[Kabar] Gender dan Feminisme Adalah Proyek Perubahan Identitas

[Kabar] Gender dan Feminisme Adalah Proyek Perubahan Identitas

Muslimah News, INTERNASIONAL — Munculnya gerakan-gerakan gender dan feminisme di masyarakat Barat mendapat perhatian aktivis muslim Ustaz Ahmad al-Shamali. Kepada Kantor Berita ideologis internasional, Rabu (22-10-2025), ia mengungkapkan, gerakan-gerakan tersebut merupakan proyek perubahan identitas.

Ia menerangkan, gerakan ini menganut ide-ide menyimpang yang menuntut pembebasan perempuan sepenuhnya. “Penyebabnya adalah ketidakadilan dan perampasan hak-hak paling dasar perempuan yang telah mereka alami, di bawah sistem sekuler yang telah menjerumuskan mereka ke dalam kesengsaraan,” ujarnya.

Barat, imbuhnya, melalui organisasi-organisasi internasionalnya, telah bekerja keras untuk mengekspor kerusakan ini ke negara-negara muslim. “Mereka menggunakan asosiasi-asosiasi yang berkaitan dengan kedutaan-kedutaan besarnya untuk pendanaan, dukungan, dan promosi. Tujuannya menghancurkan keluarga muslim dan mengubah konsep-konsep Islam tentang perempuan,” ucapnya.

Untuk mencapai hal ini, bebernya, Barat menetapkan perjanjian-perjanjian internasional, seperti Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) pada 1979 dan 2011. “Barat juga menyelenggarakan berbagai konferensi internasional, terutama Konferensi Perempuan di Mexico City pada 1975, Konferensi Kopenhagen pada 1980, Konferensi Kependudukan dan Pembangunan di Kairo pada 1994, dan Konferensi Beijing pada 1995,” urainya.

Sekularisasi

Menurut Ustaz Ahmad, siapa pun yang mengikuti kegiatan organisasi-organisasi ini akan dengan jelas melihat hubungan dekat mereka dengan Barat, yang dipimpin oleh Amerika Serikat. “Mereka menerima dana yang besar dari Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, dan organisasi internasional lainnya. Semuanya demi kepentingan negara-negara besar dan kebijakan mereka yang bertujuan untuk melakukan sekularisasi dan membaratkan umat Muslim, menyimpangkan mereka dari agama dan ajarannya,” ungkapnya.

Organisasi-organisasi ini, jelasnya, mengusung slogan-slogan glamor seperti “perempuan dan pendidikan”, “perempuan dan media”, dan “pemberdayaan ekonomi perempuan”.

“Kenyataannya, mereka menanamkan ide-ide berbahaya di masyarakat, terutama di kalangan perempuan, termasuk kesetaraan gender absolut, pembebasan perempuan dari belenggu agama dan keluarga, kemandirian fisik dan pribadi, serta penggantian gender,” paparnya.

Tujuan slogan-slogan menyesatkan ini, sambungnya, adalah untuk menipu perempuan, menghancurkan keluarga muslim, dan merusaknya dari dalam sehingga generasi demi generasi hilang, dan hukum-hukum syariat Islam yang berkaitan dengan perempuan dan keluarga dihapuskan.

Apalagi, ujarnya, pada hakikatnya feminisme adalah filsafat Barat yang lahir dari konflik historis yang memandang hubungan antara laki-laki dan perempuan dari perspektif kesetaraan dan konflik, bukan komplementaritas.

“Oleh karena itu, feminisme menyerukan penghapusan perbedaan alami di antara laki-laki dan perempuan, serta menganggap apa yang disebut ‘keluarga tradisional’ sebagai pembatasan kebebasan perempuan. Feminisme mempromosikan slogan kesetaraan absolut dalam arti kesamaan yang sesuai, menyerukan kebebasan seksual, dan pengurangan, terkadang penghapusan peran keibuan, juga berusaha untuk memarginalkan dan mengecualikan laki-laki,” urainya.

Runtuhnya Keluarga dan Perempuan

Akibatnya, Ustaz Ahmad menuturkan, hasil yang dipetik masyarakat Barat dari wacana ini adalah runtuhnya keluarga dengan perempuan menanggung beban ganda pekerjaan dan membesarkan anak sendirian, serta terpapar eksploitasi di pasar tenaga kerja dan hubungan intim yang kasual (tanpa komitmen), dan kehilangan dukungan alami dari suami dan keluarga.

“Ketika feminis menyerukan wacana normalisasi identitas gender, tujuannya adalah melemahkan akal sehat dan melanggengkan penyimpangan seksual dengan mempromosikan pernikahan sesama jenis dan transformasi gender. Ini berkontribusi pada meluasnya kekacauan moral dan sosial, maraknya hubungan yang tidak stabil, juga runtuhnya konsep kesucian dan komitmen yang berujung pada krisis identitas dan disrupsi struktur masyarakat,” imbuhnya.

Bahkan, ia mengingatkan, proyek-proyek feminis dan gender merusak identitas bawaan manusia. “Mereka mengklaim bahwa gender alami adalah konstruksi sosial yang dapat diubah. Sebaliknya, Islam menegaskan bahwa Allah Swt. menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan yang merupakan prinsip fitrah dan tetap,” katanya mengutip QS An-Najm: 45, “Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan.”

Selain itu, konsep feminisme juga bertentangan dengan hukum Islam yang didasarkan pada perbedaan alami antara laki-laki dan perempuan, seperti hukum yang berkaitan dengan warisan, perceraian, dan pemberian nafkah.

Jadi, Ustaz Ahmad menilai, tampaklah kaum feminis dan gender bertujuan membongkar hakikat keluarga muslim dan melarutkan identitas Islam, mengarahkan generasi untuk memandang agama hanya sebagai pilihan budaya yang marginal.

“Oleh sebab itu, kita harus mewaspadai mereka, memperkuat masyarakat dengan kesadaran intelektual Islam, dan memperkuat status perempuan sebagaimana yang dikehendaki Islam, yaitu bermartabat dan terlindungi, mitra dalam membangun keluarga dan masyarakat, serta menjadi fondasi bagi kebangkitan umat,” pungkasnya. [MNews/RA]

Share

2 thoughts on “[Kabar] Gender dan Feminisme Adalah Proyek Perubahan Identitas”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *