[Fikrul Islam] Cara Membangun Akidah dan Keyakinan (Bagian 2/3)

[Fikrul Islam] Cara Membangun Akidah dan Keyakinan (Bagian 2/3)

Eksistensi Zat Allah benar-benar ada. Eksistensi tersebut dapat dibuktikan oleh manusia dengan akalnya melalui berbagai keajaiban makhluk-Nya. Keajaiban itu tidak bisa diciptakan oleh yang lain kecuali oleh-Nya. Keajaiban itu juga sekaligus membuktikan bahwa eksistensi Zat-Nya benar-benar ada.

Penulis: Ustaz Hafidz Abdurrahman


Sambungan dari Bagian 1/3

Muslimah News, FIKRUL ISLAM – Mengenai tema pembahasan keimanan yang diyakini dengan dalil ‘aqli ada tiga macam: Pertama, iman pada adanya Allah Swt.. Kedua, iman pada Al-Qur‘an sebagai kalam Allah Swt. yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad. Ketiga, Muhammad adalah utusan Allah.

Ketiga tema pembahasan ini wajib dibuktikan dengan dalil ‘aqli karena ketiganya memenuhi keempat komponen akal di atas (pembahasan sebelumnya, ed.).

Bukti bahwa Allah Swt. Mahaada sesungguhnya dapat dibuktikan melalui sesuatu yang ada. Karena adanya benda-benda yang tampak, yang dapat diindra, sebagai konsekuensi dari adanya zat lain adalah sesuatu yang jelas. Sedangkan apa saja yang diadakan oleh yang lain mempunyai sifat memerlukan pada yang lain juga merupakan sesuatu jelas.

Demikian halnya apa saja yang memerlukan pada yang lain merupakan ciptaan Sang Pencipta adalah jelas. Sebab dengan keberhajatannya pada yang lain sekaligus membuktikan, bahwa ia adalah makhluk (ciptaan). Karena dia memerlukan pada zat lain yang ada sebelumnya. Karena itu, dia pasti tidak azali.

Secara alami, benda yang satu memang memerlukan pada benda yang lain, sehingga masing-masing bisa saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Namun ini tidak berarti bahwa secara keseluruhan benda-benda tersebut tidak memerlukan lagi pada yang lain. Ini adalah konklusi yang salah.

Sebagai contoh, sperma laki-laki dengan sel telur wanita untuk menjadi janin harus ada rahim agar dapat dibuahi hingga menjadi zigot. Setelah itu baru bisa menjadi janin.

Ini tidak berarti bahwa satu benda dengan benda lain itulah yang dengan sendirinya bisa membentuk zigot, sampai menjadi janin. Sebab, di sana ada khashiyah yang diciptakan oleh Allah yang kemudian menentukan proses berikutnya.

Antara lain, jika sperma laki-laki itu diambil khashiyah-nya sehingga menjadi lemah, misalnya, maka sperma tersebut tidak akan pernah bisa bertemu dengan sel telur wanita. Dari sini, kita menemukan ada laki-laki yang mandul; atau sebaliknya, ada wanita yang mandul. Ini semuanya berkaitan dengan khashiyah sperma atau sel telur yang dicabut oleh Allah.

Di samping itu, dalam struktur sel sperma laki-laki dan wanita ada sunatullah yang tidak bisa dilampaui oleh manusia. Ini terbukti melalui proses eksperimen bayi tabung, yaitu adanya jumlah kromosom sebanyak 23 + 23 = 46 kromosom, yang terdapat dalam sel sperma laki-laki dan sel telur wanita dalam proses terjadinya pembuahan.

Jika jumlah kromosom selnya kurang, maka proses pembuahan tersebut pasti tidak akan berhasil. Masalahnya adalah siapa yang menentukan jumlah kromosom tersebut sehingga harus 46 kromosom? Apakah sel sperma laki-laki atau sel telur wanita? Tentu saja bukan keduanya, melainkan kekuatan di luar dari keduanya. Siapa? Apakah manusia yang lain? Ternyata tidak juga.

Dialah Allah, Zat Yang Mahakuasa, yang menentukan semuanya tadi. Karena itu, dalam nas Al-Qur’an, banyak ayat yang memerintahkan kita agar melakukan renungan mengenai kejadian manusia, alam, dan kehidupan. Tujuannya adalah untuk membuktikan adanya Allah Swt.,

فَلْيَنْظُرِ اْلِنْسَانُ مِمّ خُلِقَ

“Maka, hendaklah manusia merenungkan mengenai dari apa dia diciptakan.” (QS Ath-Thariq: 5)

اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْۗ

وَاِلَى السَّمَاۤءِ كَيْفَ رُفِعَتْۗ

وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْۗ

“Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan, dan pada langit, bagaimana ia ditinggikan dan pada gunung, bagaimana ia ditegakkan.” (QS Al-Ghasyiyah: 17—19)

Sampai di sini, manusia telah mampu membuktikan dengan akalnya, bahwa Allah Swt. itu ada, karena banyaknya bukti yang secara empiris membuktikan eksistensinya.

Namun, apakah ini terbatas pada pemikiran saja, bahwa Dia ada karena makhluk-Nya, bukan karena benar-benar ada? Karena kenyataannya, Allah memang tidak pernah bisa dibuktikan bentuknya. Karena itu kemudian banyak orang menjadi kafir setelah beriman, dan terjerumus dalam penolakan eksistensi tuhan, lalu menjadi atheis. 

Memang, Zat Allah mustahil dijangkau oleh indra manusia, karena keterbatasan kemampuannya untuk melakukannya. Telinga dan mata yang menjadi indra manusia yang paling peka dan mempunyai daya kemampuan yang jauh, misalnya, tetap mempunyai keterbatasan. Namun masing-masing indra tersebut bisa mengindra suara dan benda yang mampu dijangkaunya.

Telinga hanya mampu menjangkau gelombang suara sejauh beberapa meter saja. Demikian juga dengan mata. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah semua benda yang tidak dapat dijangkau oleh mata dan telinga itu dianggap tidak ada? Tentu tidak.

Karena itu, Allah menciptakan akal, hati, dan pikiran sebagai kekuatan yang diberikan oleh Allah kepada manusia agar mampu menjangkau hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh penglihatan dan pendengarannya. Dengan akal, hati, dan pikiran inilah manusia bisa menjangkau eksistensi Zat Allah Swt. ketika zat-Nya dianggap gaib oleh mata, telinga, dan alat indra yang lain.

Padahal, kegaiban Zat Allah Swt. itu hanya berarti bahwa Zat tadi tidak bisa dijangkau oleh indra manusia, dan bukan gaib dalam arti tidak ada. Karena banyak hal yang eksistensi zatnya gaib dari penglihatan, tetapi ada. Contohnya, ketika sebuah pesawat melintas di atas rumah, kita hanya mampu mendengarkan suaranya, sedangkan zatnya tidak bisa kita jangkau. Mungkin karena mendung atau karena faktor-faktor lain.

Namun, benarkah pesawat yang tidak dapat dijangkau oleh mata itu berarti tidak ada? Tentu tidak demikian. Yang benar adalah, bahwa zat pesawat tersebut ada dan benar-benar ada, bukan hanya ide atau imajinasi, karena bisa dibuktikan melalui adanya suara pesawat tersebut. Sebab, bukti eksistensinya ada pada suaranya, sementara akal kita membuktikan, bahwa tidak ada benda lain yang bisa mengeluarkan suara seperti itu kecuali pesawat. Meskipun zatnya gaib dari jangkauan indra mata kita.

Demikian juga dengan eksistensi Zat Allah Swt.. Zat tersebut tidak bisa dijangkau oleh mata dan telinga, ataupun indra-indra yang lainnya. Karena itu, kemudian disebut gaib dari jangkauan indra manusia. Namun dengan akalnya manusia dapat membuktikan bahwa eksistensi Zat tersebut benar-benar ada.

Ini dibuktikan dengan banyaknya bukti yang tidak terhitung jumlahnya. Yang paling menarik untuk kita renungkan adalah pernyataan Allah di dalam surah al-Baqarah,

إِنّ الَ لَ يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلً مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا

“Sesungguhnya Allah tidak merasa malu untuk membuat contoh apa pun; baik lalat ataupun yang lebih kecil lagi darinya.” (QS Al-Baqarah: 26)

Allah tidak merasa malu pada siapa pun untuk membuat contoh, baik lalat ataupun binatang yang lebih kecil dari lalat. Sebab, siapa yang bisa menandingi Allah? Manusia dapat membuat pesawat dengan berbagai bentuk, tetapi apakah manusia bisa mengobati lalat, jika lalat tersebut sakit atau menghadapi kematian, karena terlalu kecil. SubhanaLlâh.

Di sinilah kemahabenaran Allah. Allah Swt.. tidak malu pada siapa pun, termasuk manusia. Sebab, tidak ada yang mampu menandingi kehebatan Allah.

Semuanya ini membuktikan bahwa eksistensi Zat Allah tersebut benar-benar ada. Esistensi tersebut dapat dibuktikan oleh manusia dengan akalnya melalui berbagai keajaiban makhluk-Nya. Keajaiban itu tidak bisa diciptakan oleh yang lain kecuali oleh-Nya. Keajaiban itu juga sekaligus membuktikan bahwa eksistensi Zat-Nya benar-benar ada.

Jika manusia memikirkan dengan akalnya, pada akhirnya akan sampai pada pertanyaan mengenai hakikat zat Allah. Padahal ini mustahil dijawab secara rasional oleh manusia. Karena itu, masalah tersebut hanya mampu diterangkan oleh nas Al-Qur’an, bahwa Dialah Zat Yang Mahaazali.

هُوَ اْلَوّلُ وَاْلخِرُ وَالظّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dialah Yang Mahaawal, Yang Mahaakhir, Yang Mahalahir, Yang Mahabatin, dan Dia Mahatahu atas segalanya.” (QS Al-Hadid: 3)

Untuk menjelaskan ayat ini, bisa diuraikan bahwa zat-Nya tidak bisa disamakan dengan makhluk sehingga tidak mempunyai ciri-ciri seperti makhluk. Karena itulah, kita wajib mensucikan-Nya dengan anggapan-anggapan dan asumsi-asumsi yang menggunakan standar makhluk.

Zat tersebut juga bukanlah Pencipta Diri-Nya (khaliq li nafsihi) sendiri, sehingga pada saat yang sama menjadi al-Khaliq dan makhluk sekaligus. Karena hal itu merupakan sesuatu yang mustahil. Sebab, jika Dia menjadi makhluk, berarti Dia mempunyai sifat-sifat makhluk. Tentu saja ini merupakan hipotesis yang batil.

Karena itulah, maka zat tersebut adalah Zat Yang Mahaazali, Yang Mahawujud dengan sendiri-Nya (wajib al-wujud), dan tidak memerlukan sedikit pun pada yang lain, Yang Mahasuci dari asumsi dan anggapan siapa pun dengan standar makhluk-Nya.

سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمّا يَصِفُونَ

“Mahasuci dan Tinggi Allah dari (anggapan) apa saja yang mereka gambarkan.” (QS Al-An’am: 100). [MNews/Rgl]

Bersambung ke Bagian 3/3

Sumber: Hafidz Abdurrahman, Islam Politik & Spiritual

Share

One thought on “[Fikrul Islam] Cara Membangun Akidah dan Keyakinan (Bagian 2/3)”

  1. Maasyaalloh..dan keberadaan Al quran yg meruoakan forman Alloh..itu jg merupakan bukti bahwa Alloh itu Ada

    Allohuakbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *