Dehumanisasi Muslim Palestina oleh Zion*s, Mengerikan!

Dehumanisasi Muslim Palestina oleh Zion*s, Mengerikan!

Muslimah News, FOKUS — Zion*s kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Jalur Gaza, Palestina pada Jumat malam, 8 Mei 2026 waktu setempat. Akibat serangan tersebut, sejumlah bangunan tempat tinggal warga hancur dan beberapa warga sipil, termasuk anak-anak, dilaporkan mengalami luka-luka. Berdasarkan keterangan saksi mata, lima rumah warga dilaporkan hancur total, sedangkan empat bangunan lainnya mengalami kerusakan berat.

Para warga menyatakan kekecewaannya terhadap tindakan Israel karena pengeboman tersebut dilakukan di tengah periode gencatan senjata yang sedang berlangsung. Entitas Zion*s terus melakukan serangan dengan dalih menargetkan kelompok militan sejak gencatan senjata yang dimediasi AS pada Oktober lalu. (Metrotvnews, 10-5-2026).

Dehumanisasi Warga Palestina

Radio Angkatan Darat Zion*s (3-5-2026) melaporkan adanya persiapan militer untuk kemungkinan dimulainya kembali pertempuran. Pejabat militer senior Zion*s mendesak dimulainya kembali pertempuran di Jalur Gaza dan meyakini bahwa saat ini adalah waktu terbaik untuk mengalahkan Hamas. Tentara Zion*s telah mengurangi kekuatan di Lebanon selatan dan mengerahkan kembali brigade reguler ke Gaza serta Tepi Barat.

Laporan itu mencuat di tengah pelanggaran gencatan senjata yang terus berlangsung oleh Zion*s di wilayah Jalur Gaza serta serangan di wilayah Tepi Barat. Gencatan senjata tersebut sebelumnya dimaksudkan untuk mengakhiri serangan Zion*s selama dua tahun di Gaza yang menewaskan lebih dari 72.000 orang dan melukai 172.000 lainnya, serta menghancurkan 90% infrastruktur sipil.

Zion*s bahkan tidak segan melakukan pembunuhan tanpa pandang bulu terhadap warga Palestina. Otoritas militer Zion*s telah memerintahkan pasukan untuk membunuh setiap laki-laki yang mereka temui di Gaza selama genosida yang dimulai pada 2023, berapa pun usianya. Pasukan Zion*s telah membunuh lebih dari 72.700 warga Palestina di Gaza selama genosida dua tahun, termasuk 850 orang sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025. Ribuan lainnya masih hilang dan diyakini terkubur di bawah reruntuhan.

Dikutip dari Anadolu (4-5-2026), entitas Zion*s Yahudi memperluas pendudukan di Jalur Gaza hingga 59% wilayah tersebut dan tengah mempersiapkan kemungkinan dimulainya kembali genosida di wilayah kantong Palestina itu. Sebelum gencatan senjata pada Oktober 2025, Israel menguasai sekitar 53% wilayah Jalur Gaza. Namun, kelompok Palestina H4m45 menyatakan bahwa militer Zion*s menguasai lebih dari 60% wilayah pesisir Palestina itu.

Berdasarkan data PBB (4-5-2026), satu dari lima penderita amputasi di Jalur Gaza merupakan anak-anak. Juru bicara PPB Stephen Dujarric menambahkan bahwa lebih dari 6.600 orang membutuhkan perawatan prostetik dan rehabilitasi. Selain itu, sejak 2023 ribuan warga Gaza telah menjalani amputasi, tetapi hanya delapan tenaga medis yang tersedia untuk menanganinya. Dampak selanjutnya, anak-anak di Jalur Gaza berpotensi terjangkit beragam masalah medis lainnya, seperti penyakit kulit dan masalah medis yang berhubungan dengan hama serta hewan pengerat.

Bahkan, Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) menyebutkan bahwa Jalur Gaza merupakan tempat paling mematikan di dunia bagi para jurnalis. Dampaknya, berita tentang Gaza pun sepi, padahal serangan Zion*s di Gaza masih terjadi. OHCHR pun mendesak komunitas internasional untuk melakukan tindakan nyata dan bukan hanya sekadar menyampaikan kecaman dan solidaritas. Badan PBB itu juga menekankan pentingnya akuntabilitas, perlindungan bagi jurnalis, serta memastikan akses independen bagi media internasional.

Lebih buruk lagi, mengutip Al Jazeera (9-5-2026), sebuah keluarga Palestina di Jenin mengatakan pemukim entitas Yahudi memaksa mereka menggali dan memindahkan jenazah ayah mereka beberapa jam setelah pemakamannya. Para pemukim Yahudi mengklaim tanah pemakaman itu milik pemukiman Sa-Nur di dekatnya. Kantor Hak Asasi Manusia (HAM) PBB mengutuk insiden tersebut, bahkan menyebutnya sebagai pola yang lebih luas dari “dehumanisasi warga Palestina”.

Mengerikan!

Saat ini seluruh dunia sudah mengetahui bahwa krisis Palestina, khususnya di Gaza, sangat mengerikan. Kita bisa membayangkan begitu kejamnya Zion*s dengan sikapnya yang tidak pernah memedulikan kesepakatan gencatan senjata. Dengan dukungan politik, militer, dan keuangan dari AS, Zion*s terus saja menyerang Gaza. Zion*s makin seenaknya memperluas pendudukannya dan melakukan genosida di Gaza sehingga jumlah korban makin banyak, termasuk anak-anak.

Untuk membungkam pers dari menyiarkan kejahatan mereka pada dunia, Zion*s menargetkan pembunuhan para jurnalis. OHCHR telah memverifikasi kematian hampir 300 jurnalis sejak Oktober 2023. Sejumlah besar jurnalis juga mengalami luka selama melakukan peliputan. Perang yang hingga kini masih berlangsung di Gaza telah menjadi jebakan maut bagi media.

Oleh sebab itu, dunia dan kaum muslim seharusnya tidak diam atas pendudukan Zion*s di Gaza. Zion*s sama sekali tidak memahami istilah “kecaman” ataupun “kutukan”. Bahkan, gencatan senjata yang sudah dimediasi oleh tuannya sendiri, yakni AS, tetap saja tidak mempan untuk menghentikan tindakan brutal Zion*s. Zion*s justru seperti makin mendapatkan panggung untuk bertindak keji. Ini karena AS tidak netral sebagai mediator, melainkan memihak Zion*s, sehingga Zion*s merasa di atas angin.

Lebih dari itu, hendaklah kita juga menyadari bahwa akar masalah Gaza adalah keberadaan entitas Zion*s di tanah milik muslim Palestina sehingga entitas ini harus dihapuskan dari muka bumi. Pendudukan Zion*s adalah penjajahan sehingga harus dilawan dengan militer dan tidak cukup sekadar dikecam.

Miris, penguasa di lebih dari 50 negeri muslim hari ini tidak tergerak untuk melakukan jihad membebaskan Palestina. Mereka masih saja terbelenggu oleh nasionalisme yang telah mengikis ukhuah islamiah. Padahal, gelombang seruan persatuan dunia Islam terus bergaung demi pembebasan Palestina, baik dari kalangan kaum muslim secara umum maupun para ulama dari negeri-negeri muslim.

Fenomena ini menegaskan bahwa pembebasan Palestina dari penjajahan Zion*s tidak cukup dengan seruan kemanusiaan, persatuan, dan persaudaraan. Pembebasan Palestina nyata-nyata mengharuskan adanya langkah politik yang mampu melawan kecongkakan AS dan Zion*s. Jika menilik kondisi politik negeri-negeri di kawasan Timur Tengah, langkah politik pembebasan Palestina tampak sulit karena para penguasa Timur Tengah sudah menjadi agen yang menjaga kepentingan AS di wilayahnya.

Bahkan, Uni Emirat Arab (UEA) baru-baru ini kian “mesra” dengan Zion*s, yang tampak setelah Zion*s mengirimkan baterai antirudal Iron Dome dan personel untuk mengoperasikannya ke UEA guna melindungi wilayah UEA dari rudal Iran. Tentu saja sikap UEA ini adalah pengkhianatan terhadap dunia Islam dan kaum muslim, khususnya perjuangan kemerdekaan Palestina.

Sungguh, krisis Gaza tidak lagi sekadar genosida, melainkan memburuk dan termasuk upaya dehumanisasi warga Palestina. Jejak-jejak warga Palestina hendak dilenyapkan sepenuhnya, yang masih hidup terus diserang, yang sudah meninggal pun makamnya diharuskan untuk dibongkar.

Mencermati semua ini, jelas pembebasan Palestina tidak bisa tercapai melalui langkah-langkah politik pragmatis. Hal itu justru makin membuka kesempatan bagi Zion*s bertindak licik beserta peluang pengkhianatan negeri-negeri muslim yang semestinya tidak gentar membebaskan Palestina. Kondisi Palestina akan makin memburuk dan terpuruk tanpa langkah politik sahih menuju terwujudnya pembebasan wilayah secara de facto.

Butuh Langkah Politik Sahih

Sungguh, sejarah umat Islam adalah sejarah jihad dan kemenangan. Misi utama jihad di dalam Islam adalah mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia sehingga Islam menjadi pemimpin umat manusia, baik muslim maupun nonmuslim.

Di dalam buku Khilafah, Memahami Sistem Politik dan Pemerintahan Islam, dijelaskan bahwa Palestina adalah bagian dari wilayah Syam yang menjadi bagian dari Khilafah Islamiah melalui penaklukan yang berlangsung sejak masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. hingga Khalifah Umar bin Khaththab ra. Oleh sebab itu, Palestina disebut tanah kharajiyah yang ditetapkan sebagai hak milik seluruh kaum muslim hingga hari kiamat, meski hak gunanya diserahkan kepada penduduk setempat.

Sejak Khilafah runtuh dan tegak entitas Zion*s Yahudi di Palestina, tanah suci itu pun terjajah sehingga harus dibebaskan untuk bisa kembali ke pangkuan kaum muslim. Pembebasan Palestina membutuhkan ukhuah islamiah hakiki berupa persatuan kaum muslim sedunia untuk berjihad. Jelas, ukhuah ini hanya terwujud dengan Khilafah sebagai institusi pemersatu umat.

Allah Taala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran [3]: 103).

Dengan melihat status tanah Palestina, sejatinya orang-orang Yahudi tidak bisa menduduki, apalagi mengusir dan membunuh kaum muslim yang tinggal di sana. Bahkan, sebaliknya, mereka tidak akan pernah mempunyai tempat di tanah penuh berkah tersebut.

Jelas, satu-satunya solusi untuk Palestina saat ini adalah jihad, baik dipimpin oleh penguasa kaum muslim ketika Khilafah belum ada, ataupun dipimpin oleh khalifah ketika sudah ada. Inilah satu-satunya solusi yang benar dan sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh Palestina saat ini.

Lebih dari itu, Khilafah akan menghentikan pendudukan dan genosida Zion*s terhadap Palestina dan mengembalikan tanah Palestina pada pemiliknya, sekaligus me-riayah warga Palestina agar bisa hidup mulia. Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Sungguh imam (khalifah) adalah perisai. Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengan dirinya.” (HR Muslim).

Peristiwa pendudukan kaum kafir terhadap Palestina sebenarnya bukan hal yang baru karena hal yang sama pernah pernah dilakukan oleh tentara Salib. Tentara kafir itu berhasil dikalahkan oleh pasukan kaum muslim yang dipimpin oleh Shalahuddin al-Ayyubi dalam Perang Hithin. Kini Palestina membutuhkan Shalahuddin baru, meski Khilafah belum berdiri.

Kita patut mencermati seruan yang terdapat di dalam kitab Qadhaya Siyasiyah (Negeri-Negeri Muslim yang Terjajah), bab “Palestina” bahwa dalam persoalan Palestina ini para penguasa yang ditelikung musuh tidak akan mampu membebaskan dirinya dari kotoran najis Yahudi. Mereka akan selalu menyerahkan kemuliaan umat kepada Zion*s sampai kapan pun, demi menjaga singgasana kekuasaan boneka serta mahkota kehinaan.

Persoalan Palestina bukan hanya persoalan bagi penduduk Palestina atau bangsa Arab, melainkan persoalan umat Islam. Persoalan Palestina adalah persoalan negeri Islam dan tempat-tempat suci Islam yang telah dirampas oleh Yahudi kufur dengan bantuan dari negara-negara kufur adidaya, yaitu Inggris dan AS, serta para penguasa kaum muslim yang menjadi kaki tangan mereka.

Palestina adalah negeri Islam yang telah ditaklukkan oleh kaum muslim dengan darah mereka. Tidak ada sejengkal pun tanahnya yang luput dari telapak kaki kuda seorang mujahid ataupun yang lolos dari setetes darah seorang syahid. Palestina adalah milik seluruh kaum muslim dan kaum muslim wajib mengorbankan darah dan nyawanya untuk mengambilnya kembali.

Pengabaian terhadap bumi Palestina, walau hanya sejengkal, adalah pengkhianatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan seluruh kaum nukmin. Allah Swt. mewajibkan kaum muslim berjihad untuk menyelamatkan Palestina dari cengkeraman entitas Zion*s Yahudi, sekaligus melenyapkan institusi Yahudi dari Palestina, serta memusnahkan hegemoni AS dan negara-negara kufur lainnya.

Atas dasar semua ini, agenda utama (qadhiyah masiriyah) umat Islam hari ini adalah penegakan Khilafah yang akan mengerahkan militer di dunia Islam untuk melakukan jihad membebaskan Palestina dan melenyapkan entitas Zion*s. Inilah langkah politik sahih untuk mengembalikan Palestina ke pangkuan kaum muslim. Wallahualam bissawab. [MNews/NA-RR]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *