Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Kesultanan Banjar bisa dikatakan sebagai institusi politik Islam pertama yang berdiri di Pulau Kalimantan. Kesultanan ini terbentuk pada 1526 M, jauh setelah proses dakwah Islam berjalan secara alami di tengah-tengah masyarakat Kalimantan Selatan.
Para sejarawan menyebut, masyarakat di wilayah ini sudah berinteraksi dengan orang-orang muslim sejak abad ke-7 melalui hubungan perdagangan. Selain karena sejak lama sudah masuk dalam rute alternatif perdagangan antara Barat (Arab, Persia, dan India) dan Timur (Tiongkok), wilayah ini juga dikenal sebagai penghasil komoditas tertentu yang diburu para pedagang mancanegara, seperti lada, madu, rotan, emas, intan, damar, kulit binatang, dll..
Namun ada juga sejarawan yang menyebut bahwa perkenalan mereka dengan Islam adalah berkat upaya aktif para dai utusan kesultanan-kesultanan yang tegak lebih dulu di Sumatra, mulai dari Kesultanan Peureulak, Samudera Pasai, Aceh Darusalam hingga Malaka. Merekalah yang pelan, tetapi pasti, berhasil mengislamkan penduduk Kalimantan yang sebelumnya menganut animisme dan ajaran Hindu.
Benih Kekuasaan Politik Islam
Adapun tegaknya Kesultanan Banjar pada 1526 M sendiri sebenarnya merupakan hasil upaya dakwah para dai utusan Khilafah yang dilakukan melalui jalur politik. Mereka mengasas dakwah politik ini di bawah pimpinan Sunan Giri yang merupakan salah seorang anggota dewan wali sanga. Konon beliau datang bersama rombongan sebanyak tiga kapal dagang yang tiba di Bandar Masih (Banjarmasin) sekira tahun 1470 M.
Jika memperhatikan tahun kedatangannya, tampak bahwa dakwah politik yang beliau lakukan berlangsung cukup lama. Namun, saat dakwah para wali sanga di wilayah Jawa berhasil menegakkan Kesultanan Demak sekira tahun 1475, kesultanan inilah yang kelak akan memberi dukungan terbesar bagi berdirinya kekuasaan politik di Kalimantan Selatan dalam waktu yang cukup cepat.
Hal itu terutama terjadi saat Kesultanan Demak mengalami kejayaannya di bawah kepemimpinan sultan ke-3 yakni Sultan Trenggana yang berkuasa dua kali, yakni tahun 1505-1513 dan 1521-1546. Pada era ini, Kerajaan Majapahit di Jawa bagian timur dan Kerajaan Sunda Pajajaran di Jawa bagian barat yang dikenal digdaya dan menguasai wilayah-wilayah penting di Nusantara, mampu ditaklukkan.
Bahkan bekas-bekas wilayah kedua kerajaan Hindu ini mengalami keguncangan politik luar biasa. Sebagian langsung tunduk pada kekuasaan Demak. Sedangkan sebagian lagi menunggu waktu setelah dilanda perebutan kekuasaan.
Inilah yang juga terjadi di Kerajaan bercorak Hindu bernama Negara Daha yang ada di Kalimantan Selatan. Negara yang sebelumnya merupakan vasal Majapahit tersebut turut mengalami keguncangan. Puncaknya terjadi ketika Raden Samudera ditunjuk oleh kakeknya, yakni Raja Sukarama, untuk melanjutkan takhta kerajaan Negara Daha. Namun, keputusan tersebut menimbulkan kemarahan para putra raja sehingga terjadilah kudeta kekuasaan Raden Samudera yang dipimpin oleh Pangeran Tumenggung.
Peristiwa inilah yang membuat Raden Samudera sempat terusir dari kekuasaannya. Lalu atas nasihat Patih Bandar Masih, ia meminta bantuan militer dari Kerajaan Demak yang kala itu sedang jaya-jayanya. Lalu Kerajaan Demak pun mengirimkan lebih dari 10 ribu pasukan militer untuk membantu Raden Samudera menaklukan Daha hingga negara Hindu itu pun akhirnya runtuh tak bersisa.
Di atas puing-puing Kerajaan Nagara Daha inilah, Pangeran Samudera yang akhirnya masuk Islam dan memiliki nama Pangeran Suriansyah kemudian menegakkan kekuasaan politik Islam. Kesultanannya ini diberi nama Kesultanan Banjar yang saat itu masih berposisi sebagai bagian dari Kadipaten Kesultanan Demak.
Konon pengukuhan Raden Samudera sebagai Sultan dilakukan oleh Gubernur Khilafah, Syarif Makkah di Masjidil Haram. Beliau lalu diberi gelar Sultan Suryanullah dan menjadi sultan pertama bagi Kesultanan Banjar.
Peran Dakwah Kesultanan
Meski baru berdiri, Kesultanan Banjar langsung menjadikan Islam sebagai agama resmi negara. Kesultanan pun langsung berperan aktif dalam aktivitas penyebaran agama Islam. Hal ini terus berlangsung dari masa ke masa hingga kesultanan mengalami masa kejayaan pada era kepemimpinan Sultan Musta’in Billah (1595-1638 M).
Saat itu kemajuan terjadi pada seluruh aspek, mulai ekonomi, politik, maupun sosial dan kebudayaan. Pengaruh kekuasaan kesultanan ini pun makin meluas sejalan dengan misi dakwah dan penaklukan hingga meliputi wilayah-wilayah Kalimantan lainnya, seperti Sukadana, Kotawaringin, Kahayan Hilir, Sambas, Kintap, Satui, Asam Asam, Swarangan, Lawai, Hulu, Kutai hingga Mendawai.
Sayangnya, upaya dakwah dan penaklukan ini belum didukung dengan kecukupan kader dakwah yang memadai. Hingga sampailah pada era kepemimpinan Sultan Tamjidullah I (1734-1759 M), Sultan Banjar XI, beliau melakukan satu langkah strategis dan visioner untuk kepentingan dakwah Islam.
Saat itu beliau mencanangkan program pengiriman kader-kader ulama ke kota Makkah dan Madinah. Salah satu kader yang dikirim adalah Muhammad Arsyad Al-Banjari (lahir 1710 M) yang sekira 30 tahun kemudian kembali ke Banjar dan tampil sebagai ulama terkenal dan menjadi rujukan umat.
Beliau kemudian dikenal dengan gelar Tuan Haji Besar. Beliau berhasil membangun pusat pendidikan Islam yang disebut Dalam Pagar (semacam pesantren) di Kampung Dalam Martapura, yang didukung penuh oleh pihak kesultanan.
Ke tempat inilah para kader ulama dari berbagai tempat lainnya berdatangan. Melalui mereka, ajaran Islam di wilayah kekuasaan Banjar dan sekitarnya makin kukuh dengan basis pemahaman yang memadai. Bahkan mereka turut berperan dalam meluaskan dakwah ke bagian Kalimantan lainnya.
Tidak hanya itu, pada masa ini pulalah, karya-karya pemikiran ulama lahir dalam bentuk kitab-kitab yang fenomenal. Salah satunya adalah kitab fikih berjudul Sabilal Muhtadin karya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang banyak dipakai sebagai rujukan oleh kaum muslim yang bermazhab Imam Syafi’i, tidak hanya di Nusantara, tetapi di Asia Tenggara. Diketahui, kitab ini pun menjadi referensi keilmuan di Universitas Al Azhar Mesir, serta menjadi pegangan ibadah umat Islam bermazhab Syafii di seluruh dunia.
Meredupnya Peran Dakwah
Sayangnya, hadirnya pengaruh VOC yang mulai diberi celah sejak kepemimpinan Sultan Inayatullah (1636-1645) dengan perjanjian dagang, menjadi awal kemunduran politik Kesultanan Banjar. Saat itu, sultan mengizinkan pendirian kantor dagang VOC di wilayah kesultanan yang berarti mengizinkan campur tangan Belanda dalam urusan-urusan umat Islam.
Dari sinilah konflik demi konflik mewarnai kehidupan politik umat Islam di Kalimantan Selatan. Bahkan Belanda dengan politik devide et impera berhasil mempertajam konflik yang terjadi di antara para petinggi Kesultanan Banjar. Kondisi ini diperparah dengan munculnya konflik antara Kesultanan Banjar dengan Kesultanan Mataram pada 1663.
Namun, kondisi ini tentu bukan tanpa perlawanan. Ruh Islam yang sudah merasuk melalui dakwah di tengah masyarakat Banjar menjadi energi besar bagi munculnya gerakan perlawanan terhadap penjajahan. Bahkan perlawanan ini berlangsung nyaris tanpa henti sepanjang lebih dari 50 tahun (1859-1905).
Spirit Islam dalam perlawanan rakyat Banjar salah satunya tampak saat Pangeran Antasari diangkat sebagai Sultan dengan gelar “Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin” pada 14 Maret 1862. Saat itu, beliau tidak hanya diangkat sebagai Sultan, tetapi juga diangkat sebagai pemimpin agama dan pemimpin perlawanan terhadap Belanda oleh seluruh rakyat, para pejuang, para pemimpin Dayak, serta pemimpin-pemimpin kadipaten di bawah Kesultanan Banjar.
Dalam buku Mengenal Pahlawan Indonesia, karya Arya Ajisaka, Penerbit Kawan Pusaka, 2004 disebutkan kutipan seruan perjuangan yang kerap beliau sampaikan, “Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah!” Ini membuktikan tingginya kesadaran ruhiyah Sang Pangeran yang tidak bisa dilepaskan dari kuatnya akidah dan pemahanan-pemahaman Islam. Masyaallah!
Tentu bukan hanya beliau. Kegigihan masyarakat Banjar dalam melawan penjajahan terus terpelihara di bawah kepemimpinan pahlawan-pahlawan lainnya. Misalnya, ada Gusti Mat Seman, Gusti Acil, Gusti Muhammad Arsyad, dan Antung Durrahman. Semuanya berjuang atas dasar spirit Islam yang sudah melekat sejalan dengan masifnya dakwah di tengah masyarakat Banjar.
Khatimah
Kekuasaan politik Islam memang hadir bukan hanya untuk mengurus kebutuhan rakyat. Masih ada tugas yang melekat dalam kepemimpinan Islam, yakni menjaga akidah dan menyebarkan agama Islam. Semua fungsi ini dijalankan dengan baik oleh para penguasa Kesultanan Banjar, sekalipun tidak dinafikan ada di antara mereka yang kepemimpinannya lemah dan jauh dari ideal.
Kelemahan tersebut bisa dipastikan sejalan dengan lemahnya keterikatan mereka dengan akidah dan aturan-aturan Islam. Karena sejatinya, keduanya merupakan modal kebangkitan dan kemuliaan umat Islam dari zaman ke zaman. Terbukti selama belasan abad kepemimpinan umat Islam berpegang teguh pada akidah dan syariatnya, alias berpegang teguh pada ideologi Islam, selama belasan abad pula umat Islam mampu tampil sebagai umat yang mulia, bahkan mampu memimpin dunia. [MNews/Rgl]
*) Dinarasikan ulang dari berbagai sumber bacaan.
