Selama roda ekonomi masih berputar dalam sistem kapitalisme, problem pengangguran tidak akan pernah menemukan jalan keluar. Bonus demografi tidak bisa dioptimalkan, potensi generasi muda terbuang sia-sia, bahkan menimbulkan masalah sosial.
Kategori: Kemaslahatan Publik
Tren Job Hugging, Kapitalisme Global Terpelanting
Fenomena job hugging adalah efek domino atas ketidakmampuan sistem kapitalisme global dalam menjamin pekerjaan bagi masyarakat. Dari job hugging, tampak bahwa sistem kapitalisme global terpelanting.
Petani Merugi, Rafinasi Rembes, Tata Kelola Tidak Beres
Ratusan ribu ton gula hasil panen petani tidak terserap pasar. Kondisi ini diperparah oleh rembesan gula rafinasi impor ke pasar konsumsi. Ironi, negara membiarkan petani dibayangi risiko, sebaliknya realitas di pasar menguntungkan mafia dan oligarki gula. Ini jelas menunjukkan negara gagal menjalankan tugas dasarnya sebagai raa’in.
Beras Mahal Saat Stok Melimpah, Jaminan Pangan Masih Wacana
Pemerintah membanggakan stok beras yang berlimpah dan memprediksi tidak akan impor beras tahun ini. Namun, stok yang melimpah ternyata tidak mampu menstabilkan harga beras. Ini akibat pemerintah hanya fokus meningkatkan stok dengan cara impor, tapi abai pada distribusi.
Bunuh Diri Marak karena Pinjol dan Judol, Bukti Rusaknya Sistem Kapitalisme
Meski pinjol dan judol telah banyak memakan korban, pemerintah tampak gamang untuk menutup total pintu pinjol dan tidak bersikap tegas pada praktik judol. Selama masyarakat masih bertahan dengan sistem kapitalisme, lingkaran penderitaan dan tragedi bunuh diri akibat pinjol dan judol tidak akan pernah berhenti.
Krisis Pasar Tenaga Kerja Global, Kapitalisme Gagal Mewujudkan Kesejahteraan
Selama sistem kapitalisme masih mendominasi dunia, juga Indonesia, pengangguran akan selalu menjadi masalah utama. Selama negara hanya bertindak sebagai regulator dan fasilitator bagi kepentingan kapitalis, kesejahteraan rakyat mustahil terwujud.
Biskuit Stunting, Korupsi, dan Ironi Negeri
Dugaan korupsi terjadi pada program makanan tambahan (PMT) untuk balita dan ibu hamil. Miris, jargon pengentasan kemiskinan dan perbaikan gizi hanyalah narasi. Rakyat menjadi korban dari program yang seharusnya menyelamatkan mereka. Fenomena ini memperlihatkan wajah asli kapitalisme yang busuk.
Gejolak Beras dan Rapuhnya Sistem Ketahanan Pangan Nasional
Dalam sistem kapitalisme, beras diperlakukan sebagai komoditas ekonomi, bukan sebagai kebutuhan dasar rakyat yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Negara hanya sebagai regulator dan pelayan korporasi, bukan pengurus rakyat. Paradigma kapitalistik inilah yang melahirkan krisis berulang di sektor perberasan.
Pemangkasan BUMN, demi Efisiensi atau “Jalan Tol” Swastanisasi?
Sungguh, dengan dalih efisiensi, pemangkasan BUMN tampak sebagai langkah modernisasi. Namun, di balik itu tersimpan bahaya besar, karena negara sama saja sedang membuka jalan bagi swastanisasi layanan publik.
Bansos Salah Sasaran, Rakyat Menjadi Korban
Lagi-lagi terjadi kasus bansos salah sasaran. Orang-orang yang benar-benar miskin justru tidak mendapatkan bantuan. Ini dampak penerapan sistem administrasi dalam sistem kapitalisme yang tidak berprinsip melayani rakyat. Akibatnya, rakyat menjadi korban.
Delapan Dekade Merdeka, Pendidikan dan Kesehatan Masih Terjajah
Delapan puluh tahun merdeka dari penjajahan fisik, tetapi Indonesia belum merdeka dari buruknya sistem pendidikan dan kesehatan. Dalam kapitalisme, pendidikan dan kesehatan diperlakukan sebagai komoditas bisnis. Ini bukanlah merdeka, tetapi belenggu penjajahan dalam bentuk yang berbeda.
Masalah Beras Akan Beres dalam Sistem Khilafah
Di satu sisi harga beras mahal karena stok pada tingkat retail menipis, tapi di sisi lain stok di gudang Bulog melimpah. Sayang, negara abai mengawasi distribusi sehingga kerap terjadi kekurangan stok beras di pasar. Rakyat juga dihadapkan pada fluktuasi harga yang membuat harga beras tidak stabil dan cenderung melambung. Karut marut tata niaga beras ini berakar dari pengelolaan ala sistem kapitalisme.
