Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Imam Dzahabi berkata, “Ummu Umarah atau Nusaibah binti Ka’ab bin Amru bin Auf bin Mabdzul adalah seorang wanita mulia dan mujahidah. Ia seorang Anshar dari suku Khazraj, silsilah Najjar, dari keluarga Mazini dan lahir di Madinah.” Disebutkan dalam sirah Ibnu Hisyam, Ummu Umarah kadang disebut Ummu Imarah atau Ummu Amarah.
Ummu Umarah menikah dengan Zaid bin Ashim al-Mazini an-Najjari. Mereka dikaruniai dua anak, yakni Abdullah dan Habib. Keduanya hidup pada masa Nabi. Setelah Zaid meninggal, Ummu Umarah menikah dengan Gazyah bin Amru al-Mazini an-Najjari, lalu dikaruniai seorang anak bernama Khaulah. Semua keluarga dan anak-anak Ummu Umarah berperan penting dalam perjuangan Islam. Ia menjadi simbol kemuliaan, seorang ahli ibadah, dan mujahidah yang sabar dalam menghadapi semua cobaan.
Dari Perang Uhud hingga Perang Hunain
Ummu Umarah terlibat dalam beberapa peristiwa penting Rasulullah ﷺ seperti Baiat Aqabah, Perang Uhud, Perjanjian Hudaibiyah, Perang khaibar, peristiwa Umrah Qadhiyah, penaklukan kota Makkah, dan Perang Hunain. Ia adalah mujahidah pertama dalam sejarah Islam.
Setelah peristiwa Baiat Aqabah pertama, Rasulullah ﷺ mengutus Mush’ab bin Umair sebagai duta dakwah di Madinah. Ummu Umarah adalah salah seorang yang masuk Islam melalui dakwah Mush’ab. Setahun setelah Baiat Aqabah I, sekitar 73 laki-laki dan 2 orang perempuan dari penduduk Madinah menjumpai Nabi untuk melakukan Baiat Aqabah II. Kedua perempuan itu adalah Ummu Umarah dan Asma binti Amru.
Ummu Umarah telah bersumpah setia untuk melindungi Nabi, lalu dibuktikannya dalam Perang Uhud. Bersama suami dan kedua anaknya, ia ikut ambil bagian dalam perang ini. Ia bertugas di bagian logistik dan medis. Akan tetapi, kondisi pasukan Islam yang terdesak menjadikan Ummu Umarah ikut mengangkat senjata. Dengan segala kemampuannya, ia bergabung dengan pasukan kaum muslim untuk melindungi Rasulullah ﷺ tanpa rasa takut sedikit pun. Dengan perisai dan pedang di tangan, ia berdiri tegap di samping Rasulullah ﷺ untuk melindungi beliau dari serangan musuh.
Pada tahun berlangsungnya Perjanjian Hudaibiyah, Ummu Umarah ikut dalam rombongan Rasulullah ﷺ. Nabi mengutus Utsman bin Affan ra. untuk menegaskan kepada orang-orang Quraisy bahwa kaum muslim datang ke Makkah bukan untuk berperang, melainkan untuk menunaikan umrah. Namun, orang-orang Quraisy menahan Utsman dalam waktu yang lama, sehingga menyebarlah berita bahwa Utsman dibunuh oleh orang-orang Quraisy. Rasulullah ﷺ mengumpulkan kaum muslim dan menyuruh mereka melakukan sumpah setia agar rela mati demi membela kepentingan Islam. Ummu Umarah termasuk orang yang melakukan sumpah setia tersebut.
Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Allah mengetahui apa yang ada di hati mereka, lalu menurunkan ketenangan kepada mereka dan memberikan balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS Al Fath: 18).
Pada Muharam 7 H, pasukan Islam berangkat ke Khaibar untuk memberi pelajaran kepada orang-orang Yahudi beserta kelompok lainnya yang melakukan pengacauan dan pengkhianatan. Ummu Umarah juga ikut dalam pasukan Islam tersebut. Setelah kaum muslim beroleh kemenangan, Ummu Umarah bersama kaum muslim melakukan Umrah Qadhiyah. Kaum muslim akhirnya berhasil memasuki Masjidilharam.
Ummu Umarah juga ikut rombongan pasukan Islam yang berperang di medan jihad Hunain. Banyaknya jumlah pasukan ternyata membuat pasukan muslim lengah dalam memperhatikan kondisi sekitar. Mereka baru tersadar ketika dikejutkan dengan hujan anak panah dari atas bukit. Pasukan pun kocar-kacir dan banyak yang mundur dari medan perang. Rasulullah ﷺ menyuruh Abbas, paman beliau yang bersuara yang lantang untuk menyeru pasukan Islam. Abbas lalu berseru, “Di manakah orang-orang yang ikut dalam Baiat Ridwan?” Barulah pasukan kaum muslim tersadar. Ummu Umarah termasuk di antara mereka yang tetap tegar di samping Rasulullah ﷺ. Bahkan, ia berhasil membunuh seorang musuh, yakni tentara berkuda.
Wanita yang Tegar
Ummu Umrah bersikap tegar ketika menghadapi kematian anaknya (Habib bin Zaid) yang diutus Nabi untuk menasihati Musailamah yang mengaku sebagai nabi. Namun, Musailamah membunuh Habib dengan memutilasi tubuhnya, sehingga ia pun syahid. Berita kematian Habib sampai ke telinga Ummu Umarah. Ia tetap tegar dan memohon kepada Allah agar bisa melihat kematian Musailamah, sang pendusta.
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, beberapa kabilah Arab keluar dari Islam. Abu Bakar ra. sebagai khalifah (pengganti Nabi) mengirim pasukan untuk mengajak mereka kembali kepada Islam atau memerangi mereka. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Ummu Umarah. Meskipun saat itu usianya sudah lebih dari 60 tahun, ia meminta izin kepada Abu Bakar ra. untuk bergabung bersama pasukan Islam. Ia ikut mengangkat senjata. Ia berlari ke sana kemari menebas tantara musuh dengan pedangnya. Ia sangat lega ketika melihat Musailamah terbunuh. Bahkan karena senangnya, ia tidak menghiraukan sebelas luka di tubuhnya dan satu tangannya yang putus dalam peperangan ini. Usai perang, kaum muslim kembali ke Madinah. Abu Bakar ra. sering berkunjung ke rumahnya untuk menanyakan keadaan dan menghibur Ummu Umarah.
Inilah sosok wanita mulia dan istimewa yang patut dicontoh para muslimah hari ini. Ummu Umrah adalah seorang istri yang sangat paham akan kewajibannya dan mendukung perjuangan suaminya. Ia adalah seorang ibu yang mempersiapkan keluarganya untuk syahid di jalan Allah. Ia juga seorang wanita ahli ibadah. Pada sang hari, ia sering berpuasa. Sedangkan pada malam harinya, ia habiskan waktunya untuk salat dan berzikir kepada Allah. Perannya di medan jihad juga luar biasa. Meski di bagian logistik dan medis, tetapi ia siap siaga untuk turut terjun di kancah peperangan. Ummu Umarah berposisi melindungi Nabi ﷺ di beberapa medan perang. Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada Abdullah bin Zaid (anak Ummu Umarah) pada saat Perang Uhud, “Lihatlah ibumu, balutlah lukanya. Ya Allah, jadikanlah mereka sebagai teman-temanku di surga.” [MNews/NA-YG]
Sumber: 35 Sirah Shahabiyah: 35 Sahabat Wanita Rasulullah saw/Mahmud Al-Mishri/Al-I’tishom
