Muslimah News, INTERNASIONAL — Seorang perempuan Palestina lanjut usia gugur sebagai syuhada akibat luka-lukanya setelah diserang secara brutal dan dipukuli dengan kejam oleh tentara pendudukan selama penggerebekan di rumahnya di Kota Jayyous, dekat Qalqilya di Tepi Barat, Palestina. Serangan ini bertepatan dengan kampanye militer skala besar yang dilancarkan oleh pasukan pendudukan di kota tersebut yang meliputi penggerebekan dan penggeledahan beberapa rumah serta penjarahan isinya.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya pelanggaran yang dilakukan oleh pendudukan terhadap rakyat Palestina di kota-kota dan desa-desa di Tepi Barat. Banyak organisasi hak asasi manusia telah mendokumentasikan peningkatan kasus penyerangan fisik langsung selama penggerebekan malam hari yang kini menargetkan kelompok yang paling rentan, seperti perempuan, anak-anak, dan lansia. Penggerebekan ini telah mengakibatkan banyak orang gugur sebagai syuhada, selain puluhan luka-luka dan kasus mati lemas.
Insiden serupa pernah terjadi sebelumnya di Desa Al-Mazra’a al-Qibliya di Ramallah saat seorang wanita lanjut usia kehilangan kesadaran setelah pasukan pendudukan menyerbu rumahnya untuk menangkap cucunya dan melakukan kekerasan fisik terhadap dua anggota keluarga lainnya, melukai mereka. Wanita lanjut usia itu dibawa ke rumah sakit, tetapi kemudian ia dinyatakan meninggal.
Di bawah pemerintahan pendudukan yang terus memperkuat perluasan permukiman di Tepi Barat yang diduduki, serangan pemukim meningkat di tengah meningkatnya ketegangan regional dengan konflik yang sedang berlangsung dengan Iran. Para pemukim menyerang beberapa desa Palestina, melukai beberapa orang, membakar, dan merusak kendaraan.
Kantor berita Palestina WAFA melaporkan serangan terjadi setidaknya di enam komunitas, termasuk Desa Silat ad-Dhahr dan Fandaqumiya dekat Jenin, Jalud dan Salfit di selatan Nablus, dan daerah pertanian di Masafer Yatta dan Lembah Yordania. Menurut data dari Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman, para pemukim melakukan lebih dari 443 serangan terhadap rakyat Palestina dan harta benda mereka sejak awal 2026 hingga 15 Maret. Serangan-serangan oleh tentara dan pemukim ini mengakibatkan gugurnya 25 warga Palestina, pendirian 14 pos pemukiman, penghancuran lahan pertanian, dan pembakaran.
Menjadi Musuh
Juru bicara (jubir) Divisi Perempuan jemaah dakwah ideologis internasional mengecam tindakan tersebut. “Darah para syuhada dan penderitaan perempuan akan menjadi musuh pasukan pendudukan di hadapan Rabb al-Izza (Tuhan yang Maha Mulia),” ungkapnya prihatin kepada Kantor Berita ideologis internasional, Jumat (10-4-2026).
Ia mengajak kaum muslim di seluruh dunia untuk membuka mata terhadap kesombongan pendudukan yang telah menghinakan umat Islam pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Mereka menutup Masjidilaqsa dan menodainya setiap hari, dan tidak ada seorang pun yang mengutuk hal ini. Mereka membunuh perempuan, anak-anak, dan mereka adalah orang-orang tua. Mereka menyiksa serta mengeksekusi tahanan tanpa hukuman. Mereka membakar, menghancurkan, dan mencabut rumah dan pohon, sementara kalian sibuk dengan urusan duniawi,” ucapnya.
Ia mempertanyakan keberadaan para tentara muslim. ”Di mana semangat dan kehormatan kalian? Akankah kalian terus menutup telinga dan hati kalian, bahkan di depan mata kalian, terhadap apa yang terjadi? Bukankah sudah waktunya bagi kalian untuk bertindak menyelamatkan mereka? Tidakkah kalian akan ikut serta dalam munculnya fajar kebenaran dan kemenangan? Atau tetap berada dalam kegelapan?” tanyanya retorik.
Terakhir, ia mengingatkan para tentara itu dengan firman Allah Taala dalam QS Hud: 81, ”…Sesungguhnya ia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?” [MNews/IA]
