Penulis: Juanmartin
Muslimah News, FOKUS — AFP melaporkan (31-7-2026) bahwa Donald Trump mengumumkan rencana pelucutan senjata Ham*s sebagai langkah menuju perdamaian, disertai penarikan pasukan Zion*s dan pengambilalihan Gaza oleh otoritas sipil dengan dukungan internasional. Sejumlah pejabat Ham*s mengonfirmasi adanya kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Namun, di tengah rencana tersebut, serangan militer Zion*s tetap berlanjut. Pada 1–2 Agustus 2026, serangan udara kembali menewaskan warga sipil dan menyasar permukiman, pengungsian, hingga fasilitas medis. Kondisi ini menimbulkan keraguan terhadap implementasi kesepakatan damai.
Ham*s menyatakan siap melucuti senjata dengan syarat Zion*s menghentikan serangan dan menarik pasukan, sementara pihak Zion*s menuntut pelucutan total sebelum penarikan. Di sisi lain, perbedaan sikap elite Yahudi dan berlanjutnya operasi militer menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih sarat kepentingan dan belum sepenuhnya menjamin perlindungan bagi warga sipil Gaza.
Melemahkan Perjuangan Palestina
Pengkhianatan Zion*s meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan sesungguhnya sudah tidak terhitung lagi. Kini, di bawah bendera aliansi besutan AS, Board of Peace (BoP) mereka menawarkan konsep perdamaian yang penuh jebakan. Dengan mensyaratkan agar kelompok mujahidin melucuti senjata, AS beserta negara-negara yang tergabung dalam BoP seperti sedang menyerahkan Gaza pada mulut harimau, yakni Zion*s dan AS.
Sebuah strategi yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup masyarakat Gaza. Upaya perdamaian dengan syarat pelucutan senjata dari mujahidin tidak lain merupakan siasat AS dan Zion*s melalui BoP untuk melemahkan perjuangan rakyat Palestina.
Menjaga perdamaian kerap menjadi dalih negara adidaya untuk mengintervensi negara lain dan meyakinkan dunia. Padahal, AS sesungguhnya sedang berupaya menjaga kepentingannya dan sekutu-sekutunya. Bendera perdamaian lewat jalur BoP tidak akan mampu merealisasikan kedamaian di Palestina. Sebab, makna kedamaian dalam perspektif Barat adalah segala sesuatu yang berjalan sesuai kehendak AS.
Pelucutan senjata dan sandiwara penarikan mundur tentara Zion*s juga tidak akan menghentikan penjajahan bangsa Yahudi atas Palestina. Penjajahan, perampasan tanah dan genosida atas Gaza dan Palestina akan terus dilakukan oleh Zion*s. Demikian pula dengan kehadiran pasukan yang diklaim akan mampu stabilitas internasional, tidak ditujukan untuk membebaskan Palestina dari penjajahan Zion*s.
Sebaliknya, kehadiran pasukan itu akan digunakan untuk menjaga kepentingan AS dan membekap setiap perlawanan yang akan mengganggu stabilitas kepentingan AS. Inilah taktik licik AS dan Yahudi. Sebagai benteng terakhir perlawanan masyarakat Palestina, upaya melucuti senjata Ham*s hanya akan melempangkan jalan AS merebut Gaza.
AS sesungguhnya sangat berhasrat menguasai Gaza. Hal ini dibuktikan dengan agenda pembangunan “New Gaza” yang masih terus berlanjut. Memanfaatkan aktor lokal, Barat yang diprakarsai AS terus melakukan upaya masif dan lobi-lobi politik untuk mendapatkan dukungan atas ambisinya menciptakan “New Gaza”.
Untuk merebut dukungan, mereka bahkan melancarkan propaganda dengan dalih “demi penyelamatan penduduk Gaza”. Jika bahasa penyelamatan menjadi narasi yang digunakan untuk membangun “New Gaza”, mengapa tidak dari dulu disuarakan sejak Yahudi membombardir dan merampas setiap jengkal tanah Palestina? Dengan demikian jelas, rencana Trump untuk memindahkan paksa warga Palestina dari Gaza dengan dalih membangun Gaza yang baru tidak ubahnya tipu muslihat.
Di titik ini terlihat benang merah bahwa munculnya BoP pada dasarnya serangkaian dengan sejumlah rencana strategi AS untuk menguasai Palestina. Dalam Project 2025 AS menginginkan transformasi Gaza menjadi “Riviera Timur Tengah”. Presiden Trump sendiri sangat berambisi untuk mengambil alih Gaza demi memuluskan proyek ini. Salah satu strateginya adalah memasukkan diktum soal rencana merekonstruksi total Gaza dalam perjanjian gencatan senjata antara Zion*s dan Ham*s yang ia inisiasi sejak Januari 2025.
Jika para mujahidin secara nyata mengikuti arahan AS untuk melucuti senjata, perlawanan Palestina akan redup dan kebuasan negara kolonialis global tidak hanya berhenti pada upaya menguasai Palestina, tetapi juga akan semakin menancapkan hegemoninya atas Timur Tengah. Ini juga akan memberikan peluang besar bagi AS untuk mengontrol setiap gejolak politik sekaligus mengendalikan pergerakan pejuang Islam yang selama ini menjadi titik didih yang menginspirasi girah perjuangan Islam di dunia.
Bisunya Penguasa Muslim
Miris, banyak negeri-negeri Islam yang pura-pura rabun akan agenda AS dan Zion*s ini. Bahkan, mereka turut serta dalam narasi perdamaian semu melalui aliansi BoP yang dikontrol AS. Ketakutan yang besar pada negara adidaya itu sungguh membuat mereka gentar untuk menyuarakan pembebasan Palestina secara lantang, alih-alih merumuskan visi untuk menyelesaikan masalah Palestina dengan mengusung Islam ideologis sebagai solusi.
Sebagian besar penguasa muslim lebih memilih untuk terus membebek pada rumusan kebijakan AS. Secara sadar mereka mengikuti narasi penguasa Barat yang jelas ditolak mayoritas umat Islam. Bahkan dengan percaya diri mereka menganggap bahwa ikut serta dalam aliansi perdamaian merupakan bentuk perjuangan pembebasan Palestina. Nyatanya, keikutsertaan mereka dalam aliansi tidak berkontribusi apa pun selain merestui setiap pengkhianatan demi pengkhianatan penguasa kuffar atas umat Islam.
Jika para penguasa kita gentar untuk bersuara, maka tiada harapan lain saudara kita di Palestina selain pada mutiara-mutiara umat yang masih tegar bersuara untuk pembebasan muslim Palestina. Umat harus menyadarkan penguasa muslim bahwa narasi perdamaian yang dinyanyikan AS hanyalah alat untuk mempercepat eksekusi Gaza untuk menanamkan kepentingannya, sekutunya dan para korporasi global. Bergabung dan menjadi aliansi Board of Peace hanya akan memberi legitimasi dukungan atas rencana strategis AS menguasai Gaza.
Merumuskan Agenda Pembebasan Palestina
Menilik setiap upaya AS, sudah seharusnya umat menyadari akan bahaya setiap gagasan AS dan Zion*s dalam mengarahkan penyelesaian konflik di Palestina. Keduanya akan terus membuat siasat baru untuk melanggengkan penjajahan atas Palestina. Tujuannya jelas, melemahkan perjuangan di Palestina sekaligus membekap suara-suara kritis masyarakat dunia utamanya kaum muslimin untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman AS dan Yahudi Zion*s.
Ambisi AS untuk mengontrol Palestina khususnya dan Timur Tengah secara umum dengan mematikan perjuangan Ham*s akan memudahkan mereka meraih tujuan-tujuan ideologisnya. Umat Islam global harus memahami bahwa arah kebijakan dan strategi perdamaian sering kali dipengaruhi oleh kepentingan geopolitik negara adidaya. Dalam kondisi ini, kata perdamaian tidaklah bersifat netral. Oleh karena itu, yang mereka sebut sebagai gagasan perdamaian adalah jebakan.
Barat jelas tengah mengobarkan perang pemikiran dan melakukan adu-domba di tengah-tengah kaum muslimin guna mencapai kepentingan politik dan ideologisnya. Mengikuti titah Barat yang mengatasnamakan penyelamatan masyarakat Gaza adalah narasi sesat dan menyesatkan. Untuk menandingi segala makar Barat, umat harus menyadari pentingnya merumuskan agenda politis untuk membebaskan Palestina secara mandiri, tanpa intervensi polisi dunia.
Ketakmampuan umat Islam untuk merumuskan visi politiknya secara mandiri tidak lepas dari persatuan semu ala nation state yang diinjeksikan musuh-musuh Islam. Pada faktanya, kondisi umat yang tercerai-berai hari ini memudahkan Barat untuk melancarkan politik adu domba.
Untuk itu, upaya untuk membebaskan Palestina sesungguhnya membutuhkan satu komando dari seorang khalifah. Melalui institusi politik Islam yakni negara Khilafah, negeri-negeri muslim yang hari ini tersekat dalam ikatan nasionalisme dengan konsep nation state akan dipersatukan.
Sementara itu, sebagai pemimpin, khalifah akan memobilisasi kaum muslim untuk berjihad melawan entitas Yahudi. Jihad adalah solusi riil atas permasalahan Palestina hari ini. Perang opini yang Barat lancarkan untuk mendiskreditkan jihad hari ini telah membuat umat jauh dari solusi hakiki pembebasan Palestina. Padahal, Islam dengan tegas memberikan legitimasi untuk melakukan perlawanan terhadap pihak-pihak yang terlebih dahulu memerangi kaum muslim.
Pembebasan Palestina adalah bagian dari perjuangan melawan penjajahan yang didukung oleh kekuatan negara adidaya. Al-Qur’an menegaskan prinsip tersebut dengan memerintahkan umat Islam untuk berjuang di jalan Allah sebagaimana firman-Nya, “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian… Bunuhlah mereka di mana saja kalian jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.” (QS Al-Baqarah [2]: 190-191).
Inilah agenda politis untuk membebaskan Palestina yang wajib umat Islam perjuangkan. Tentu, dibutuhkan upaya-upaya sistematis untuk mengopinikan metode Islam dalam mengurai masalah Palestina. Di sinilah pentingnya perjuangan Islam politis yang dimobilisasi oleh jemaah dakwah Islam ideologis, agar umat dapat merumuskan perjuangan dalam upaya mewujudkan hadirnya institusi politik yang mempersatukan negeri-negeri Islam, sekaligus membebaskan negeri Islam yang saat ini sedang terjajah. Wallahualam bissawab. [MNews/JM-NA]
