Muslimah News, INTERNASIONAL — Umat Islam saat ini sedang menghadapi kemelut dalam bidang politik dan ekonomi, padahal Allah Taala telah mengaruniakan kekayaan dan sumber daya alam yang melimpah. Hal tersebut disampaikan aktivis dakwah asal Kenya Irfan Mohamed dalam keterangannya kepada MNews, Rabu (20-5-2026).
“Segala sumber daya ini sudah memadai untuk menjamin kelangsungan hidup yang bermuruah bagi seluruh umat Islam. Namun persoalannya, mengapa masih banyak yang menderita?” tanyanya lugas.
Ia memandang, semua penderitaan ini akibat perpecahan yang melanda umat Islam di seluruh dunia saat ini. “Masih ada umat Islam yang lebih mengutamakan negara atau bangsa mereka dibandingkan saudara seagama yang ada di negara lain,” sesalnya.
Padahal, lanjutnya, perpecahan ini merupakan asimilasi yang dibawa para penjajah. “Mereka menerapkan dasar ‘pecah dan perintah’, lantas meracuni umat Islam agar bermusuhan antarsesama muslim dan mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan kaum muslim,” ujarnya.
Perpecahan ini, ungkap Irfan, telah membuka jalan proksi kapitalis untuk masuk ke tanah air umat Islam, menguasai urusan ekonomi serta politik dengan menggunakan sistem mereka, kapitalisme. “Mereka mengenakan pajak yang tinggi, yang bebannya lebih menekan golongan miskin dan membiarkan hanya segelintir individu memonopoli segala perniagaan, investasi, dan industri,” tuturnya.
Akibatnya, ia menyayangkan, kekayaan hanya dikuasai sekelompok kecil manusia, sedangkan mayoritas rakyat dibiarkan terjerumus ke lembah kemiskinan. Sistem kapitalisme, sambungnya, memandang masyarakat senantiasa berada dalam situasi kekurangan. “Penyaluran kekayaan yang sepatutnya dimanfaatkan oleh rakyat, justru hanya berputar dalam kalangan kelompok elite,” kritiknya.
Bersatu
Irfan menegaskan, untuk menyolusi masalah ini, umat Islam harus bersatu tanpa memandang latar belakang bangsa, warna kulit, kewarganegaraan, atau mazhab. “Kita harus bangkit dan mengingatkan umat Islam bahwa kita perlu bersatu dan mengembalikan sistem Khilafah yang akan melaksanakan syariat Islam dengan sewajarnya. Sistem ini akan membantu masyarakat Islam secara keseluruhan dalam mengelola sumber daya yang ada sesuai kaidah untuk memberi manfaat kepada rakyat banyak, bukan menumpukkan kekayaan kepada segelintir individu,” paparnya.
Selain itu, tambahnya, Islam mempunyai pendekatan yang unik dalam menangani isu energi yang turut menyumbang peningkatan aktivitas ekonomi. “Rasulullah saw. bersabda dalam riwayat Ahmad bahwa umat Islam berserikat dalam tiga perkara, yaitu air, padang rumput, dan api,” kutipnya.
Oleh karena itu, terangnya, minyak, gas, dan berbagai sumber energi yang melimpah ruah ini semuanya diklasifikasikan sebagai kepemilikan umum. “Negara boleh memberlakukan harga yang rendah sekadar untuk membiayai penyediaan komoditas energi ini, tetapi tidak boleh dijadikan sebagai instrumen untuk mengambil pajak atas keringat rakyat,” bebernya.
Tidak hanya itu, ujar Irfan, sebagai umat Islam, kita perlu bersatu bagaikan satu tubuh, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam perilaku saling mencintai, kasih sayang, dan tolong-menolong di antara mereka seperti satu tubuh. Jika ada satu bagian tubuh mengalami sakit, maka sekujur tubuh ikut merasakannya dengan tidak dapat tidur dan merasakan demam”
Jadi, Irfan menyimpulkan, hanya dengan penyatuan umat, barulah kita mampu mengembalikan sistem Khilafah, bangkit sebagai kekuasaan global, dan mengelola semua kekayaan serta sumber alam kaum muslim sebagai satu kesatuan yang utuh. [MNews/RA]
