[Tapak Tilas] Cahaya Islam di Jawadwipa

[Tapak Tilas] Cahaya Islam di Jawadwipa

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

Muslimah News, TAPAK TILAS — Sebelum Islam menjejak di bumi Jawa, mayoritas masyarakat sudah menganut ajaran Hindu dan Buddha. Mereka saat itu hidup di bawah naungan Kerajaan Majapahit yang pusat kekuasaannya ada di Trowulan, Jawa Timur.

Kerajaan Majapahit sendiri tegak sejak 1293 M di atas puing-puing Kerajaan Singasari. Raja pertamanya bernama Raden Wijaya, menantu Raja Singasari terakhir bernama Kertanegara.

Kerajaan ini sempat mengalami kejayaan saat dipimpin oleh cucu Raden Wijaya bernama Hayam Wuruk (1350—1389) alias Raja Kartarajasa. Patihnya, yakni Gajah Mada, dikenal punya ambisi menyatukan seluruh wilayah Nusantara. Ia sampaikan tekadnya ini dalam bentuk sumpah yang terkenal dengan sebutan Sumpah Palapa.

Sokongan kekuatan armada laut yang tangguh membuat wilayah kekuasaan Majapahit pada masa itu terus bertambah luas. Konon kekuasaannya meliputi sebagian pulau Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, ditambah Tumasik (Singapura) dan sebagian Kepulauan Filipina.

Bahkan politik luar negeri dan ekonominya pun terbilang hebat. Saat itu Majapahit memiliki hubungan dengan Campa (Thailand), Kamboja, Siam, Burma bagian selatan, Vietnam, Tiongkok, India, dan Arab. Di Asia tenggara, beberapa wilayah Majapahit tumbuh menjadi pusat perdagangan, terutama untuk komoditas lada, garam, dan kain.

Kehadiran Islam

Saat Majapahit berjaya, di beberapa wilayah Nusantara dakwah Islam sudah berjalan masif melalui jalur perdagangan dan pernikahan. Bahkan di wilayah ujung barat Nusantara sudah muncul kekuasaan politik Islam yang cukup besar, yakni Samudera Pasai. Kesultanan inilah yang turut berjasa menyebarkan Islam ke wilayah Nusantara lainnya dengan pengiriman duta-duta dakwah nan tangguh yang mengemban misi Islam melalui jalan perdagangan.

Di Pulau Jawa, wilayah yang menjadi pusat perdagangan adalah pesisir utara, khususnya di daerah Gresik, Jawa Timur. Di sinilah masyarakat Jawa yang awalnya beragama Hindu-Buddha mulai mengenal ajaran Islam.

Perkembangan dakwah di pusat wilayah Kerajaan Majapahit ini makin masif dengan kehadiran rombongan duta dakwah Khilafah di bawah kepemimpinan Syekh Jumadil Qubro atau As-Sayyid Ahmad Jalaluddin atau Syeikh Jamaluddin Akbar al-Husain dan kawan-kawan. Di antara mereka yang turut serta adalah anak beliau bernama Syekh Maulana Malik Ibrahim alias Syekh Maulana Maghribi, alias Syekh Barakat Zainal Alam, alias Syekh Makhdum Ibrahim as-Samarqandy yang kelak dikenal sebagai Sunan Gresik (w. 1419). Beliau berdua adalah keturunan Rasulullah saw..

Islam di Majapahit (Ilustrasi, Sumber: Republika)

Konon para duta tersebut datang ke daerah Gresik, Jawa Timur dan kemudian berdiam di daerah Leran, sekarang masuk wilayah Kecamatan Manyar. Melalui wasilah perdagangan, mereka membuka hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Berbagai lapisan masyarakat pun banyak yang terpikat dengan dakwah beliau, mulai dari masyarakat biasa hingga kalangan bangsawan. Banyak di antara mereka yang akhirnya masuk Islam.

Dakwah mereka bahkan mulai mengarah ke pucuk kekuasaan. Sunan Gresik sengaja berkunjung ke istana Trowulan, menghadap Raja untuk menyampaikan dakwah Islam. Konon sang raja menerima beliau dengan sangat baik meski menolak untuk masuk Islam. Salah satu buktinya, beliau diberi sebidang tanah di daerah Desa Gapura sekarang dan diizinkan membangun pusat pengajaran Islam (pesantren) di beberapa tempat.

Peran Khilafah Islam

Kehadiran Syekh Jumadil Qubro bersama rombongan, termasuk Sunan Gresik, di Jawadwipa tentu bukan karena kebetulan. Peran Khilafah dalam menyebarkan dakwah Islam di Jawa benar-benar tidak bisa dinafikan.

Syekh Jumadil Qubro alias Wali Qutub As-Sayyid Husain Jamaluddin adalah mufti dan penasihat Kekhalifahan Turki Utsmani saat dipimpin oleh Khalifah Muhammad I (Mehmed I). Ia diutus menyebarkan ajaran Islam ke berbagai daerah, mulai Asia Tengah, India hingga ke Nusantara, seperti Samudera Pasai, Pulau Jawa (Jawadwipa) dan Sulawesi.

Selain Sunan Gresik, mereka yang disebut wali sanga pun punya hubungan nasab biologis maupun nasab ilmu kepada Syekh Jumadil Qubro. Wajar jika beliau disebut sebagai leluhurnya wali sanga yang berperan besar dalam menebar cahaya Islam di Jawa. Sebagian penulis Barat bahkan menyebut mereka sebagai misionaris bagi Kekhalifahan Utsmaniyah.

Saat ini, gambaran wali sanga tereduksi sebatas ulama yang punya karamah luar biasa, padahal sejatinya istilah wali dalam struktur pemerintahan Islam adalah struktur politik setingkat gubernur atau kadipaten. Hanya saja, keterbatasan alat komunikasi dan transportasi membuat struktur ini berjalan mandiri dan bersifat umum (wali ‘am). Itulah sebabnya, posisi wali sanga laiknya seorang penguasa yang mengatur urusan agama sekaligus urusan lainnya di tengah-tengah umat. Mereka bahkan menerapkan hukum sanksi Islam, sekalipun wilayah kekuasaannya terbatas dan struktur masyarakatnya masih terbilang sederhana.

Fakta ini makin tampak ketika muncul kesultanan-kesultanan Islam di Pulau Jawa. Kesultanan yang pertama tegak adalah Kesultanan Demak yang berpusat di daerah Bintoro, Demak, Jawa Tengah. Pendiri kesultanan ini adalah salah satu murid Sunan Ampel bernama Raden Patah, alias Sultan Syah Alam Akbar al-Fatah alias Jin Bun yang berkuasa pada 1478—1518. Ia adalah anak Raja Majapahit, Brawijaya V dari istri seorang perempuan asal Cina yang telah masuk Islam.

Kesultanan Demak (Sumber: Intisari)

Kesultanan Demak benar-benar tampil sebagai representasi kekuasaan politik Islam. Bahkan pada pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia VI di Yogyakarta pada 8–11 Februari 2015, Sri Sultan Hamengkubuwono X menyampaikan pidato sebagai berikut,

“Pada 1479 Sultan Turki mengukuhkan Raden Patah sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan Kekhalifahan Islam Turki untuk Tanah Jawa dengan menyerahkan bendera Laa Ilaaha Illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain kiswah Ka’bah dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau. Duplikatnya tersimpan di Keraton Yogyakarta sebagai pusaka penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat sebagai wakil Kekhalifahan Turki.”

Terlebih ketika kesultanan ini mencapai puncak kejayaannya pada 1521—1546 di bawah kepemimpinan Sultan Trenggono. Saat itu, cahaya Islam memancar ke seluruh tanah Jawa dan luar Jawa hingga banyak kerajaan-kerajaan besar bercorak Hindu-Buddha yang akhirnya tunduk di bawah kekuasaan Demak, seperti Kerajaan Madura, Blambangan, Mataram, dan Pajang. Lalu pada saat yang sama bermunculan kesultanan-kesultanan Islam di tanah Jawa, seperti Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, Kesultanan Pajang, dan Kesultanan Mataram.

Sungguh, Kesultanan Demak telah memfungsikan dirinya sebagai institusi penerap hukum-hukum Islam, sekaligus mengemban dakwah ke wilayah-wilayah sekitar. Posisi geopolitis yang strategis membantu kesultanan ini untuk menjadi kekuatan politik, pusat ekonomi, perdagangan, dan militer yang diperhitungkan dalam pergaulan internasional.

Kekuatan polugrinya tampak pada 1527, ketika Kesultanan Demak turut berkolaborasi dengan kesultanan-kesultanan lainnya di Sumatra untuk menyerang Portugis yang sejak 1511 menguasai Malaka. Bahkan pada tahun yang sama, salah satu panglima perang sekaligus ipar Sultan Trenggono yang dikenal bernama Fatahillah alias Nurullah alias Sunan Gunung Jati, berhasil merebut Sunda Kelapa dari Portugis dan mengubah namanya menjadi Jayakarta.

Khatimah

Terlepas dari segala dinamikanya, sejarah secara jelas menunjukkan bahwa penyebaran Islam di Jawadwipa merupakan hasil kerja dakwah politik yang diemban oleh kekuasaan politik. Bahkan tidak hanya di Jawa, sejarah masuknya Islam di berbagai wilayah di Nusantara juga melibatkan peran institusi politik.

Itulah sebabnya Islam dan kekuasaan atau politik memang tidak bisa dipisahkan. Keduanya seperti dua sisi mata uang yang saling menguatkan. Kuat lemahnya hubungan keduanya sangat menentukan kejayaan umat Islam.

Oleh karenanya, musuh Islam sejak dahulu hingga sekarang terus berusaha menjauhkan Islam dari kekuasaan. Umat Islam diprovokasi untuk membenci politik dan gagasan penegakan sistem Islam dengan menempelkan berbagai tudingan buruk dan menjijikkan kepada institusi negara Islam.

Faktanya, sejarah dengan jelas membuktikan bahwa nikmat iman Islam yang mereka rasakan sekarang adalah karena peran dakwah masif yang diinisiasi kekuasaan politik Islam. Dengan demikian, umat harus segera sadar bahwa di balik semua gagasan busuk itu ada skenario besar untuk melanggengkan hegemoni penjajahan yang masih berlangsung hingga sekarang. [MNews/Rgl]

*) Dinarasikan ulang dari berbagai sumber bacaan.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *