Serangan Zion*s di Gaza kembali terjadi. Sementara itu, AS mengumumkan untuk menghentikan bantuan militernya terhadap Zion*s. Namun, ini sejatinya tipu daya untuk melindungi hubungan AS– Zion*s dari pengawasan publik. Sebaliknya, ini menunjukkan hubungan militer AS dan Zion*s lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
Tag: palestina
Saat Anak Gaza Kehilangan Kata
Genosida oleh Zion*s tidak hanya melukai fisik anak-anak Gaza, tetapi juga mental mereka, apalagi Zion*s sengaja menargetkan anak-anak saat melakukan serangan. Solusi bagi penderitaan anak-anak Gaza tidak cukup hanya dengan mengobati luka fisik dan jiwa mereka, melainkan melenyapkan pendudukan Zion*s.
Dehumanisasi Muslim Palestina oleh Zion*s, Mengerikan!
Zion*s terus melakukan serangan ke Jalur Gaza. Mereka tidak segan melakukan pembunuhan tanpa pandang bulu terhadap seluruh warga Palestina, termasuk pada anak-anak. Mereka melakukan dehumanisasi secara mengerikan.
Gaza Terus Diserang, Urgensi Tegaknya Khilafah sebagai Junnah
Serangan Zion*s yang tiada henti terhadap Gaza meyakinkan kita bahwa persoalan Gaza dan Palestina tidak bisa diselesaikan di meja perundingan. Kaum muslim wajib menolong Palestina bukan sekadar dengan bantuan logistik, melainkan dengan jihad fisabilillah untuk mengusir penjajah. Khilafah sebagai junnah (perisai) akan merealisasikan solusi hakiki ini.
Hukum Tawanan dalam Islam
Parlemen Zion*s, Knesset telah mengesahkan UU yang menginstruksikan pengadilan militer untuk menjatuhkan hukuman mati kepada warga Palestina yang terbukti membunuh warga Zion*s. Selama ini, Zion*s juga telah menyiksa tawanan, berupa penyiksaan fisik, psikologis, dan seksual kepada warga Palestina yang ditahan. Lantas, sebenarnya bagaimanakah hukum tawanan dalam Islam?
Jihad, Tindakan Nyata untuk Menghentikan Provokasi Yahudi di Masjidilaqsa
Zion*s Yahudi menyerbu kompleks Masjidilaqsa dan melakukan tindakan provokatif lainnya pada hari yang mereka sebut sebagai “Hari Kemerdekaan”. Peristiwa ini seharusnya memantik kesadaran kaum muslim, terutama para pemimpinnya bahwa segala kecaman dan tindakan diplomasi tidak berarti di mata entitas Zion*s Yahudi.
Jeruji Palestina dan Ilusi Keadilan Global
Dalam kasus Palestina, nilai-nilai HAM tampak diterapkan secara diskriminatif, yang dengan kata lain tidak berujung pada konsekuensi yang sepadan. Warga Zion*s tunduk pada hukum sipil, sedangkan warga Palestina diadili di pengadilan militer dengan tingkat vonis bersalah yang sangat tinggi.
[Kabar] Darah para Syuhada dan Penderitaan Perempuan Akan Menjadi Musuh Pasukan Pendudukan
Seorang perempuan Palestina lanjut usia gugur setelah diserang secara brutal dan dipukuli dengan kejam oleh tentara pendudukan Zion*s. Hal ini dikecam jubir Divisi Perempuan jemaah dakwah ideologis internasional. “Darah para syuhada dan penderitaan perempuan akan menjadi musuh pasukan pendudukan di hadapan Tuhan yang Maha Mulia,” ungkapnya.
Demiliterisasi, Upaya Barat Membungkam Perlawanan Rakyat Gaza
Demiliterisasi menjadi cara AS untuk mengendalikan politik dan militer Gaza. Ini membuktikan bahwa genosida masih terus berlangsung dan Zion*s-AS bekerja sama memadamkan spirit perlawanan yang masih tersisa demi menguasai penuh tanah Gaza.
[Kabar] Dukungan AS atas Hukuman Mati terhadap Tahanan Palestina Merupakan Pengabaian Norma Internasional
Dukungan AS atas keputusan Knesset untuk menghukum mati tahanan Palestina direspons jubir jemaah dakwah ideologis di AS. Ia mengecam tindakan tersebut sebagai pengabaian terang-terangan terhadap hukum dan norma internasional mengenai perlakuan terhadap tahanan.
[Kabar] Para Tahanan Palestina dan Masjidilaqsa Jatuh ke Tangan Zion*s
Parlemen Zion*s telah mengesahkan undang-undang hukuman mati bagi tahanan Palestina pada Senin (30-3-2026). Merespons hal ini, jubir jemaah dakwah ideologis internasional wilayah Palestina mengatakan, para tahanan dan Masjidilaqsa telah jatuh ke tangan mereka yang paling memusuhi orang-orang beriman.
[Kabar] Jika Negeri Muslim Bersatu, Dalam Waktu Sejam Saja Bisa Membebaskan Palestina
Jubir jemaah ideologis internasional menyampaikan, negara-negara seperti Arab Saudi, Mesir, Pakistan, Indonesia, atau Turki sudah cukup untuk membebaskan seluruh tanah suci Palestina. “Jika mereka mau dan bersatu, dalam waktu satu jam saja Palestina bisa dibebaskan,” ujarnya.
