Muslimah News, INTERNASIONAL — Amerika Serikat (AS) membekukan semua pemrosesan visa untuk 75 negara, termasuk Somalia, Rusia, Iran, Afganistan, Brasil, Nigeria, dan Tailan di antara negara-negara yang terkena dampak penangguhan tanpa batas waktu mulai Rabu (21-1-2026). Menyikapi hal tersebut, aktivis muslim Pakistan Bilal al-Muhajir menyampaikan, AS dibangun di atas tanah jajahan yang luas setelah membunuh penduduk asli, yaitu penduduk asli Amerika yang berjumlah lebih dari seratus juta jiwa sejak sebelum penjajahan orang kulit putih di tanah tersebut sekitar 300 tahun yang lalu.
“Setelah menjarah kekayaan negari-negari muslim dan negara-negara Dunia Ketiga, Amerika ingin ‘mencuri’ kaum elite yang cerdas dari generasi muda yang berpendidikan. Dengan kata lain, Amerika ingin menjadikan mereka budak korporatnya. Sebagian besar generasi pemuda dan pemudi ini tidak menyadari, penurunan ekonomi ini disebabkan oleh Amerika,” paparnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Ahad (18-1-2026).
AS, ungkapnya, tidak ingin mencegah orang berimigrasi ke negaranya sepenuhnya. “Negara Amerika tidak kalah brutal, biadab, dan kriminalnya dibandingkan para penakluk kuno yang hanya dikenal umat manusia dari film-film thriller Hollywood. Namun, meskipun sebagian besar kekayaan dunia terkonsentrasi di sana, kemiskinan di AS lebih tinggi daripada di negara-negara yang dieksploitasi dan dijarah,” ucapnya.
Ia menyampaikan, daripada membiarkan para pemuda dan pemudi berkeliaran tanpa tujuan dan “menceburkan diri ke laut” mencari kehidupan yang layak di negara-negara Barat, biarlah mereka terlebih dahulu menyadari bahwa mereka tidak akan menemukan apa yang mereka impikan di negara mana pun di bumi. “Biarlah mereka menghindari kesulitan untuk mencoba dan memverifikasi fakta ini, dan biarlah mereka bekerja untuk membebaskan negara mereka sendiri dari kolonialisme Barat dan penjarahan sumber daya mereka” paparnya.
Menurutnya, negara yang adil dan sejahtera hanya dapat dicapai di bawah negara keadilan dan kebenaran, Negara Islam yang menerapkan syariat Sang Pencipta, Allah Swt., bukan hukum monster manusia, hukum Paman Sam, dan cucunya Trump. “Hanya Khilafah (Kekhalifahan) yang akan memungkinkan seluruh umat manusia untuk berbagi kekayaan yang telah Allah Swt. berikan kepada mereka semua dengan menekankan pemisahan antara harta publik, harta pribadi, dan harta negara,” pungkasnya. [MNews/IK]
