Utang Negara Membengkak, Beban Rakyat Makin Berat

Utang pemerintah makin membengkak hingga mencapai Rp10.293,69 triliun. Setiap orang menanggung utang negara sebesar Rp35.702.000. Defisit APBN terus ditutup dengan utang baru, sementara pajak rakyat dinaikkan untuk membayar bunga utang yang bahkan lebih besar dari anggaran kesehatan. Utang tidak hanya membebani rakyat, tetapi juga berbahaya bagi negara karena menggadaikan kedaulatan negara.

Selengkapnya

Share

[Politik Ekonomi Islam] Utang dalam Pandangan Syariat (Bagian 3/3)

Bagi negara, berutang adalah mubah dalam satu keadaan saja, yaitu jika di baitulmal tidak ada harta. Kepentingan yang mengharuskan negara hendak berutang adalah termasuk perkara yang menjadi tanggung jawab kaum muslim. Untuk kepentingan selainnya, negara tidak boleh berutang secara mutlak.

Selengkapnya

Share

[Politik Ekonomi Islam] Utang dalam Pandangan Syariat (Bagian 1/3)

Terkait individu, hukum utang adalah mubah. Oleh karena itu, tiap-tiap individu boleh berutang kepada siapa saja yang dikehendaki sejumlah yang diinginkannya. Hanya saja, jika utang atau bantuan-bantuan ini membawa bahaya, utang itu diharamkan.

Selengkapnya

Share

[Politik Ekonomi Islam] Bahaya Utang Luar Negeri (Bagian 1/2)

Sesungguhnya utang luar negeri untuk pendanaan proyek-proyek adalah cara paling berbahaya terhadap eksistensi suatu negara. Hal itu justru memperpanjang penderitaan akibat bencana yang menimpa umat, juga merupakan jalan untuk menjajah suatu negara.

Selengkapnya

Share

Menambah Utang pada APBN 2026, Indonesia Masuk Jebakan Utang

Pemerintah berencana menambah utang lagi. Ini adalah konsekuensi pengelolaan APBN ala kapitalisme, dengan pajak dan utang sebagai sumber utama pemasukan negara. Masalahnya, jumlah utang negara makin membengkak karena ribawi. APBN akhirnya tergerus untuk membayar utang. Bagaimana solusinya menurut Islam?

Selengkapnya

Share

[Editorial] Akankah Indonesia Tangguh, Mandiri, dan Sejahtera dengan Modal Pajak dan Utang?

kita layak mempertanyakan, mungkinkah terwujud visi Indonesia tangguh, mandiri, dan sejahtera, sedangkan negara sudah ada di ambang kebangkrutan hingga rakyatnya terus dikorbankan? Mungkinkah rakyat hidup bahagia, sedangkan penguasanya menjadi “si raja tega” dengan menggadaikan aset-aset milik rakyatnya, memalak mereka dengan berbagai jenis pajak, dan menyerahkan layanan hak-hak dasar mereka untuk dikapitalisasi oleh para pengusaha?

Selengkapnya

Share