Di Kalimantan Barat pernah berdiri sekira 23 kesultanan. Banyaknya jumlah kesultanan setidaknya menunjukkan bahwa wilayah Kalimantan Barat memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Di daerah ini pun banyak ditemukan peninggalan-peninggalan sejarah mulai dari istana, pemakaman, dan masjid-masjid.
Kategori: Tapak Tilas
[TapakTilas] Islam di Kuta-Ringin
Kehadiran kekuasaan politik di Kotawaringin membuat proses islamisasi berjalan makin masif di seluruh wilayah Kalimantan Tengah. Masyarakat yang mayoritas menganut animisme dinamisme dan Hindu akhirnya masuk ke haribaan Islam.
[Tapak Tilas] Kesultanan Kutai dan Runtuhnya Kerajaan Hindu Tertua di Nusantara
Pengaruh Islam di Kesultanan Kutai Kertanegara benar-benar kuat. Ini tampak dari pemberlakuan undang-undang asar Kesultanan yang berdasarkan pada syariat Islam. Undang-undang dasar ini kemudian dikenal dengan nama “Panji Selaten” dan “Undang-Undang Baraja Nanti”.
[Tapak Tilas] Kesultanan Banjar dan Peran Dakwahnya di Kalimantan
Kesultanan Banjar menjadikan Islam sebagai agama resmi negara. Kesultanan pun berperan aktif dalam aktivitas penyebaran agama Islam. Hal ini terus berlangsung dari masa ke masa.
[TapakTilas] Islam di Pulau Seribu Sungai
Kehadiran kekuasaan politik Islam pertama, yakni Kesultanan Banjar di Pulau Seribu Sungai sebagai sebutan lain bagi Pulau Kalimantan, ternyata tidak bisa dilepaskan dari peran salah seorang anggota Wali Sanga, Sunan Giri.
[Tapak Tilas] Kesultanan Banten, Antara Kejayaan dan Keruntuhan
Pelan, tetapi pasti, Kesultanan Demak berhasil menaklukkan berbagai wilayah penting di bagian utara, tengah, dan timur Pulau Jawa. Bahkan, beberapa kesultanan Islam yang sudah berdiri sebelumnya akhirnya menyatakan bergabung ke dalamnya, termasuk Kesultanan Cirebon yang sudah ada sejak 1448.
[Tapak Tilas] Kesultanan Cirebon, Antara Legenda Sunda dan Peran Wali Sanga
Kesultanan Cirebon benar-benar memfungsikan diri sebagai benteng Islam. Selain menguatkan dakwah ke dalam, kesultanan ini pun kerap melakukan jihad melawan semua kekuatan yang menentang dakwah dan mendatangkan kemudaratan bagi umat Islam.
[Tapak Tilas] Ziarah ke Masjid Demak, Menggali Spirit Perjuangan Islam
Sejak didirikan, Masjid Demak bukan hanya menjadi pusat ibadah dan pengajaran Islam. Akan tetapi, sudah berfungsi sebagai pusat pemerintahan kesultanan sekaligus pusat dakwah Islam politik di Pulau Jawa. Konon para wali sanga sering kali mengadakan pertemuan di masjid ini sampai-sampai Kota Demak dikenal sebagai Kota Wali.
[Tapak Tilas] Cahaya Islam di Jawadwipa
Kehadiran Syekh Jumadil Qubro bersama rombongan di Jawa bukan karena kebetulan. Beliau adalah mufti dan penasihat Kekhalifahan Turki Utsmani. Ia diutus menyebarkan ajaran Islam ke berbagai daerah, termasuk Pulau Jawa (Jawadwipa). Peran Khilafah dalam menyebarkan dakwah Islam di Jawa benar-benar tidak bisa dinafikan.
[Tapak Tilas] Penyebaran Islam di Sai Bumi Ruwa Jurai
Lampung memiliki posisi penting sejalan dengan naiknya posisi Kesultanan Banten sebagai pesaing VOC. Bahkan pada aspek perdagangan, wilayah Lampung kian diperhitungkan, terutama karena merupakan penghasil lada yang menjadi komoditas strategis di level dunia.
[Tapak Tilas] Jejak Islam di “Venesia dari Timur”
Hubungan politik Kerajaan Sriwijaya dan Khilafah Umayah amat luas sehingga jarak yang jauh tidak menghalangi keduanya mengadakan hubungan luar negeri. Pengaruh Islam sedemikian menarik perhatian sang raja hingga ia berkenan membuka diri dan wilayah kerajaannya untuk menerima dakwah Islam.
[Tapak Tilas] Istana Siak Sri Inderapura, Jejak Kekuasaan Politik Islam di Provinsi Riau
Banyak hikmah yang bisa diambil dari sejarah Kesultanan Siak Sri Inderapura, terutama tentang urgensi membangun kepemimpinan berbasis akidah dan pemahaman ideologi Islam. Tanpa keduanya, kekuasaan hanya akan menjadi alat pemuas naluri eksistensi diri, kebanggaan, dan sekadar prestise. Ia akan mudah diintervensi, bahkan dilemahkan oleh kekuatan yang lebih besar.
