Awal September ini, setidaknya ada 2.000-an korban baru kasus keracunan MBG yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Alhasil, total korban sejak program ini diluncurkan mencapai 50 ribu orang! Banyaknya kasus menunjukkan bahwa problem yang terjadi bukan semata teknis administratif. Namun, mengapa pemerintah ngotot proyek ini dilanjutkan?
Penulis: Muslimah News
[Kabar] Pengamat: Kapitalisme-Demokrasi Biang Keladi Karhutla Meluas yang Mengancam Kesehatan Publik
Tokoh muslimah Riau sekaligus pengamat kebijakan publik Dr. Rini Syafri menyampaikan, karhutla bukan sekadar bencana alam biasa, melainkan dampak langsung dari sistem ekonomi dan politik yang korup. “Kapitalisme-demokrasi adalah biang keladi karhutla meluas yang berdampak nyata mengancam kesehatan publik,” ucapnya.
[Kabar] Banyak Korban Meninggal Saat Gempa NTT, Pemerhati: Ini Kelalaian Penguasa!
Banyaknya korban meninggal akibat tertimpa reruntuhan saat terjadi gempa di NTT dinilai oleh pemerhati kebijakan publik Iin Eka Setiawati sebagai kelalaian penguasa. “Jelas, bukan gempa yang membunuh, tetapi tangan penguasa yang lalai dengan politik perumahan kapitalistik,” tuturnya.
[Kabar] Pengamat: Berapa pun Besarnya Anggaran, Tidak Akan Menghasilkan Kesejahteraan Selama Sistemnya Bermasalah
Pengamat ekonomi Nida Saadah, S.E., Ak., M.E.I., menyatakan, seberapa pun besarnya anggaran pada APBN, selama sistemnya bermasalah, maka bisa dipastikan tidak akan menghasilkan keadilan dan kesejahteraan bagi semua rakyat.
[Kabar] Karhutla Mengganggu Hak Pendidikan Siswa, Pemerhati: Negara Tidak Mampu Mengelola Pencegahan
Pemerhati pendidikan dan remaja Diansyah Novi Susanti, S.Pt. menerangkan, di balik kerugian ekologis dan ekonomi yang masif akibat, ada korban paling rentan yang kerap dikorbankan, yakni hak para siswa atas pendidikan dan kesehatan fisiknya. Berikut penjelasannya.
[Kabar] Pembaruan Buku Ajar, Pemerhati: Kebijakan Cacat Prioritas!
Pemerhati kebijakan pendidikan Noor Afeefa menyatakan, pembaruan buku pelajaran sekolah dari SD hingga SMA sebagai kebijakan cacat prioritas. Menurutnya, banyak perkara yang lebih butuh penanganan segera dibandingkan pembaruan buku ajar. Berikut uraiannya.
[Kabar] Pengamat: Penyebab Krisis Air Bersih Tidak Hanya Faktor Cuaca
Wilayah terdampak kekeringan dan krisis air di Indonesia makin meluas, salah satunya di Provinsi Jawa Barat dengan cakupan wilayah terdampak mencapai 474 kelurahan dan desa di 27 kabupaten/kota. Pengamat kebijakan publik Emilda Tanjung, M.Si. menilai ini terjadi tidak semata disebabkan faktor cuaca atau akibat musim kemarau. Berikut ulasannya.
[Kabar] Pemerhati: Karhutla Berulang, Buah Tata Kelola Kapitalistik
Pemerhati kebijakan publik Maiyesni Kusiar, M.Si., menyatakan, karhutla yang terus berulang menunjukkan bahwa akar persoalannya bukan sekadar lemahnya penanganan kebakaran, tetapi tata kelola kapitalistik yang menempatkan hutan dan sumber daya alam sebagai komoditas ekonomi.
[Editorial] Demo Kisruh (Lagi), Rakyat Jangan Mau Terus Dipecah Belah
Demonstrasi besar di depan Gedung DPR RI pada 27-8-2026 di Jakarta, berakhir ricuh. Satu orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Namun, kejadian seperti ini bukan yang pertama. Dorongan pragmatisme membuat aksi-aksi menuntut perubahan dengan mudah dibajak oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Bagaimana seharusnya?
[Kabar] Pencabulan Berulang, Mubaligah: Itu Tanda Rusaknya Sistem yang Diadopsi!
Merespons berulangnya kasus pencabulan, mubaligah Nurul Husna, S.T.P. menegaskan bahwa itu bukan sekadar persoalan bejatnya oknum, melainkan rusaknya sistem sekularisme liberal yang diadopsi negeri ini.
[Kabar] Pemerhati: Sesak Melihat Rakyat Menghirup Asap
Menyikapi karhutla yang berulang dan makin meluas, pemerhati kebijakan kesehatan dr. Arum Harjanti mengaku prihatin. “Sungguh membuat sesak melihat rakyat terpaksa kembali menghirup asap akibat karhutla. Mirisnya, negara abai terhadap kesehatan rakyat,” ucapnya.
[Kabar] UIY: Itibak Nabi Harus Tampak dalam Perilaku
Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto menegaskan bahwa itibak Nabi saw. harus tampak dalam perilaku, baik dalam soal ibadah, makanan, minuman, pakaian, akhlak, maupun muamalah.
