[Politisi Transformatif] Melejitkan Valensi Diri (Bagian 3/3)

[Politisi Transformatif] Melejitkan Valensi Diri (Bagian 3/3)

Penulis: MR Kurnia, dkk.

Sambungan dari “Melejitkan Valensi Diri” Bagian 2/3

Muslimah News, TELAAH KITAB — Adapun zuhud dalam memerangi setan, maka pertama-tama kita bertaawuz (mengucapkan a’udzu billahi minasy syaithanir rajîm) dengan lisan dan disadari dalam hati. Jika setan masih mengganggu, tekadkan dengan kuat untuk terus memeranginya dengan cara tidak memperturutkan kehendaknya.

Sementara itu, nafsu ibarat kuda binal. Apabila dibiarkan, ia akan kabur entah ke mana. Namun, apabila dikendalikan, ia akan patuh kepada kusirnya. Kendali hawa nafsu adalah takwa. Dengan didasari takwa inilah, mata akan dijaga agar tidak memandang sesuatu yang haram (QS An-Nûr: 31—32), telinga dicegah mendengarkan perkataan dosa dan tidak berguna, serta lidah pun tidak akan bicara seenaknya.

Dengan zuhud seperti itu, insyaallah, dorongan untuk ibadah sangatlah kuat. Dari dalam diri mendorong, teman pun mendukung.

Keempat, jangan takut kekurangan rezeki. Sesungguhnya musibah, kesengsaraan, dan kebahagiaan, semua itu adalah ujian. Rezeki menguji manusia apakah ia sabar pada saat rezekinya sedikit dan apakah ia akan bersyukur ketika rezekinya banyak. Ketetapan Allah Swt. atas hal ini sudah jelas sebagaimana firman-Nya dalam ayat berikut, “Dan janganlah kalian membunuh mereka (anak-anakmu) karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu.” (QS Al-Isra’: 31).

“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS Adz-Dzâriyat: 22).

Musibah, kesengsaraan, dan ujian tidak akan menimpa kita, kecuali apa yang ditetapkan oleh Allah kepada kita. Hadapilah semua itu dengan kesabaran. Yakinlah bahwa semua itu merupakan yang terbaik bagi kita. Namun, walaupun demikian, kita harus berusaha menghindarinya. Ingatlah, semua itu tentu ada hikmah baiknya bagi kita. Pilihan Allah tentu yang terbaik.

Coba renungkan hal berikut ini! Andai kata ada orang yang berkata kepada Anda bahwa segala urusan Anda akan ditanggung olehnya dan diatur sesuai kemaslahatan Anda. Anda disuruh menyerahkan segala urusan Anda kepadanya. Sedangkan orang yang berkata itu adalah orang yang paling luas ilmu dan kebijaksanaannya, paling kuat dan berkuasa, serta paling benar. Kalau demikian, niscaya Anda akan senang dan berterima kasih kepadanya. Tentu Anda yakin, ia tidak akan memilihkan sesuatu yang jelek. Coba renungkan, apakah kita kurang percaya kepada Allah sampai-sampai kita tidak mau menyerahkan urusan kepada-Nya? Siapakah yang lebih sayang, lebih tahu, lebih kuasa, dan lebih kaya daripada Allah?

Kelima, harus khauf dan raja’. Untuk menjaga diri dari maksiat, nafsu kita harus dididik dengan khauf, yaitu merasa takut terhadap siksa Allah Taala. Dengan demikian, kita akan terdorong selalu taat kepada-Nya. Di samping khauf, juga perlu raja’, yaitu merasa penuh harapan mengingat kemurahan Allah dan merasa tenteram mengingat luasnya rahmat Allah Taala.

Seperti halnya seorang petani tetap rajin bekerja di tengah terik matahari atau disela-sela derasnya hujan karena punya harapan akan menuai hasil tanamannya kelak. Khauf dan raja’ ini dapat diperoleh dengan mengingat hal-hal berikut.

a) Firman-firman Allah yang dapat menimbulkan khauf dan raja’.

b) Murka dan ampunan Allah Taala.

c) Balasan Allah kepada hamba-Nya yang berupa pahala dan siksa.

Keenam, jangan bersikap ria dan ujub. Ria artinya beramal karena mengharapkan keuntungan dunia atau tidak diniatkan lillahi ta’ala. Ini seperti beramal karena ingin dipuji, dihormati, disenangi, atau mendapatkan harta benda lainnya. Kebalikan ria adalah ikhlas, yaitu beramal karena mengharap rida Allah semata. Ikhlas berarti pula tidak menghiraukan senang atau tidak senangnya pandangan manusia.

Ria dan ikhlas memang pekerjaan hati. Oleh karenanya, berhati-hatilah dan berusahalah agar tetap memiliki hati yang bersih dari tujuan-tujuan selain lillahi ta’ala. Selain itu, jagalah jiwa dari rasa ujub. Ujub berarti merasa diri memiliki sifat-sifat yang serba sempurna.

Rasa ujub sebenarnya hanyalah hak Allah karena Allah yang Maha Sempurna dalam segala hal. Manusia dengan pangkat apa pun dan kedudukan setinggi apa pun tetap bukanlah makhluk yang berhak untuk merasa ujub.

Ketujuh, memuji dan bersyukur kepada Allah Taala. Memuji dan bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang diberikan-Nya akan makin menambah kenikmatan itu kepada kita. Bersyukur merupakan satu ciri penghambaan seorang hamba. Selain itu, syukur mencirikan kebutuhan hamba akan kelanggengan dan pertambahan nikmat yang selama ini diterimanya.

Allah Swt. berfirman, “Dan ingatlah ketika Rabb-mu memaklumkan, ‘Sesungguhnya apabila kamu bersyukur, pasti Kami akan menambahkan nikmat kepadamu. Dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS Ibrahim: 7).

Betapa sombongnya orang yang telah beribadah, tetapi tidak bersyukur. Seseorang yang dapat melakukan ibadah, sementara itu banyak orang tidak mampu melakukannya, bukankah ini suatu nikmat besar yang patut disyukuri?

Saat seseorang bersyukur, ia akan terdorong untuk melakukan syukur berikutnya. Sebabnya, ia dapat bersyukur, sementara itu banyak orang tidak mampu bersyukur kepada-Nya, ini merupakan suatu nikmat pula.

Apabila semua ini telah dimiliki oleh siapa pun secara penuh, terlebih-lebih para pengemban dakwah, niscaya ia akan menjelma menjadi seorang pejuang Islam (mujahid), sekaligus sebagai ahli ibadah (muta’abid). Setiap langkah perjuangannya padat berisi amal-amal kebaikan. [MNews/RY-YG]

Sumber: MR Kurnia, dkk., Meretas Jalan Menjadi Politisi Transformatif. 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *