Penulis : Siti Nafidah Anshory, M.Ag
Muslimah News, TAPAK TILAS — Kekhawatiran akan menguatnya pengaruh politik dan ekonomi Kesultanan Demak dan Cirebon di Jawa bagian barat, telah mendorong Raja Sunda Pajajaran Prabu Siliwangi untuk berkongsi dengan penjajah Portugis yang berpusat di Malaka.
Saat itu, Kesultanan Demak yang tegak sejak 1475 atas perjuangan para Wali Sanga, memang telah berhasil menjadi kekuatan politik sangat besar, bahkan merepresentasi kekuatan Khilafah Islam Utsmani di Pulau Jawa.
Betapa tidak? Pelan, tetapi pasti, Kesultanan Demak berhasil menaklukkan berbagai wilayah penting di bagian utara, tengah, dan timur Pulau Jawa. Bahkan, beberapa kesultanan Islam yang sudah berdiri sebelumnya akhirnya menyatakan bergabung ke dalamnya, termasuk Kesultanan Cirebon yang sudah ada sejak 1448.

Isi Perjanjian
Perjanjian antara Kerajaan Sunda dan penjajah Portugis terjadi tepatnya pada 21 Agustus 1522. Saat itu, pihak Kerajaan Sunda Pajajaran diwakili putra Prabu Siliwangi yang bernama Sang Hyang alias Pangeran Surawisesa. Sementara itu, pihak Portugis diwakili Henrique Leme atas perintah Alfonso.d’Abulquerque sebagai representasi Kerajaan Portugis di Malaka.
Adapun diktum perjanjiannya berisi, antara lain, pernyataan kesanggupan pihak Portugis membuat benteng pertahanan di Sunda Kelapa dan membantu Kerajaan Sunda melawan musuh-musuhnya. Sedangkan pihak Kerajaan Sunda berjanji akan menyerahkan 1.000 karung lada yang saat itu posisinya setara emas di Eropa. Juga menyatakan bersedia memberi izin pada pihak Portugis untuk membangun loji (kantor dagang) di Sunda Kelapa, sekaligus memberi tempat yang aman bagi bersandarnya kapal-kapal dagang Portugis di daerah Ciliwung dekat Sunda Kelapa.
Perjanjian tersebut kemudian diabadikan oleh pihak Portugis dalam bentuk prasasti yang dikenal dengan Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal atau Padrão Sunda Kelapa. Batu prasasti tersebut saat ini tersimpan dengan baik di Museum Nasional, Jakarta. Sementara itu, dokumen perjanjian yang memalukan ini masih tersimpan di museum arsip nasional kedua negara dan menjadi saksi kekalahan politik kerajaan legendaris di tatar Sunda pada kekuatan Islam.

Cikal Bakal Kesultanan Banten
Tegaknya kekuasaan Islam di Demak, serta keberadaan institusi Wali Sanga di Pulau Jawa memang telah menjadikan proses dakwah dan fatah di berbagai wilayah Pulau Jawa khususnya, berjalan kian masif dan luas. Salah satunya adalah di daerah Banten yang saat itu masih merupakan kerajaan vasal bagi Kerajaan Sunda Pajajaran pada periode kepemimpinan Prabu Siliwangi atau Sri Baduga.
Adalah Syekh Maulana Hasanuddin alias Fatahillah alias Faletehan alias Pangeran Saba Kingkin, mendapat tugas dari Wali Sanga untuk merintis dakwah di wilayah Banten Pesisir sejak 1522. Fatahillah adalah salah seorang putra Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah) yang merupakan salah satu anggota Wali Sanga sekaligus cucu Prabu Siliwangi. Saat itu posisi Sunan Gunung Jati adalah sebagai Sultan Kasunanan Cirebon ke-2 periode 1479—1568.
Dakwah Fatahillah mendapat sambutan baik dari masyarakat dan penguasa Banten yang masih menganut agama Hindu dan Sunda Wiwitan. Bahkan, banyak dari mereka yang akhirnya masuk ke dalam agama Islam dan turut berperan dalam penyebaran dakwah ke wilayah-wilayah sekitar.
Alhasil, wilayah dakwah Fatahillah makin meluas hingga ke wilayah Banten lainnya. Keadaan inilah yang makin menguatkan kekhawatiran Raja Sunda akan lemahnya loyalitas rakyat dan penguasa dari kerajaan-kerajaan vasalnya. Terlebih pada masa raja-raja Sunda sebelumnya, sudah banyak wilayah vasal Kerajaan Sunda yang lepas. Salah satunya, kerajaan Cirebon, setelah rakyat dan para penguasanya berbondong-bondong masuk ke dalam agama Islam.
Kemudian, di wilayah-wilayah tersebut, terbentuk kekuasaan-kekuasaan Islam yang akhirnya bergabung ke dalam kekuasaan Kesultanan Demak yang berdiri, kemudian hingga akhirnya tumbuh menjadi kekuatan superbesar.
Kesultanan Demak dengan kesultanan-kesultanan Islam di bawahnya saat itu, memang berhasil satu demi satu menguasai pelabuhan-pelabuhan perdagangan di Utara Pulau Jawa yang ramai dikunjungi pedagang mancanegara. Bahkan, selain menjadi pusat perekonomian bagi Demak, pelabuhan itu juga menjadi semacam pangkalan militer yang menunjukkan kedigdayaan politik Demak.

Kondisi ini menambah kekhawatiran Prabu Siliwangi. Ia khawatir pelabuhan terbesar kerajaannya di Sunda Kelapa juga akan jatuh kepada Kesultanan Demak. Itulah yang mendorongnya untuk segera meminta bantuan kepada pihak Portugis. Terlebih sebelumnya Portugis telah berhasil mengalahkan kesultanan-kesultanan Islam di Sumatra, bahkan berhasil merebut pelabuhan terbesar di Asia Tenggara, yakni di Selat Malaka pada 1511.
Tentu saja, bagi pihak Demak, manuver politik Prabu Siliwangi ini dianggap sebagai upaya provokasi. Bagaimanapun, Portugis di mata Demak adalah musuh negara sekaligus musuh Islam.

Saat Demak dipimpin sultan pertamanya, yakni Raden Patah, tepatnya pada 1513 dan 1521, ia pernah mengutus rombongan jihad di bawah komando Pati Unus atau dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor atau Raden Abdul Qadir untuk mengusir Portugis di Malaka. Sayang, upayanya ini gagal. Pati Unus syahid dalam pertempuran itu dan posisinya digantikan oleh adik iparnya, Trenggana, sebagai Sultan Demak selanjutnya.
Itulah sebabnya, setelah perjanjian antara Raja Sunda dan Portugis pada 1522, Sultan Demak memutuskan untuk siap-siap memobilisasi kekuatan menyerang Sunda Kelapa. Sejalan dengan itu, dakwah Syekh Maulana Hasanuddin (Fatahillah) di Banten pun terus menguat.
Beliau juga mendapat sokongan penuh dari ayahnya, yakni Sunan Gunung Jati yang saat itu berposisi sebagai Sultan Cirebon. Hingga pada 8 Oktober 1526, Syekh Maulana Hasanuddin akhirnya berhasil menegakkan kekuasaan politik di Banten, meski posisinya “hanya” sebagai keadipatian bagi Kesultanan Cirebon.
Merebut Sunda Kelapa
Serangan Demak atas pelabuhan Sunda Kelapa akhirnya tereksekusi pada 1527. Demak kala itu sedang dipimpin oleh Sultan Trenggana dan sedang ada pada puncak kejayaannya. Kekuasaan Demak saat itu bukan hanya meliputi wilayah Jawa saja, melainkan mencakup wilayah Jambi dan Palembang di Sumatra bagian timur.
Untuk misi penyerangan tersebut, Sultan Trenggana memobilisasi pasukan gabungan dari Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, dan Kesultanan Banten yang baru saja berdiri. Sultan Trenggana bahkan menunjuk Fatahillah, Sultan Banten pertama untuk memimpin pasukan tersebut, dengan target mengusir penjajah Portugis dan merebut Sunda Kelapa dari Kerajaan Sunda.

Pada 22 Juni 1527, terjadilah pertempuran dahsyat antara pasukan Kerajaan Sunda yang dibantu tentara Portugis yang ada di sana. Pertempuran tersebut berakhir dengan kekalahan Kerajaan Sunda dan sekutunya hingga Pelabuhan Sunda Kelapa akhirnya bisa direbut pasukan Fatahillah. Sejak saat itulah, nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta yang berarti ‘Kota Kemenangan’ dan Fatahillah mendapat gelar Pangeran Jayakarta I.
Kekalahan telak Kerajaan Sunda pada pertempuran ini tidak lepas dari pengingkaran pihak Portugis terhadap perjanjian yang sudah dilakukan. Pada tahun-tahun tersebut, Kerajaan Portugis tengah menghadapi kisruh politik di daerah jajahannya di Goa India sekaligus sedang menghadapi serangan masif Kesultanan Mughal yang merepresentasi kekuasaan khilafah Utsmani di anak benua India.
Kondisi ini benar-benar mengalihkan fokus Kerajaan Portugis dari kepentingannya di Jawa, bahkan wilayah nusantara lainnya. Alhasil, janji membantu pertahanan Kerajaan Sunda dari Demak dengan membangunkan benteng pertahanan di Sunda Kelapa akhirnya tidak bisa direalisasikan, meski 1.000 karung lada kadung diserahkan Raja Sunda dan diangkut kapal-kapal Portugis ke pusat kerajaannya di Eropa sana.
Puncak Kejayaan
Demikianlah, direbutnya Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi prestasi tersendiri bagi Sultan Fatahillah. Kepemimpinan politik beliau di Banten makin menguat dan kian diperhitungkan kawan maupun lawan. Terlebih pada saat yang sama kejayaan Demak mulai memudar setelah wafatnya Sultan Trenggana, bahkan kemudian runtuh pada 1554.
Sultan Fatahillah juga berhasil menjadikan Banten dengan Selat Sundanya sebagai Kota Maritim sekaligus pelabuhan yang penting di Asia Tenggara. Pada masanya, kekuasaan Banten bahkan meluas hingga ke Lampung dan Palembang. Sayang, saat Kesultanan Banten berlanjut pada generasi ke-4, penjajah Belanda mulai membayang-bayangi kekuasaan Banten di Jawa.
Pada 1596 Belanda berusaha masuk ke wilayah Banten, tetapi mendapat perlawanan luar biasa. Lalu dengan melalui proses panjang, pada 30 Mei 1619, di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen, Belanda berhasil merebut Jayakarta. Ia bahkan memusnahkan Jayakarta dan membangun kota baru bernama Batavia di atas puing-puingnya.

Dari Batavia inilah Belanda berusaha mengusik lebih dalam atas Kesultanan Banten. Namun, dari masa ke masa, upayanya gagal, termasuk ketika Kesultanan Banten dipegang oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651—1683). Beliau memang dikenal sebagai pemimpin yang kuat, visioner dan anti Belanda. Hingga Belanda pun sangat membenci dirinya.
Pada masanya, kekuatan politik dan militer Banten kian terkenal di seantero dunia. Hal ini karena beliau berhasil menjadikan Banten sebagai bandar utama perdagangan lada terbesar tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi di Nusantara dengan menggantikan posisi Aceh dan Makassar.
Pada masanya pula, Banten benar-benar jaya dan sejahtera. Beliau dikenal cukup concern dengan bidang pendidikan dan budaya. Beliau banyak mendirikan pusat-pusat pendidikan, bahkan membangun masjid kesultanan yang masih tegak hingga sekarang. Beliau juga kerap mengutus para utusan untuk menjalin hubungan dengan dunia Islam di Makkah, hingga kekuasaan beliau mendapat pengukuhan dari Syarif Makkah yang menandai hubungannya dengan Kekhalifahan Utsmaniyah.
Kondisi inilah yang membuat Belanda (VOC) terus berusaha mencari cara agar Kesultanan Banten bisa tunduk dalam genggamannya, termasuk memblokade para pedagang untuk masuk ke pelabuhan Banten yang dijawab dengan serangan pasukan Banten ke pusat pemerintahan Belanda (diwakili VOC) di Batavia pada 1656.
Sayang, kepemimpinan beliau mendapat ujian dari anak laki-lakinya, yakni Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahhar. Belanda berhasil menghasut Sultan Haji yang terpukau gaya hidup Eropa hingga berani menentang kebijakan ayahnya yang anti Belanda. Bahkan, atas bantuan Belanda, akhirnya pada 1683 Sultan Haji berhasil merebut kekuasaan dari ayahnya. Lalu Belanda pun menangkap ayahnya dan mengasingkannya di Batavia hingga beliau wafat.
Berakhir Hina
Naiknya Sultan Haji menjadi titik akhir kejayaan Kesultanan Banten. Ia tanpa malu memosisikan diri sebagai “boneka Belanda” yang patuh pada tuannya, terutama saat ia menandatangani perjanjian antara Kesultanan Banten dengan Belanda pada 17 April 1684. Di bawah kaki penjajah inilah, Kesultanan Banten yang sebelumnya mulia jatuh menjadi hina dina.
Sejarah Banten setelah kekuasaan Sultan Haji terus ditandai kekisruhan. Hal ini membuat cengkeraman Belanda atas Banten makin menguat, sejalan dengan menguatnya penjajahan Belanda di bumi Nusantara. Bahkan, pada 1809, pemerintahan Belanda di Hindia yang diwakili Gubernur Jenderalnya, yakni Daendels, akhirnya menghapus Kesultanan Banten dan menjadikannya sebagai bagian dari wilayah kerajaan Belanda yang harus tunduk pada aturan Kerajaan Belanda di Eropa.

Sungguh, fase sejarah Banten ini menjadi fase yang menyedihkan. Oleh karenanya, generasi muslim hari ini harus mampu mengambil pelajaran bahwa kepemimpinan tanpa visi Islam hanya akan menjadi pecundang.
Ketika hari ini penjajahan gaya baru masih mencengkeram, ada tugas suci bagi mereka untuk mengembalikan kemuliaan dengan menegakkan kepemimpinan berdasar ideologi Islam. [MNews/Gz]
Ilustrasi sampul: ©wisatajawa[dot]com
*Dinarasikan ulang dari berbagai sumber bacaan.
