Maksud dari pernyataan bahwa Nabi Muhammad, Nabi Isa, dan Nabi Musa telah mengikuti agama Ibrahim adalah bahwa mereka mengimani akidah yang sama, yakni akidah tauhid (monoteisme) sebagai dasar atau inti semua agama yang berasal dari sisi Allah Taala. Sementara itu, syariat mereka masing-masing tidaklah sama karena telah di-takhsîs (dikecualikan) oleh Allah Swt. dalam firman-Nya.
Tag: akidah
[Fikrul Islam] Membangun Akidah dalam Masalah Qada dan Kadar
Al-Qur’an maupun hadis tidak pernah menggunakan istilah qada dan kadar menjadi satu kesatuan, yaitu “qadha (dan) qadar”, meskipun hanya sekali. Namun, yang digunakan oleh Al-Qur’an maupun hadis adalah qada ataupun kadar saja, dan digunakan secara terpisah.
[Fikrul Islam] Membangun Keyakinan pada yang Gaib
Keimanan pada hari kiamat tidak hanya terbatas meyakini bahwa hari kiamat adalah hari akhir. Namun juga meliputi meyakinan bahwa hari kiamat merupakan waktu berakhirnya semua eksistensi makhluk ciptaan Allah Swt. di dunia, keyakinan bahwa pada hari itu manusia akan diberi catatan amal perbuatan mereka ketika di dunia, keyakinan bahwa surga dan neraka adalah benar, bukan imajinasi, dan keimanan kepada nikmat surga, dan keimanan bahwa azab neraka benar-benar dapat dirasakan.
Cara Membangun Akidah dan Keyakinan (3/3)
Telah dibuktikan secara mutawatir bahwa Muhammadlah yang membawa Al-Qur’an dan terbukti bahwa Al-Qur’an adalah sumber syariat Allah yang diturunkan dari sisi-Nya. Padahal, tidak seorang pun yang membawa syariat kecuali bahwa ia adalah Nabi dan Rasul. Inilah yang secara rasional membuktikan kenabian dan kerasulan beliau (saw.).
[Fikrul Islam] Cara Membangun Akidah dan Keyakinan (Bagian 2/3)
Eksistensi Zat Allah benar-benar ada. Eksistensi tersebut dapat dibuktikan oleh manusia dengan akalnya melalui berbagai keajaiban makhluk-Nya. Keajaiban itu tidak bisa diciptakan oleh yang lain kecuali oleh-Nya. Keajaiban itu juga sekaligus membuktikan bahwa eksistensi Zat-Nya benar-benar ada.
[Fikrul Islam] Cara Membangun Akidah dan Keyakinan (Bagian 1/3)
Lahirnya akidah yang teguh dan selamat dari cacat dalam diri tiap muslim adalah sebuah kewajiban. Inilah yang pertama kali harus diupayakan oleh seorang muslim yang mukalaf. Dalam konteks inilah, Asy-Syafi’i mengatakan, “Ketahuilah, bahwa kewajiban yang pertama kali bagi seorang mukalaf adalah berpikir dan mencari dalil untuk makrifat (mengenal) Allah Swt..”
