Muslimah News, FOKUS —Genosida oleh Zion*s tidak hanya melukai fisik anak-anak Gaza, tetapi juga mental mereka. Banyak anak mendadak kehilangan kata dan tidak mampu berbicara, padahal sebelumnya ceria. Mereka merespons penderitaan luar biasa berupa kekerasan, kehancuran, dan kematian dengan diam.
BBC memberitakan, seorang anak bernama Adam (5) yang awalnya ceria dan banyak bicara, mendadak diam dan berhenti berinteraksi dengan dunia setelah menyaksikan langsung kematian sang ayah akibat bom. Ia sendiri terluka dan kehilangan kakinya. Kini Adam membisu, nyaris tidak makan, dan perkembangannya terhenti.
Adam bukan satu-satunya kasus. Psikoterapis anak asal Norwegia Katrin Glatz Brubakk mengatakan tidak ada satu pun anak di Gaza yang tidak trauma. Bahkan, lebih dari satu juta anak Gaza menderita trauma parah.
Katrin tidak memiliki data pasti jumlah anak Gaza yang berhenti berkomunikasi, tetapi ia menemukan puluhan kasus serupa. Dokter-dokter setempat mengatakan kepada jaringan Al Jazeera bahwa jumlah kasus seperti itu terus meningkat.
Katrin menjelaskan, anak-anak Gaza hidup dalam trauma parah di kondisi yang penuh ketidakpastian dalam waktu lama. Semua anak merasakan kehilangan anggota keluarga, teman sekolah, guru, dan tetangga. Mereka menyaksikan sendiri kematian tragis orang-orang yang mereka kasihi, tubuh-tubuh yang terpotong-potong, dan mencium bau darah yang tumpah. Beberapa anak membantu mengumpulkan sisa-sisa tubuh manusia atau bagian-bagian otak di jalan. Hal itu menyebabkan trauma ekstrem.
Trauma tersebut terjadi tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali dan mayoritas anak mengalaminya. Hal itu membuat mereka stres dan berdampak luar biasa pada sistem sarafnya. Sebagian anak merespons tekanan dengan sikap gelisah, susah tidur, emosi, dan berteriak sehingga bisa dideteksi. Sebagian anak lainnya bereaksi dengan membisu, sistem saraf mereka tidak kuat lagi dan berusaha melindungi diri dengan menarik diri.
Diam menjadi cara anak-anak Gaza untuk tidak berinteraksi dengan dunia yang terus-menerus membuat mereka menderita. Diam bukan pilihan yang mereka sadari, tetapi respons neurologis terhadap stres dan trauma ekstrem.
Sengaja Menyasar Anak-Anak
Realitas yang anak Gaza alami merupakan akibat genosida yang dilakukan Zion*s. Data UNICEF menunjukkan, sejak Oktober 2023 pasukan Zion*s telah membunuh lebih dari 20.000 anak di Gaza dan menyebabkan lebih dari 41.000 anak terluka. Secara total, data Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan, serangan Zion*s telah menewaskan lebih dari 72.000 warga sipil dan melukai lebih dari 172.000 lainnya.
Akibat genosida, anak-anak Gaza yang awalnya ceria menjadi menderita, baik fisik maupun batinnya. Luka batin ini akan terus membekas hingga mereka dewasa.
Sungguh sedih membayangkan masa depan anak-anak Gaza. Pada saat anak-anak di belahan bumi yang lain bisa leluasa bermain dengan teman-teman, berkumpul dan bercengkerama bersama keluarga, tidur di rumah yang nyaman, belajar di sekolah, serta menikmati keindahan alam dengan rasa aman, anak-anak Gaza tidak merasakannya. Hari-hari mereka didominasi dengan menyaksikan kematian demi kematian. Bahkan, setiap hari mereka berlomba dengan kematian.
Saat ini nasib mereka ada di antara dua kemungkinan, yaitu wafat karena serangan; atau selamat, tetapi terluka, cacat, dan trauma. Sungguh bukan pilihan yang diinginkan oleh siapa pun.
Entitas Zion*s sengaja menargetkan anak-anak dalam serangan mereka. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir diduga menyerukan agar tentara melakukan tembakan terhadap setiap anak Palestina yang mendekati apa yang disebut sebagai “garis kuning” di Jalur Gaza. (Maariv, 25-10-2025).
Menyaksikan derita anak-anak Gaza, sebuah tanya mengemuka, sampai kapan tragedi ini akan terus terjadi? Sampai kapan anak-anak tidak berdosa tersebut harus menanggung derita yang tidak terperikan ini? Tanya ini tidak kunjung terjawab.
Tidak Cukup Bantuan Kemanusiaan
Bantuan kemanusiaan sudah mengalir dari berbagai penjuru dunia untuk Palestina. Seandainya bantuan itu benar-benar sampai ke warga Gaza, niscaya mereka sudah kaya raya. Namun, kenyataannya mayoritas bantuan itu tidak sampai, karena truk-truk bantuan dicegat, ditahan, bahkan dibom. Kapal bantuan seperti Global Sumud Flotilla diambil alih di tengah laut. Alhasil, bantuan-bantuan tidak bisa masuk ke Gaza. Siapa pelakunya? Tidak lain dan tidak bukan adalah Zion*s dengan dukungan Amerika Serikat (AS).
Seandainya pemberian bantuan itu cukup untuk menghentikan derita rakyat Gaza, sekaligus Palestina, niscaya persoalan genosida telah selesai. Namun, nyatanya derita anak-anak Gaza tidak kunjung usai, meski bantuan terus mengalir dari berbagai arah.
Solusi bagi penderitaan anak-anak Gaza tidak cukup hanya dengan mengirimkan dokter untuk mengobati luka fisik dan psikoterapis untuk mengobati jiwa mereka. Selama masih ada entitas Zion*s, serangan demi serangan akan terus dialami oleh anak-anak Gaza dan mereka tidak lepas dari trauma.
Oleh karenanya, pembelaan kita bagi Gaza tidak cukup dengan memberikan bantuan kemanusiaan, tetapi harus menyolusi akar masalahnya, yaitu keberadaan entitas Zion*s yang melakukan genosida dengan dukungan AS.
Untuk mengusir Zion*s dari tanah Palestina, dibutuhkan kekuatan militer yang mumpuni, karena akan menghadapi Zion*s sekaligus AS. Kekuatan militer yang sepadan untuk menghadapi keduanya haruslah berasal dari negara yang besar, bukan dari milisi, mengingat AS saat ini merupakan pemimpin dalam hal industri militer.
Oleh karenanya, kita tidak bisa berharap pada lembaga internasional seperti PBB maupun pada negara-negara muslim. PBB sudah terbukti gagal melindungi Palestina dari serangan Zion*s. PBB hanya bisa mengeluarkan resolusi tanpa aksi berarti. Selain itu, faktanya PBB berada dalam dominasi AS sebagai pemegang hak veto sehingga mustahil PBB berjalan ke arah yang tidak dikehendaki AS.
Sedangkan negara-negara muslim telah lama terbelenggu nasionalisme sehingga tidak mau membebaskan Palestina. Mereka juga berada dalam dominasi AS, terbukti bahwa di negara-negara muslim (terutama Timur Tengah), banyak terdapat pangkalan militer AS yang justru menjadi basis dukungan militer untuk Zion*s.
Para penguasa muslim itu takut kehilangan kekuasaannya jika tidak mendukung AS dan Zion*s. Ini terkonfirmasi dengan kebijakan luar negeri mereka yang justru melakukan normalisasi hubungan dengan Zion*s.
Para penguasa muslim itu mengikuti arahan AS untuk mendukung solusi dua negara. Padahal, penyelesaian masalah Palestina tidak bisa terwujud dengan solusi dua negara karena ini adalah opsi yang mustahil terwujud. Zion*s tidak pernah dan tidak akan pernah mau hidup damai berdampingan dengan muslim Palestina. Ini tampak dalam misi mereka untuk mewujudkan I5r4e1 Raya yang terbentang dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat, yakni meliputi seluruh wilayah Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah, Irak, Mesir, Arab Saudi, hingga Kuwait.
Zion*s terus memperluas pendudukan terhadap wilayah Palestina dengan melakukan penyerangan, pembunuhan, dan pengusiran. Mereka terus melakukan serangan, meski pada masa gencatan senjata. Melihat sepak terjang Zion*s, mereka tidak akan pernah mau berdamai.
Lagipula, mengikuti solusi dua negara berarti mengakui keabsahan entitas Zion*s, padahal mereka sejatinya adalah perampok terhadap wilayah Palestina. Pengakuan terhadap keabsahan entitas Zion*s sama dengan mendukung pendudukan terhadap Palestina.
Khilafah Pembebas Palestina
Derita anak-anak Palestina harus diakhiri. Kita tidak boleh membiarkan mereka terluka hingga trauma. Kita bayangkan seandainya anak kita yang mengalaminya, tentu kita akan bersegera mewujudkan solusi hakiki, yaitu pembebasan Palestina.
Pembebasan Palestina dari pendudukan Zion*s hanya bisa diwujudkan oleh Khilafah karena hanya Khilafah satu-satunya negara yang memiliki visi politik luar negeri berupa dakwah dan jihad. Khilafah berposisi sebagai pelindung bagi seluruh negeri-negeri muslim, sebagaimana sabda Rasulullah saw.,
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaq alaih).
Khilafah akan menyatukan negeri-negeri muslim di bawah naungannya dan menyatukan seluruh potensi mereka, termasuk militer. Negeri-negeri muslim memiliki kekuatan militer yang luar biasa besar jika bersatu. Kekuatan berupa tentara, persenjataan, logistik, kekayaan alam, dll. akan diarahkan untuk jihad fisabilillah membebaskan Palestina.
Dengan persatuan negeri-negeri muslim di bawah Khilafah, umat Islam akan kuat menghadapi Zion*s, AS, dan negara-negara sekutunya. Gabungan tentara dari negeri-negeri muslim akan cukup untuk menghadapi tentara Zion*s dan AS.
Mobilisasi pasukan ke Palestina akan dilakukan dari negeri-negeri yang terdekat terlebih dahulu, yaitu Timur Tengah. Jika tidak mencukupi, tentara dari negeri-negeri yang jauh juga akan dimobilisasi ke Palestina.
Khilafah akan mengusir AS dari pangkalan militernya yang ada di negeri-negeri muslim. Dengan demikian, AS tidak memiliki basis serangan ke wilayah Palestina.
Khilafah juga akan melarang kapal AS dan Zion*s, baik kapal induk, kapal perang, maupun kapal dagang untuk lewat di perairan negeri-negeri muslim. Begitu pula pesawat militer AS dilarang lewat di wilayah udara negeri-negeri muslim. Dengan demikian, AS akan kesulitan memobilisasi pasukan dan logistik untuk membantu Zion*s.
Khilafah juga akan menghentikan pasokan migas dari negeri-negeri muslim ke Zion*s, AS, dan negara-negara yang bersekutu dengan keduanya. Upaya ini akan melemahkan Zion*s dan AS pada aspek energi.
Penggunaan dinar dirham di seluruh wilayah Khilafah juga akan melemahkan dolar AS sehingga berdampak signifikan untuk melemahkan ekonomi AS. Ini akan berdampak pada kemampuan AS membiayai perang.
Khilafah akan melakukan diplomasi kepada negara-negara kafir yang tidak memerangi umat Islam, yaitu negara kafir harbi hukman, agar tidak mendukung serangan militer Zion*s dan AS pada Palestina. Hal ini akan mengisolasi kekuatan Zion*s dan AS sehingga mereka tidak mendapatkan dukungan internasional.
Adapun hubungan Khilafah dengan Zion*s dan AS adalah hubungan perang. Tidak boleh ada sikap lemah di hadapan mereka, melainkan Khilafah harus tegas mengusir keduanya dari bumi Palestina.
Dengan semua langkah yang Khilafah lakukan, Palestina akan terbebaskan dari pendudukan dan genosida. Setelah Palestina dibebaskan, Khilafah sebagai raa’in akan mengurusi urusan rakyatnya, termasuk rakyat Palestina.
Khilafah akan menjamin sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan bagi warga Palestina. Anak-anak Palestina akan dirawat fisik dan mentalnya, dipulihkan, serta disediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang mereka.
Dengan demikian, anak-anak Gaza tidak akan menderita lagi. Mereka akan kembali ceria bermain dengan teman, berkumpul dengan keluarga, bersekolah, dan menyongsong masa depan yang cerah di bawah perlindungan panji-panji Islam.
Persatuan Umat
Untuk bisa membebaskan Palestina, umat Islam mutlak harus bersatu di bawah naungan Khilafah. Sejak dahulu kita belajar bahwa banyak lidi yang bersatu akan menjadi kuat dan sulit dipatahkan. Sedangkan, jika sendirian, batang lidi akan mudah dipatahkan, bahkan dihancurkan.
Namun, saat ini persatuan umat sulit terwujud karena racun nasionalisme telah membelenggu umat. Oleh karenanya, dibutuhkan dakwah Islam yang menggugah kesadaran (dakwah fikriyah) dan dorongan berjuang (dakwah siyasiyah) pada diri umat. Dakwah ini penting untuk mengembalikan keyakinan umat bahwa sejatinya mereka adalah umat yang satu sebagaimana firman Allah Taala,
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS Al-Hujurat [49]: 10).
Dengan bersatu di bawah panji Islam, umat ini akan kembali menjadi umat terbaik sebagaimana firman-Nya,
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”(QS Ali Imran [3]: 110).
Dakwah Islam kafah harus dilakukan secara global di seluruh negeri-negeri muslim sehingga terwujud kesamaan pandangan tentang Khilafah sebagai solusi hakiki masalah Palestina. Wallahualam bissawab. [MNews/RR-NA]
