia, akan digunakan sebagai persiapan awal untuk membuat industri-industri yang lain.
Tidak ada jalan lain untuk menjadikan negara sebagai negara industri, kecuali dengan memproduksi alat-alat produksi terlebih dulu sebelum yang lain. Setelah itu, tidak melakukan pembangunan pabrik dan industri apa pun, kecuali melalui alat-alat yang diproduksi di dalam negeri.
Ada pendapat bahwa membangun industri peralatan memerlukan waktu lama sehingga kita harus memulai dengan memproduksi kebutuhan-kebutuhan primer. Pendapat itu hanyalah omong-kosong dan intrik belaka. Maksud sebenarnya adalah untuk memperlambat industri peralatan dan memalingkan negara ke industri-industri (barang) konsumtif. Akibatnya, negara itu senantiasa menjadi pasar bagi industri Eropa dan Amerika. Realitas pendapat ini adalah dusta belaka.
Ketika kekaisaran Rusia keluar dari Perang Dunia I, mereka masih bergantung pada Eropa dan belum memiliki industri peralatan. Diceritakan bahwa Lenin diminta memperbaiki produksi pertanian Rusia dengan mendatangkan peralatan (mesin) pembajak tanah (traktor dan buldoser) agar pengerjaan pertanian dijalankan dengan peralatan modern. Ia menjawab, “Kita tidak akan menggunakan traktor sampai kita mampu memproduksinya sendiri.” Tidak lama kemudian, di Rusia telah ada industri peralatan. Bahkan, sekarang Rusia menjadi negara produsen utama industri peralatan ruang angkasa.
Ada juga pendapat yang bertujuan memutarbalikkan fakta dan penipuan bahwa memproduksi peralatan membutuhkan terwujudnya lingkungan industri yang terdiri dari para insinyur, pekerja teknik, dan lainnya. Ini karena negara-negara Eropa Timur dan Barat memiliki surplus para insinyur dan pekerja teknik sehingga memungkinkan untuk mendatangkan ratusan orang dan mereka secepatnya mulai produksi. Dalam waktu yang sama, mungkin untuk mengirim ratusan, bahkan ribuan para pemuda kita untuk belajar teknik industri berat dan industri baja, hal ini semudah membalikkan telapak tangan.
Pendapat bahwa kita harus memulai dengan industri-industri yang sangat kita perlukan, seperti industri tekstil, kertas, sutera mentah, dan lainnya, adalah pendapat yang batil. Maksud sebenarnya adalah pembiusan dan penyesatan dari jalan yang benar. Untuk itu, tidak selayaknya kita memfokuskan perhatian pada industri-industri konsumtif. Hendaknya kita memfokuskan perhatian kepada pengadaan industri peralatan (industri berat), bukan lainnya.
Kita benar-benar merasakan bahwa negara-negara Barat melakukan berbagai penipuan dan penyesatan untuk memalingkan negeri-negeri Islam dari industri peralatan. Mereka juga mencegah agar negeri-negeri Islam tidak menjadi negeri industri. Banyak buku tentang ekonomi telah diterbitkan khusus membicarakan tentang pertumbuhan ekonomi di Timur Tengah.
Pengemasan buku-buku membuat publik yakin bahwa mereka harus menempuh beberapa fase hingga masuk pada fase kemajuan industri. Di antara buku-buku itu, ada buku terburuk berjudul Fase-fase Pertumbuhan Ekonomi. Buku ini mengingatkan bahwa masyarakat harus menempuh fase masyarakat tradisional, pencairan, kematangan, lalu konsumsi rakyat (masyarakat) yang tinggi.
Ketika negara melewati fase tertentu, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Penerbitan buku ini bertujuan buruk, yakni mencegah terjadinya revolusi industri. Keyakinan seseorang bahwa ia harus menempuh fase-fase tersebut, berarti keberhasilan Barat memalingkan manusia dari revolusi industri. Pada dasarnya semua itu tidak dapat dipecahkan, kecuali dengan revolusi industri.
Revolusi industri memegang kendali industri yang penting. Sumbernya adalah industri peralatan dengan aktivitas radikal dalam usaha mencapai produksi. Revolusi industri berarti tidak menyibukkan diri dengan industri dan aktivitas ekonomi apa pun sebelum berhasil memegang kendali industri terpenting. Memfokuskan semua kekuatan ekonomi untuk pengadaan industri peralatan dan hanya melakukan hal penting yang dibutuhkan dalam mewujudkan industri peralatan.
Banyak faktor pendorong agar industri peralatan dalam negeri segera diwujudkan. Timur Tengah, misalnya, tidak memiliki industri-industri peralatan sehingga mengimpor peralatan yang dibutuhkan dari Eropa dan Amerika. Timur Tengah hanya fokus pada pembangunan industri-industri konsumtif, padahal merupakan pasar yang menguntungkan.
Dilihat dari aspek perdagangan, sangat penting mempercepat terwujudnya industri-industri peralatan untuk menghadapi pasar terbuka. Sebabnya, kita tidak mungkin mampu bersaing jika tidak memiliki industri peralatan (industri berat). Industri-industri yang kita miliki, baik semua atau sebagiannya, merupakan alat (instrumen) yang mudah rusak sehingga kita terpaksa mengimpor dari luar negeri.
Membeli berbagai industri dan alat dari luar negeri akan membebani kita karena barang-barang tersebut dijual kepada kita dengan harga tinggi. Seharusnya anggaran untuk biaya-biaya tersebut digunakan untuk membangun industri peralatan.
Jika membangun sendiri industri-industri peralatan, kita akan mendapatkan berbagai industri dan alat dengan biaya lebih murah daripada kita membelinya ke Eropa dan Amerika. Sebenarnya masih banyak lagi faktor yang mendorong kita agar segera membangun industri-industri peralatan sendiri. [MNews/RY-YG]
Sumber: Abdurrahman al-Maliki, Politik Ekonomi Islam.

One thought on “[Politik Ekonomi Islam] Politik Industri (Bagian 1/2)”