Nestapa Peternak Rakyat dalam Cengkeraman Kapitalisme

Fenomena anjlok dan melonjaknya harga pangan di negeri ini telah bertransformasi menjadi penyakit kronis yang berulang secara siklis. Fluktuasi harga menjadikan peternak kecil dipaksa hidup dalam ketidakpastian yang ekstrem. Ini bukan fluktuasi pasar yang wajar, melainkan kegagalan sistemis dari sebuah tata kelola pangan nasional yang cacat.

Selengkapnya

Share

Mendudukkan Pernyataan ”Allah Menjamin Rezeki” saat Rupiah Melemah

Tata kelola ekonomi kapitalisme telah menyebabkan menurunnya nilai rupiah yang berdampak kehidupan masyarakat makin sulit. Menasihati masyarakat untuk semata pasrah pada Allah saat krisis ekonomi melanda, dengan pernyataan “Allah menjamin rezeki”, seakan-akan menjadikan Sang Pencipta sebagai tameng untuk menutupi kesalahan tata kelola ekonomi negara.

Selengkapnya

Share

Pertamax Naik, Rakyat Tercekik

Pemerintah resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi, padahal kenaikan BBM jelas memukul ekonomi rakyat. Jika dihitung, subsidi BBM 2025 hanya 10% dari anggaran MBG 2026. Artinya, negara sebenarnya punya cukup dana untuk menyubsidi BBM, tetapi hal itu tidak dilakukan karena subsidi dianggap beban. Inilah watak negara kapitalis.

Selengkapnya

Share

Pemadaman Listrik Berulang, Alarm Krisis Tata Kelola Energi Negara

Pemadaman listrik melanda sejumlah wilayah. PLN menyebut pemadaman dilakukan untuk menjaga keandalan sistem melalui penguatan jaringan. Keluhan warga bukan sekadar listrik padam, melainkan minimnya informasi mengenai penyebab gangguan. Ini membuka tabir akar persoalan listrik, bahwa sistem ekonomi kapitalisme memperlakukan listrik sebagai komoditas, bukan hak rakyat.

Selengkapnya

Share

Harga Telur Terjun Bebas, Kedaulatan Pangan Amblas

Anjloknya harga telur ayam terjadi karena produksi yang melimpah tidak diimbangi dengan penyerapan pasar. Peternak pun merugi, belum lagi wacana masuknya investor asing yang bisa menekan peternak lokal. Ini adalah cermin rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme yang menempatkan pangan sebagai komoditas pasar, bukan hak dasar rakyat.

Selengkapnya

Share

Krisis Kedelai, Tahu dan Tempe Masihkah Murah?

Harga kedelai di Indonesia naik sebagai imbas kenaikan pada tingkat global. Kenaikan harga kedelai berdampak pada harga produk olahannya, yaitu tahu dan tempe. Miris, Indonesia masih impor kedelai sebagai bahan baku. Pemerintah juga tampak kurang serius melakukan swasembada kedelai, padahal tahu dan tempe merupakan makanan “sejuta umat”.

Selengkapnya

Share

Pesta Babi: Orkestrasi Keserakahan Oligarki dan Represi Demokrasi

Film Pesta Babi menuai polemik. Acara nobar film ini mengalami pembatalan dan pembubaran di berbagai daerah, di antaranya karena narasi di dalamnya dianggap provokatif. Realitasnya, Papua saat ini sedang menghadapi deforestasi serius demi keuntungan super besar. Penggundulan hutan Papua menggambarkan keserakahan oligarki.

Selengkapnya

Share

Ramai-Ramai Hengkang dari Marketplace, Monopoli Sesuka Hati para Korporat Digital

Platform digital saat ini mengendalikan perilaku pasar sehingga menciptakan ketergantungan yang berujung monopoli. Mereka juga menjadi pengendali utama model transaksi daring. Korporat digital memiliki kuasa untuk menentukan biaya transaksi dan menaikkannya sehingga merugikan penjual, termasuk UMKM.

Selengkapnya

Share

Day Care, Kapitalisasi Pengasuhan di Tengah Eksploitasi Ibu Pekerja

Day care menjadi lahan bisnis yang marak seiring makin banyaknya perempuan pekerja. Sekilas, day care adalah pilihan logis. Padahal, sesungguhnya eksploitasi perempuan pekerja terus berlangsung. Negara pun tidak benar-benar hadir memberikan kesejahteraan. Para ibu harus turut serta menopang ekonomi keluarga, sementara tuntutan pengasuhan adalah tanggung jawab utama.

Selengkapnya

Share

Tragedi Berulang Kecelakaan Kereta Api, Masalah Sistemis, Bukan Sekadar Teknis

Kecelakaan kereta api terjadi berkali-kali dalam beberapa waktu terakhir. Di antara penyebabnya adalah keberadaan perlintasan sebidang tanpa penjagaan, padahal perlintasan sebidang itu rawan kecelakaan. Jika kita mencermati lebih dalam, ada persoalan sistemis dalam tata kelola perkeretaapian, bukan sekadar teknis.

Selengkapnya

Share