Shafiyah binti Huyay, Perempuan Istimewa yang Menjadi Istri Rasulullah ﷺ

Shafiyah binti Huyay, Perempuan Istimewa yang Menjadi Istri Rasulullah ﷺ

Penulis: Ummu Nashir N.S.

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Shafiyah binti Huyay adalah seorang perempuan keturunan Yahudi Bani Nadhir yang berkedudukan terpandang, cantik, mulia, dan cerdas. Ia pernah menikah dengan dua pria Yahudi, keduanya adalah penyair Yahudi. Suami pertamanya adalah Sallam bin Mishkam al-Quraidzi. Namun, pernikahan itu tidak bertahan lama hingga akhirnya ia diceraikan. Kemudian, Shafiyah menikah kembali dengan Kinanah bin al-Rabi bin Abi al-Huqayq. Pernikahan ini tidak bertahan lama juga karena suaminya meninggal dalam Perang Khaibar bersama ayah dan pamannya. Pada saat Perang Khaibar, Shafiyah menjadi tawanan perang bersama para perempuan lainnya.

Berasal dari Keluarga Yahudi

Shafiyah binti Huyay merupakan satu-satunya istri Nabi Muhammad saw. yang berasal dari garis keturunan Yahudi. Ayahnya, Huyay bin Akhtab adalah pemimpin Bani Nadhir, sedangkan ibunya, Barrah binti Samawal adalah putri dari Samu’il serta adik dari Rifa’a bin Samu’il, seorang pembesar Bani Quraidzah Yahudi. Silsilah Shafiyah sendiri bersambung dari Lawi bin Ya’qub dan Nadhir bin Naham bin Yanhum yang merupakan keturunan Nabi Harun as., saudara Nabi Musa as..

Saat Shafiyah kecil, ayah dan pamannya, Abu Yasir bin Akhtab, pemimpin kabilah Bani Nadhir dan pembesar Madinah, merawat dan mengasuhnya dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Shafiyah dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berpengetahuan dan berkedudukan tinggi di komunitasnya. 

Sejak kecil, Shafiyah dikenal cerdas, berkepribadian menarik, dan sangat dihormati di antara kaumnya. Sebagai putri dari pemimpin suku, ia mendapatkan pendidikan yang baik, terutama dalam bidang agama Yahudi dan tradisi sukunya. 

Keluarganya Membenci dan Memusuhi Rasulullah ﷺ

Ayah dan pamannya sangat membenci Nabi Muhammad ﷺ saat hijrah ke Madinah. Mereka juga sangat memusuhi Islam dan memilih berperang dengan baginda Nabi ﷺ. Hal ini tampak dari sikap mereka tatkala mengetahui Rasulullah tiba di Madinah dan tinggal di Quba. Huyay bin Akhthab menyatakan kepada saudaranya, “Demi Allah, aku akan memusuhinya sepanjang hidupku.”

Permusuhan ayah Shafiyah tampak dalam berbagai peristiwa. Salah satunya adalah upaya pembunuhan terhadap Rasulullah ﷺ yang terjadi ketika Rasulullah ﷺ sedang berada di perkampungan mereka untuk meminta diyat yang disepakati ditanggung oleh orang-orang Yahudi sesuai kesepakatan yang tercantum dalam Piagam Madinah. Rasulullah ﷺ hampir terbunuh saat itu, ketika seorang Yahudi mencoba menimpakan batu dari sebuah atap rumah. Rasulullah ﷺ berada di posisi berbahaya. Namun, berkat informasi yang disampaikan oleh Jibril, beliau bisa lolos dari ancaman pembunuhan tersebut.

Atas rencana busuk tersebut, Rasulullah ﷺ mengultimatum Yahudi Bani Nadhir agar keluar dari Madinah. Namun, provokasi orang-orang munafik pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul membuat mereka menolak dan siap menghadapi apa pun keputusan Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ lalu memutuskan mengepung perkampungan Bani Nadhir. Setelah enam hari pengepungan, mereka menyerah, siap melucuti senjata, dan siap keluar dari Madinah. Namun, Rasulullah ﷺ mensyaratkan, mereka harus keluar membawa diri dan keluarganya saja, serta perbekalan yang dapat dibawa oleh hewan tunggangannya, tetapi tanpa senjata.

Mereka pun setuju dengan syarat-syarat tersebut, lalu keluar dari Madinah dengan mengendarai 600 ekor unta. Kebanyakan tokoh-tokoh utama mereka, seperti Huyay bin Akhthab dan Salam bin Abul Huqaiq pindah ke Khaibar, sementara sebagian lainnya pindah ke Syam. Permusuhan mereka tidak padam dengan pengusiran ini, justru makin menjadi. Saat kaum muslim berperang menghadapi koalisi antara Quraisy dan Yahudi dalam Perang Ahzab atau Perang Khandaq, Huyay bin Akhthab justru memprovokasi Yahudi Bani Quraidhah untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Mereka bahkan menghina dan mencaci maki Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan bahwa mereka melanggar perjanjian. 

Ketika pasukan Rasulullah ﷺ mendapatkan kemenangan dalam Perang Ahzab, Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanan untuk memerangi Bani Quraidhah yang telah membatalkan perjanjian. Mereka pun dikepung selama 25 hari hingga akhirnya menyerah. Atas masukan dari Sa’ad bin Muadz, ada sekitar 600 hingga 700 orang Bani Quraidhah yang dipancung. Selain mereka, Huyay bin Akhthab ikut dipancung karena termasuk penjahat Perang Ahzab. Ia memprovokasi Bani Quraidhah untuk melanggar perjanjian dengan Rasulullah ﷺ. Menjelang pemancungan, Huyay berkata kepada Rasulullah, “Demi Allah, aku tidak pernah menyesal telah memusuhimu.”

Pernikahan Shafiyah binti Huyay dengan Rasulullah ﷺ

Pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Shafiyah binti Huyay terjadi ketika pasukan kaum muslim berhasil menghancurkan benteng Khaibar. Shafiyah binti Huyay termasuk salah satu tawanan perempuan yang dipersunting oleh Rasulullah ﷺ. Sebagian kaum muslim berkata kepada baginda Rasul, “Shafiyah adalah tokoh Bani Quraidhah dan Bani Nadhir. Ia tidak layak, kecuali untuk engkau.” Namun, kaum muslim tidak mengetahui apakah Shafiyah akan dijadikan istri atau sebagai budak. Ketika Rasulullah ﷺ menghijabi wajah Shafiyah, semua orang menjadi tahu bahwa beliau mengambilnya sebagai istri.

Anas ra. menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ memerdekakan Shafiyah dan menjadikan kemerdekaannya sebagai maharnya. Adapun Abu Musa menyatakan bahwa Rasul ﷺ menyatakan tentang orang yang memerdekakan budak wanitanya, lalu menikahinya, “Ia akan mendapat dua pahala.” (HR Muslim).

Pada saat Rasulullah ﷺ membawa Shafiyah ke Madinah, para perempuan Madinah telah bersiap menyambut kedatangan mereka. Mereka berkata, “Semoga Allah menjauhkan perempuan Yahudi itu.” Pernikahan Rasulullah dengan Shafiyah telah memunculkan respons negatif dari kaum muslim. Bahkan, mereka mendiskreditkan Rasulullah ﷺ atas pernikahannya itu, padahal beliau justru menikahi anak dari orang yang memusuhinya sepanjang hayatnya. Allah Swt. pun berfirman,

إن الذين يؤذون الله و رسوله لعنهم الله فى الدنيا و الأخرة و أعدّ لهم عذابا مهينا

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS Al-Ahzab: 57).

Respons negatif juga datang dari Aisyah ketika dimintai pendapatnya tentang Shafiyah oleh Rasulullah ﷺ. Aisyah menjawab, “Aku melihat ia seorang perempuan Yahudi.” Rasulullah membantahnya, “Jangan berkata begitu karena sesungguhnya ia telah masuk Islam dan bagus keislamannya.”

Pada suatu hari, Shafiyah menangis karena istri Rasulullah ﷺ yang lain mengatakan, “Anak seorang Yahudi!” Rasul bersabda, “Sesungguhnya engkau adalah putri seorang Nabi, pamanmu seorang Nabi, dan engkau berada di bawah seorang Nabi, lantas dengan alasan apa ia mengejekmu?” Kemudian, beliau bersabda kepada Hafshah, “Takutlah kepada Allah, ya Hafshah!”

Perkataan Rasulullah ﷺ ini menjadi penyejuk, keselamatan, dan keamanan bagi Shafiyah. Selanjutnya setiap mendengar ejekan dari istri Nabi yang lain, ia akan berkata, “Bagaimana bisa kalian lebih baik daripada aku, padahal suamiku adalah Muhammad, ayahku adalah Harun, dan pamanku adalah Musa?”

Shafiyah binti Huyay, Perempuan Istimewa

Keistimewaan Shafiyah adalah kejujurannya. Zaid bin Aslam menuturkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ sakit yang mengantarkan pada ajalnya, Shafiyah binti Huyay berkata, “Wahai Nabi, sesungguhnya aku lebih senang jika penyakitmu itu pindah ke tubuhku.” Istri Rasulullah ﷺ lainnya saling memberi isyarat setengah mencibirnya. Rasulullah ﷺ menatap mereka, lalu berkata, “Muntahkanlah!” Mereka bertanya, “Apa yang harus kami muntahkan?” Beliau berkata, “Cibiran kalian terhadap Shafiyah. Demi Allah, ia telah jujur kepadaku.”

Shafiyah juga bersifat pemaaf dan selalu berbuat baik. Hal ini tampak saat budak perempuan miliknya mengadukannya kepada Umar yang kala itu sebagai Khalifah. Ia berkata, “Sesungguhnya Shafiyah sangat menyukai Sabtu dan berhubungan baik dengan orang-orang Yahudi.” Mendengar hal itu, Umar mengutus seseorang untuk menanyakan langsung kepada Shafiyah. Dalam jawabannya, Shafiyah berkata, “Mengenai Sabtu, aku tidak pernah mencintainya lagi setelah Allah menggantikannya dengan Jumat. Mengenai hubunganku dengan orang-orang Yahudi, sesungguhnya aku masih memiliki kerabat dari kalangan mereka, sehingga aku masih menjalin hubungan baik dengan mereka.” Kemudian, Shafiyah berkata kepada budaknya, “Apa yang membuatmu melakukan semua itu?” Budak itu menjawab, “Godaan setan.” Shafiyah berkata, “Kalau begitu, pergilah! Engkau telah merdeka sekarang.”

Shafiyah bisa saja membalas perlakuan budaknya itu. Akan tetapi, ia justru menunjukkan sikap pemaafnya. Bahkan, ia membalasnya dengan kebaikan. Oleh karena itu, Ibnu Katsir di dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah berkata, “Shafiyah adalah perempuan yang sangat menonjol dalam ibadah, kewarakan, kezuhudan, kebaikan, dan sedekah. Semoga Allah meridainya dan membuatnya rida.”

Dalam berbagai riwayat dituturkan bahwa Shafiyah merupakan seorang perempuan yang cantik, berbudi luhur, dan santun. Ada riwayat yang menyebutkan, saat hendak meninggalkan Khaibar, Nabi ﷺ membantu Shafiyah untuk naik ke atas unta dengan menjadikan pahanya sebagai pijakan kaki untuk Shafiyah. Namun, sebagai bentuk kesopanan dan pemuliaan kepada Nabi ﷺ, Shafiyah menggunakan lututnya di atas paha Nabi untuk naik menunggangi unta.

Shafiyah juga banyak menghafal ayat Al-Qur’an dan meriwayatkan hadis-hadis kepada kaum perempuan di sekitarnya. Ia melakukannya sebagai pengamalan terhadap firman Allah Swt., “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunah Nabimu). Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan Maha Mengetahui.” (QS Al-Ahzab: 34).

Pelajaran Berharga

Sekalipun berasal dari keturunan Yahudi, bahkan ayahnya adalah pemuka Yahudi yang menjadi musuh besar kaum muslim, tetapi kita melihat setelah Shafiyah berislam, keislamannya baik, taat beribadah, jujur, pemaaf, senang berbuat baik, tetap menjalin silaturahim dengan saudara-saudaranya, tekun menimba ilmu, dan menyampaikannya kembali kepada kaum perempuan di sekitarnya. Ini berarti bahwa kekafiran seseorang pada masa lalu seyogianya bukan penghalang bagi seorang mualaf untuk menjadi sosok taat dengan kualitas ketaatan yang tinggi. 

Bahkan, Shafiyah menyampaikan kembali ilmu yang ditimbanya dari sumbernya kepada masyarakat luas. Ini karena ia menyadari bahwa hal itu menjadi bagian dari ketaatannya. Ia mengejar ketertinggalannya dari sisi ilmu, ibadah, akhlak, tata cara berpakaian, bermuamalah, dan sebagainya. Ia kejar semuanya hingga bisa menjadi sosok muslimah sejati sebagaimana yang dituntut Allah ‘azza wa jalla, tanpa membedakan ia muslim sejak lahir ataukah seorang mualaf. Ia seorang muslim yang balig dan berakal sehingga terkena taklif hukum syarak. Allah Swt. berfirman,

يا أيها الذين أمنوا ادخلوا فى السلم كافة ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدوّ مبين

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagi kalian.” (QS Al-Baqarah: 208).

Banyak pelajaran berharga dari pribadi Shafiyah yang seorang mualaf bagi setiap orang yang sudah menjadi muslim sejak lahir. Seharusnya apa yang dilakukan oleh Shafiyah mendorong kita untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaatan kepada Allah Taala. Kita jangan malas meningkatkan kualitas diri, keimanan, dan ketaatan hanya karena merasa sudah menjadi muslim sejak lahir. Tidak sedikit umat Islam yang masih tergelincir pada kemusyrikan atau terjebak pada gaya hidup permisif yang lahir dari sistem sekuler liberal. Meyakini adanya pencipta adalah sebuah keharusan, salat adalah keniscayaan, dan ibadah haji harus diupayakan. Akan tetapi, masih banyak orang yang menolak aturan Allah, baik dalam urusan bergaul dengan lawan jenis, berkeluarga, bermasyarakat, maupun bernegara, bahkan memilih aturan Allah sesuai seleranya.

Tampak jelas bahwa Shafiyah berusaha keras menjalankan segala bentuk ketaatan kepada Allah Taala. Ia berusaha mengejar ketertinggalannya dari sekian banyak waktu dalam hidupnya yang terbuang sia-sia saat ia masih kafir. Wajarlah jika ia menggunakan setiap waktunya untuk beribadah kepada Allah. Kedekatannya dengan Nabi ﷺ mendorongnya banyak belajar ilmu dan mengamalkannya, sehingga menguatkan pemahaman agamanya untuk bekal bagi kehidupan di dunia dan akhirat. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *