[Politisi Transformatif] Mematangkan Emosi (Bagian 2/4)

[Politisi Transformatif] Mematangkan Emosi (Bagian 2/4)

Penulis: MR Kurnia, dkk.

Sambungan dari “Mematangkan Emosi” Bagian 1/4

Muslimah News, TELAAH KITAB — Tidak patut kita memungkiri sama sekali adanya lintasan hati seperti tadi (baca: Bagian 1/4). Justru yang perlu dilakukan adalah mengarahkannya sehingga muncul upaya untuk mengunggulinya dengan tetap sabar berada dalam perjuangan. Caranya dengan senantiasa mengingat janji Allah Swt. yang akan diberikan kepada kita, baik di dunia maupun di akhirat, setiap kali kita memenuhi kebutuhan fisik (hâjatul ‘udhawiyah) dan naluri (garizah).

Allah Swt. telah mengajarkan dalam firman-Nya, “Dan sungguh, akhirat itu lebih baik bagi engkau daripada kehidupan sebelumnya (dunia).” (QS Adh-Dhuha: 4).

Misalnya, ketika kita makan di warung Tegal, mungkin terlintas ingin juga seperti orang lain yang makan di restoran besar. Ingatlah, Allah Swt. membedakan rezeki pada masing-masing orang (QS An-Nahl: 71). Kalau kita mampu makan di restoran besar, tidak apa. Namun, jika tidak, ingatlah saat itu bahwa makan adalah aktivitas untuk mendapatkan kesehatan agar bisa beribadah dengan baik kepada Allah yang Maha Kuasa.

Apabila kita beribadah secara total serta memperjuangkan agama Allah Swt., niscaya kelak akan dimasukkan ke surga dengan diberi rezeki tanpa terhitung banyaknya. Allah Swt. berfirman, “Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka ia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga. Mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga. (QS Ghafir: 40).

“Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa, di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamar (anggur yang tidak memabukkan) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai madu yang murni. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka. Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga ususnya terpotong-potong?” (QS Muhammad: 15).

“Mereka dikelilingi oleh anak-anak yang selalu muda. Dengan (membawa) gelas, kendi, dan seloki (berisi minuman yang diambil) dari sumber yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. (Mereka menyuguhkan pula) buah-buahan yang mereka pilih dan daging burung yang mereka sukai.” (QS Al-Waqi’ah: 17—21).

Kerinduan untuk menikmati semua itu makin bertambah. Oleh karenanya, kesabaran dalam berjuang menegakkan agama Allah Swt. harus makin meningkat. Begitu pula ketika kita merebahkan badan di tempat tidur. Boleh jadi kasur yang kita tempati sangat empuk lagi mahal atau sebaliknya, kecil lagi kempis. Bahkan, sebagian kita tidur tanpa beralaskan kasur. Saat demikian, ingatlah bahwa betapapun bagusnya tempat tidur yang kita miliki, kita pasti rindu untuk mendapatkan tempat tidur yang dijanjikan Allah Swt., “Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.” (QS Al-Waqi’ah: 15—16).

Seorang pengemban dakwah yang belum mendapatkan jodoh, ini tidak menjadi persoalan baginya. Begitu juga pengemban dakwah pada saat menikah, ia merasa gembira. Namun, hal ini tidak segembira apabila mendapatkan bidadari yang dijanjikan Allah Taala. Mereka rindu untuk mendapatkan bidadari di surga.

“Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.” (QS Ath-Thûr: 20).

la pun segera sadar, semua itu hanya diperuntukkan bagi orang yang taat kepada Allah Swt., serta terus berjuang menegakkan agama-Nya. Oleh karenanya, baik pada saat belum dapat jodoh, ditinggal istri atau suami, maupun pada waktu acara pernikahan yang menggembirakan, ia tetap sabar dalam taat dan perjuangan fi sabilillah. Fokus pikirannya tertuju pada janji Allah Swt. itu.

Bukan sekadar itu. Saat sedang penggembar-gemboran RUU antiterosme, siapa saja yang diduga atau patut diduga berbuat tindakan teroris, mereka dapat dihukum tanpa pengadilan ataupun pembuktian. Padahal, teroris yang dimaksud lebih diarahkan kepada mereka yang hendak menegakkan syariat Islam sekalipun tanpa kekerasan. Menghadapi realitas demikian wajar saja jika siapa pun, termasuk pengemban dakwah, merasa takut.

Kewajaran ini lahir dari adanya naluri mempertahankan diri (garizah baqa) yang ada pada setiap orang. Oleh karenanya, tidak mustahil jika sebagian orang nyalinya menciut seraya meninggalkan perjuangan menegakkan Islam. Akan tetapi, tidak demikian dengan mereka yang sadar akan hakikat hidupnya. Ketika rasa takut ini muncul, ia segera ingat kepada janji Allah Syadidul ‘Adzāb. AllahSwt. berfirman, “Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thâha: 124).

Begitu pula firman-Nya, “… Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS Al-Hastyr: 7).

Muncullah rasa takut akan siksa Allah Swt. yang jauh lebih dahsyat daripada rasa takutnya kepada manusia. Konsekuensinya, meskipun ada ancaman bagi orang-orang yang memperjuangkan Islam, ia bergeming, apalagi lari dari ketaatan dan perjuangan. la tetap sabar menapaki perjuangan demi tegaknya Islam.

Demikianlah, dengan senantiasa mengingat janji Allah Swt. saat memenuhi kebutuhan fisik (hajatul ‘udhawiyah) dan naluri (garîzah), insyaallah kita akan makin mengokohkan kesabaran dalam berjuang. Cobalah apabila Anda ingin merasakannya!

Kedua, yakinlah bahwa keberhasilan akan datang. Beberapa waktu yang lalu, ada seorang tokoh nasional yang menyatakan, “Saya sudah berjuang untuk Islam tiga puluh tahun lebih, tetapi perjuangan saya gagal!” Pernyataan demikian wajar saja terjadi. Di satu sisi dapat dibaca betapa besarnya keinginan untuk segera berhasil. Namun, di sisi lain dapat dipahami betapa besarnya tantangan yang dihadapi. Sementara itu, usia makin senja.

Hal serupa dapat pula menimpa mereka yang masih muda. Bayangkan, apabila setelah belasan tahun berdakwah pendukung belum mencapai 1 juta orang (0,5% dari penduduk Indonesia). Perubahan yang kasatmata pun belum dapat disaksikan secara mudah dan tantangan makin besar. Apa lagi dipadu oleh gangguan setan berwujud manusia yang meragukan keberhasilan tegaknya Islam. Jiwa mulai lelah dan tidak sabar. Bahkan, frustasi pun datang menjelang.

Kenyataan seperti itu tidak perlu disikapi dengan sewot. Sebabnya, memang kadang kala manusia bersifat demikian. Allah Swt. berfirman, “Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS Al-Isra: 11).

Gejala demikian umum terjadi, bahkan pada para sahabat Nabi sekalipun. Allah Swt. berfirman, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS Al-Baqarah: 214).

Keberhasilan belum mereka raih. Dalam keadaan demikian, dalam ayat yang sama, Allah Swt. memberi tahu bahwa pertolongan Allah itu amat dekat. Keberhasilan segera datang. Rasul dan sahabatnya, tentu saja meyakini hal ini. Beliau yakin jalan yang ditempuhnya benar. Keberhasilan tinggal menunggu waktunya. Ketika Allah Swt. memberikannya, saat itulah keberhasilan diraih. [MNews/RY-YG]

Sumber: MR Kurnia, dkk, Meretas Jalan Menjadi Politisi Transformatif.

Bersambung ke “Mematangkan Emosi” Bagian 3/4.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *