Antrean BBM di Sulawesi, Negara Menyusahkan Rakyat?

Antrean BBM di Sulawesi kerap terjadi dan terulang lagi. Penyebabnya adalah masalah yang jauh lebih mendalam daripada sekadar kendala distribusi teknis. Krisis berulang ini adalah bukti nyata dari kebijakan negara yang “menyusahkan rakyat” akibat pergeseran fungsi pelayanan menjadi paradigma bisnis.

Selengkapnya

Share

[Kabar] Pertalite Tidak Naik, tetapi Pertamax Naik, Pemerhati: Memperlihatkan Watak Tata Kelola Kapitalisme

Menyikapi harga Pertalite yang tidak naik, tetapi BBM nonsubsidi mengalami kenaikan, pemerhati kebijakan publik Maiyesni Kusiar, M.Si. menyampaikan, ini sangat problematis dan menunjukkan watak tata kelola sistem kapitalisme.

Selengkapnya

Share

Desil sebagai Acuan Subsidi BBM, Negara Makin Lepas Tangan

Pemerintah bersiap memperketat akses terhadap BBM bersubsidi jenis Pertalite berdasarkan desil dengan alasan agar subsidi lebih tepat sasaran. Padahal, pembatasan berdasarkan desil tidak benar-benar menjamin subsidi tepat sasaran dan mencegah pembengkakan APBN. Sebaliknya, justru menunjukkan negara makin lepas tangan dalam memenuhi kebutuhan energi rakyat.

Selengkapnya

Share

Antrean BBM Mengular, Cermin Gagalnya Negara

Antrean panjang BBM mengular di berbagai wilayah Indonesia akibat lonjakan konsumsi BBM bersubsidi. Semua ini terjadi karena tata kelola migas menggunakan paradigma kapitalistik. Negara sekadar menjadi regulator, bahkan tunduk pada mekanisme pasar. Sumber daya energi yang seharusnya menjadi milik rakyat berubah menjadi komoditas pasar.

Selengkapnya

Share

Pertamax Naik, Rakyat Tercekik

Pemerintah resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi, padahal kenaikan BBM jelas memukul ekonomi rakyat. Jika dihitung, subsidi BBM 2025 hanya 10% dari anggaran MBG 2026. Artinya, negara sebenarnya punya cukup dana untuk menyubsidi BBM, tetapi hal itu tidak dilakukan karena subsidi dianggap beban. Inilah watak negara kapitalis.

Selengkapnya

Share

BBM Nonsubsidi dan Elpiji Naik, Kapitalisme Menjadikan Layanan Dasar sebagai Komoditas

Saat ini migas yang sejatinya milik rakyat dikapitalisasi, sedangkan negara hanya berperan sebagai regulator yang mengikuti kepentingan kapitalisme global. Paradigma ini menjadikan BBM dan elpiji sekadar komoditas pasar, bukan layanan dasar yang dijamin negara.

Selengkapnya

Share

Liberalisasi Migas Sektor Hilir, Asing dapat Cuan, Rakyat Dikorbankan?

Pemerintah berencana menghapus bahan bakar minyak (BBM) beroktan rendah jenis Premium dan Pertalite secara bertahap mulai 2022. Hal ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbon dan menuju energi hijau yang ramah lingkungan. Namun, apakah tujuan tersebut menjadi satu-satunya alasan?

Selengkapnya

Share