Muslimah News, INTERNASIONAL – Para imam, dewan, dan pemimpin agama makin sering mengajak umat muslim di Belanda untuk memilih secara massal dan berpartisipasi dalam permainan politik sistem sekuler. Aktivis muslim Belanda Okay Pala menyampaikan, esensi dari sistem sekuler adalah menentang, meminggirkan, dan mencoba mereduksi Islam menjadi sesuatu yang terbatas di masjid atau ruang tamu. “Sekularisme bukanlah kerangka kerja yang netral, melainkan sebuah ideologi yang telah dipaksakan secara brutal kepada umat Islam di seluruh dunia,” ujarnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Selasa (28-10-2025).
Menurutnya, semua situasi buruk yang dihadapi umat Islam disebabkan oleh fondasi sekuler yang menjadi dasar pembangunan negeri-negeri muslim. “Sistem sekuler hari ini telah menyebabkan kemunduran, penghinaan, dan keterasingan umat Islam. Gaza adalah contoh paling menyakitkan dari hal ini. Sedihnya, dua miliar umat Islam hanya bisa menyaksikan genosida Gaza, sementara rezim-rezim tetap setia pada agenda Barat, kepentingan mereka sendiri, dan perlindungan terhadap fondasi sekuler,” paparnya.
Ia mengungkapkan, majelis fikih dan fatwa yang dalam beberapa kasus telah memberikan “izin” untuk berpartisipasi dalam sistem sekuler demokrasi, merupakan hal yang penting. “Mereka tidak jujur untuk menyajikan putusan, padahal putusan fikihnya adalah haram. Oleh kaena itu, pemberian izin adalah bentuk penyimpangan. Penyimpangan tersebut telah menjadi legitimasi absolut atau pembenaran adanya kesalahan tanpa refleksi kritis. Mengangkat sesuatu yang awalnya haram menjadi halal adalah langkah mereduksi ajaran Islam,” jelasnya.
Beberapa imam, imbuhnya, malah berpartisipasi dalam sistem sekuler melalui pemungutan suara adalah halal dan mereka tidak memberikan catatan kritis apa pun. “Ini menyesatkan. Bahkan, mereka berdalih sebagai sesuatu yang progresif demi kepentingan komunitas muslim di Belanda. Partisipasi dalam sistem ini mau tidak mau mengarah pada asimilasi dan hilangnya identitas. Dengan berpartisipasi, fokus bergeser dari kepatuhan terhadap syariat Islam menjadi pragmatisme dan kompromi. Akhirnya, umat Islam berpegang teguh kepada sekularisme yang telah menghancurkan peradaban Islam. Bagaimana mungkin seseorang berharap pada partisipasi dalam fondasi sekuler akan membawa martabat atau kemajuan?” tanyanya retoris.
Pragmatisme
Okay menyampaikan, konsesi yang diberikan bukanlah tanda kemajuan, melainkan tanda kepasrahan. “Ketika umat Islam membatasi visi mereka pada solusi sementara dalam kerangka sekuler, mereka mereduksi diri menjadi komunitas yang puas dengan remah-remah. Masalah sebenarnya adalah ketiadaan tujuan yang lebih besar. Tidak ada visi untuk menggantikan sekularisme yang mencengkeram dunia muslim dengan Islam. Selama hal ini tidak ada, kita akan terjebak dalam pragmatisme dan penyesuaian dangkal yang tidak membawa perubahan nyata,” terangnya.
Menurutnya, seruan untuk memilih begitu problematis. Hal ini mendorong umat Islam untuk mereduksi ambisi mereka menjadi kepentingan sesaat, padahal misi sejati mereka jauh lebih besar. Misi ini adalah memulihkan Islam secara utuh dan berupaya mewujudkan kembali sistem Islam yang akan mengangkat derajat umat dan memulihkan posisinya di dunia. Siapa pun yang melupakan tujuan yang lebih besar ini dan berpegang teguh pada hal-hal yang sementara, niscaya akan tenggelam dalam konformitas dan identitasnya terkikis. Padahal, misi sejati umat Islam seharusnya adalah mengganti sekularisme dengan Islam, bukan menjerumuskan diri ke dalam sekularisme,” paparnya.
Kepentingan sejati, lanjutnya, bukanlah terletak pada pengakuan terhadap sekularisme, melainkan dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam dan berjuang untuk pembebasan umat dari sistem yang dipaksakan ini, dengan menggantinya dengan sistem Islam.
“Hanya mereka yang merangkul tujuan yang lebih besar ini yang sungguh-sungguh berjuang untuk masa depan dan kemajuan umat Islam. Kami menyampaikan ini bukan karena permusuhan, melainkan sebagai nasihat yang tulus. Pernahkah dewan fatwa dan ulama yang memberi izin bersuara lantang menentang sekularisme dan berkomitmen secara terbuka untuk menggantinya dengan Islam? Selama hal ini tidak ada, keputusan mereka tetap berat sebelah dan bermasalah,” pungkasnya. [MNews/IK]

hanya butuh suara rakyat untuk formalitas, setelah itu disingkirkan bagaimana daun pisang yg dipakai dikala hujan
Alhamdulillah
Maa syaa Alloh