Perundungan menjadi permasalahan krusial pendidikan di Indonesia. Laporan PISA 2025 menunjukkan bahwa 24% siswa Indonesia menjadi korban perundungan. Fenomena ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan nyata gagalnya sistem pendidikan sekuler kapitalisme melindungi generasi.
Tag: bullying
Tragedi Penyiksaan Anak hingga Meregang Nyawa, Dampak Disfungsi Orang Tua
Kekerasan pada anak dalam keluarga sering terjadi karena orang tua tidak menjalankan peran sebagai pengasuh, pendidik, dan pelindung yang baik bagi mereka. Disfungsi orang tua di dalam keluarga tidaklah terjadi dengan sendirinya, tetapi sejatinya terkait erat dengan sistem sekuler kapitalisme yang saat ini tegak.
Hanya Sistem Islam yang Mampu Menuntaskan Masalah Bullying!
Telah terjadi beberapa kasus balas dendam oleh korban bullying yang menimbulkan banyak korban. Maraknya bullying menunjukkan bahwa ada yang salah dengan sistem pendidikan sekuler saat ini. Hanya sistem pendidikan Islam yang mampu menuntaskan masalah bullying.
[Editorial] Sistem Pendidikan Sekuler Kian Membahayakan, Masih Layakkah Dipertahankan?
Merebaknya kasus bullying dengan kasus-kasus kekerasan yang mengikutinya menambah panjang daftar persoalan yang menyangkut generasi saat ini. Semuanya menyisakan pertanyaan, apa yang terjadi dengan dunia pendidikan kita sehingga output-nya sedemikian menyedihkan?
Jalan Buntu Mengatasi Perundungan dengan Slogan “Kampus Inklusif, Aman, dan Manusiawi”
Kasus perundungan, kekerasan, hingga bunuh diri, terus berulang di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kampus yang semestinya menjadi ruang tumbuh, justru berubah menjadi ruang tekanan, baik secara sosial, akademik, maupun psikologis.
Bahaya Laten Bullying di Dunia Pendidikan
Bullying sudah menjadi bahaya laten pendidikan. Bullying bukan hanya berupa kekerasan fisik atau verbal, tetapi juga intimidasi halus hingga korban terdorong melakukan bunuh diri. Kondisi ini tidak muncul secara tiba-tiba. Faktor penyebab utamanya ialah sistem kehidupan sekuler kapitalisme.
Indonesia Darurat KDRT dan Kekerasan Remaja, Islam Mencegahnya Sejak Awal
Rangkaian kasus-kasus KDRT dan kekerasan remaja merupakan alarm rapuhnya ketahanan keluarga. Meski negara telah mengeluarkan UU 23/2004 tentang PKDRT, faktanya KDRT justru menunjukkan tren kenaikan. Hanya Islam yang mampu memberikan perlindungan dari kekerasan, baik KDRT atau kekerasan lainnya, termasuk kekerasan remaja.
Gangguan Mental Remaja Meningkat, Perundungan Makin Berat
Fenomena gangguan mental di kalangan remaja kian memprihatinkan, sedangkan kasus perundungan tidak kalah mengerikan. Lebih dari itu, negara gagal menjalankan fungsi utama sebagai pengurus urusan rakyat. Akibatnya, remaja menjadi korban sekaligus pelaku dalam lingkaran krisis yang kian mengkhawatirkan.
Marak Remaja Terjerat Narkoba dan Tindak Kekerasan, Bukti Kegagalan Sistem Pendidikan
Peristiwa kekerasan dan narkoba bukan kasuistik, melainkan sudah menjadi fenomena karena hampir merata di setiap daerah dengan pelaku dari berbagai level usia. Fakta ini tidak bisa dipisahkan dari sistem pendidikan di Indonesia yang sekuler-materialistis.
[Kabar] Sosialisasi untuk Mencegah Perundungan, Akademisi: Tidak Menyelesaikan Akar Masalah
Mahasiswa KKN 92 Universitas Islam Sunan Ampel Surabaya melakukan sosialisasi untuk mencegah perundungan dan sentuhan tidak aman di SDN 3 Tlanak, Lamongan. Menurut akademisi Umi Sa’adah, S.Kom., M.Kom., pengajaran seperti itu penting, tetapi tidak menyelesaikan akar masalah.
Perundungan Makin Marak, Bukti Krisis Perlindungan terhadap Anak
Kasus perundungan di kalangan pelajar makin mengkhawatirkan. Seluruh program pemerintah yang bertujuan melindungi anak dari kekerasan seakan-akan tidak bertaji sehingga kasus perundungan masih marak terjadi. Ini menunjukkan kegagalan regulasi dalam melindungi anak dari perundungan.
Bullying, Kapan Berakhir?
Bullying bukan lagi dosa, melainkan sudah menjadi bencana dan malapetaka yang menyesakkan dalam dunia pendidikan. Makin ke sini, kasus bullying makin ngeri. Dari bullying verbal, hingga penganiayaan fisik yang berakhir kematian. Ada apa dengan generasi kita?
