Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Hudzaifah bin al-Yaman ra. adalah salah satu sahabat Rasulullah saw. yang mulia. Banyak keutamaan terdapat dalam dirinya, di antaranya adalah keberaniannya mengemban amanah di medan Perang Khandaq sebagai penyusup ke tengah pasukan musuh untuk mengetahui situasi dan kondisi pasukan kafir Quraisy. Demikian pula ketaatannya terhadap pesan Rasulullah saw. pada saat menjalankan misi tersebut, meskipun ada kesempatan untuk membunuh Abu Sufyan, pemimpin kafir Quraisy pada saat itu.
Menjadi Ansar Sejati
Hudzaifah bin al-Yaman memiliki latar belakang yang unik. Ayahnya, Husail bin Jabir, berasal dari suku ‘Abs. Pada masa jahiliah, ia terlibat dalam sebuah kasus pembunuhan di daerah asalnya. Untuk menghindari balas dendam, ia meninggalkan kampung halamannya dan pindah ke Madinah. Di kota itu, ia bersekutu dengan Bani Abdul Asyhal dari kaum Ansar. Ia pun dijuluki al-Yamani (orang Yaman) karena tinggal bersama mereka, sedangkan putranya kemudian dikenal sebagai Hudzaifah bin al-Yaman. Ketika beranjak dewasa, ayahnya mengajaknya melakukan perjalanan ke Makkah. Di kota suci itulah, mereka berdua berjumpa dengan Rasulullah saw., mendengarkan dakwah beliau secara langsung, lalu menyatakan keislaman mereka.
Setelah Hudzaifah berislam, Rasulullah saw. melihat dalam dirinya tanda-tanda kecerdikan dan kemuliaan. Beliau bersabda kepadanya, “Jika engkau mau, engkau termasuk kaum Muhajirin, dan jika engkau mau, engkau termasuk kaum Ansar. Pilihlah mana yang engkau sukai.” Hudzaifah pun memilih kaum Ansar. Kemudian, Rasulullah saw. mempersaudarakannya dengan Ammar bin Yasir ra. dari kalangan Muhajirin.
Perang Khandaq, Perang pada Musim Dingin
Perang Khandaq adalah peperangan yang sangat berat. Kaum muslim harus menggali parit yang tinggi, lebar, dan dalam di sekitar Madinah. Kaum Quraisy pun bersatu dengan Yahudi Bani Quraizhah yang melanggar perjanjian dengan Nabi saw. Pada saat itu, kondisi cuaca sangat ekstrem, musim dingin datang dengan udaranya yang menusuk hingga tulang.
Pada sebuah malam yang gelap gulita di Madinah, angin bertiup sangat kencang dan udara terasa sangat dingin. Saat itu, pasukan musuh mengepung kota dari segala penjuru. Para sahabat menggigil kedinginan sehingga tidak mampu berbuat banyak. Setelah mengerjakan salat, Rasulullah saw. menoleh ke arah pasukan kaum muslim, lalu berkata, “Siapa yang mau menyusup ke dalam kamp pasukan musuh, mengecek keadaan mereka, lalu kembali?” Tidak seorang pun berdiri karena udara yang sangat dingin. Mereka pun sangat lapar dan dicekam rasa takut. Di tengah kegelapan dan kedinginan itu, Rasulullah saw. bersuara lagi, “Tidakkah ada seseorang yang mau pergi membawakan berita keadaan pasukan musuh kepadaku, maka ia akan bersamaku pada Hari Kiamat?”
Para sahabat terdiam. Suasana sunyi, hanya suara angin menderu. Ketiga kalinya, Rasul saw. bersabda, “Bangunlah, wahai Hudzaifah. Bawakan kepadaku berita pasukan musuh. Jangan engkau melakukan apa pun hingga engkau kembali kepada kami.”
Hudzaifah bin al-Yaman bangkit. Sebelum berangkat, Rasulullah saw. berdoa dengan doa yang tidak pernah beliau panjatkan untuk siapa pun, “Ya Allah, jagalah ia dari depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri, dari atas, dan dari bawah.”
Hudzaifah lalu pergi dalam perlindungan doa Nabi. Ia menyusup ke tengah pasukan musuh, lalu mendengarkan rencana mereka. Pada saat itu, angin berhembus sangat kencang dan mengubrak-abrik musuh hingga tidak ada tungku, perapian, dan tenda yang bisa berdiri tegak.
Hudzaifah bin al-Yaman melihat pemimpin pasukan musuh, Abu Sufyan berdiri, lalu berkata, “Hai, kaum Quraisy! Masing-masing kalian harus memperhatikan siapa yang ada di dekatnya.” Kemudian, Hudzaifah meraih tangan seseorang yang ada di dekatnya, lalu bertanya, “Kamu siapa?” Orang itu berkata, “Fulan bin fulan.” Abu Sufyan berkata lagi, “Wahai kaum Quraisy! Demi Allah, kalian tidak lagi bisa bertahan di sini. Kuda dan unta kita telah binasa. Bani Quraidzah telah mengkhianati kita. Hal yang tidak kita inginkan dari mereka akhirnya kita hadapi. Kita diterpa angin kencang seperti yang kalian lihat hingga tidak ada tungku yang bisa tegak berdiri, perapian pun tidak bisa dinyalakan, dan tenda-tenda tidak berdiri tegak. Oleh karenanya, pulanglah karena aku akan pulang.” Setelah itu, ia menghampiri untanya, lalu menungganginya dan bergegas pergi karena takut. Ia menempatkan Khalid bin Walid bersama sekelompok pasukan untuk melindungi bagian belakang pasukan Quraisy yang pergi agar mereka tidak diserang dari belakang.
Melihat kondisi tersebut, Hudzaifah berkata, “Andai saja Rasulullah saw. tidak memerintahkan kepadaku agar aku tidak melakukan apa pun hingga aku menemuinya, tentu aku sudah membunuh Abu Sufyan.”
Setelah itu Hudzaifah kembali ke Madinah dan menemui Rasulullah saw. yang sedang berdiri mengerjakan salat. Setelah mengucapkan salam, Rasulullah saw. menyelimuti Hudzaifah dengan kain karena seluruh tubuhnya menggigil. Kemudian, Hudzaifah menyampaikan informasi tentang pasukan musuh yang ia lihat dan dengar kepada Nabi. Saat memasuki waktu subuh, Rasulullah saw. dan pasukan kaum muslim meninggalkan Khandaq menuju Madinah, lalu mereka meletakkan senjata.
Menjaga Keikhlasan
Meskipun berkedudukan tinggi, Hudzaifah sangat menjaga keikhlasan amalnya. Suatu ketika, ia menangis dalam salatnya. Setelah selesai, ia terkejut melihat ada seorang lelaki di belakangnya. Ia segera berkata, “Jangan sekali-kali engkau menceritakan apa yang telah engkau lihat.” Ia takut amalnya diketahui orang lain karena bisa mengurangi keikhlasan atau menimbulkan ria.
Demikianlah keteguhan hati Hudzaifah dalam menjalankan amanah Rasulullah saw.. Keberanian dan ketaatan menyatu dalam dirinya ketika menjalankan amanah tersebut. Ia juga selalu menjaga keikhlasan dan menepati janji setianya kepada Allah Taala.
Ini sesuai firman-Nya, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).” (QS Al-Aḥzab: 23). [MNews/YG]
