Penulis: Nabila asy-Syafi’i
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Ia adalah Zaid bin Khaththab, kakak dari Umar bin Khaththab. Ia telah syahid di medan Perang Yamamah. “Rahmat Allah bagi Zaid. Ia mendahuluiku dengan dua kebaikan, yakni lebih dahulu masuk Islam dan lebih dahulu syahid,” respons Umar bin Khaththab tatkala mendengar kabar gugurnya Zaid, sang kakak yang ia sayangi.
Dikisahkan bahwa pada suatu hari, Rasulullah ﷺ duduk dalam suatu majelis bersama para sahabatnya. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya di antara kalian ada seorang lelaki, gerahamnya di dalam neraka lebih besar dari Gunung Uhud.” (Al-Hadis).
Semua yang hadir di dalam majelis itu merasa takut dan khawatir jangan sampai nubuwah Rasulullah ﷺ tersebut menimpa mereka. Sampai akhirnya, satu per satu sahabat yang hadir di dalam majelis tersebut telah syahid di jalan Allah Taala. Tinggal dua orang yang tersisa, yakni Abu Hurairah dan Rajjal bin ‘Unfuwah.
Abu Hurairah merasa sangat takut. Ia sulit tidur dan selalu dalam kecemasan. Akhirnya nubuwah Rasulullah ﷺ itu tersingkap dengan terang, yakni tentang Rajjal bin ‘Unfuwah yang murtad. Rajjal lalu bergabung dengan pasukan nabi palsu, Musailamah al-Kaddzab.
Dikisahkan sebelumnya bahwa setelah Rajjal bin ‘Unfuwah berislam dan membaiat Rasulullah ﷺ, ia kembali kepada kaumnya. Ia tidak datang ke Madinah hingga Rasulullah ﷺ wafat dan Abu Bakar as-Sidiq dibaiat sebagai khalifah kaum muslim.
Rajjal bin ‘Unfuwah mengabarkan kepada Khalifah Abu Bakar as-Sidiq tentang penduduk Yamamah yang murtad, lalu mereka bergabung dengan nabi palsu, Musailamah al-Kaddzab. Rajjal pun mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar as-Sidiq agar mengutus dirinya untuk mengajak penduduk Yamamah bertobat dan tunduk kembali dalam naungan Islam. Khalifah Abu Bakar as-Sidiq menyetujui usulannya. Kemudian berangkatlah Rajjal bin ‘Unfuwah ke Yamamah.
Namun, bisikan setan telah memalingkan hati dan pikiran Rajjal bin ‘Unfuwah. Sesampainya di Yamamah, ia bertemu dengan Musailamah al-Kaddzab yang menawarinya harta dan kedudukan. Ia juga diberi janji-janji manis oleh Musailamah, serta diperlihatkan pasukan dan pengikut Musailamah yang banyak. Rajjal bin ‘Unfuwah pun tergoda hingga ia murtad dan menjadi pengikut Musailamah.
Rajjal yang pernah berislam, hafal beberapa ayat Al-Qur’an, dan pandai beretorika justru memutarbalikkan ayat-ayat Al-Qur’an. Berbagai kebohongan yang ia tebarkan laksana madu hingga orang yang murtad dan percaya bahwa Musailamah al-Kaddzab adalah nabi makin banyak.
Gelombang makar orang-orang murtad pimpinan Musailamah al-Kaddzab membesar dan membahayakan Negara Islam. Kemudian Khalifah Abu Bakar as-Sidiq menerjunkan pasukan yang dipimpin oleh Panglima Khalid bin Walid untuk menghadapi mereka.
Khalid bin Walid mengatur strategi dan pasukan yang dibagi dalam peleton dan tugas masing-masing, termasuk pembawa panji-panji. Zaid bin Khaththab, sang kakak dari Umar bin Khaththab yang bertugas membawa panji-panji itu.
Genderang Perang Yamamah telah ditabuh. Kedua pasukan saling bertemu. Pasukan kaum muslim di bawah kepemimpinan Khalid bin Walid berhadapan dengan pasukan murtad yang dipimpin Musailamah.
Bani Hanifah, pengikut Musailamah, berperang habis-habisan hingga pasukan kaum muslim hampir terdesak. Melihat situasi dan kondisi seperti itu, Zaid bin Khaththab mendaki tempat yang tinggi. Ia lalu berseru kepada pasukan kaum muslim, “Wahai saudara-saudaraku, tabahlah kalian. Gempur dan seranglah musuh habis-habisan! Demi Allah, aku tidak akan berbicara lagi sebelum mereka dibinasakan oleh Allah atau aku yang akan menghadap Allah dan menyampaikan alasanku ke hadirat-Nya.”
Kemudian Zaid bin Khaththab turun dari tempat yang tinggi tersebut sambil menutup rapat mulutnya. Ia langsung memusatkan serangannya kepada manusia laknat, Rajjal bin ‘Unfuwah. Aksinya laksana rajawali yang menyerang mangsa. Ia menerobos barisan pasukan musuh dan melesat laksana anak panah lepas dari busurnya. Pedangnya yang terhunus siap menebas siapa pun yang menghalanginya.
Rupanya pertahanan Rajjal juga tangguh sehingga tidak mudah melumpuhkannya. Gelombang pasukan musuh melindungi Rajjal. Namun, Zaid bin Khaththab adalah kesatria tangguh dan cerdas. Ia bisa mengatasi situasi meskipun tubuhnya terluka. Ia menyerang Rajjal bin ‘Unfuwah dengan serangan yang mematikan hingga tewas.
Setelah Rajjal tewas, kecemasan dan ketakutan menjalar kepada pasukan Musailamah. Mereka mulai ragu, barisannya kocar-kacir, hingga pasukan Khalid bin Walid bisa memukul mundur.
Sementara itu di pihak kaum muslim, kabar tewasnya Rajjal bin ‘Unfuwah menjadi amunisi semangat yang makin membara untuk segera memenangkan peperangan ini. Alhamdulillah, Allah menjawab doa-doa kaum muslim. Mereka memperoleh kemenangan di medan Perang Yamamah.
Meskipun demikian, banyak juga sahabat Nabi yang gugur dalam Perang Yamamah, termasuk Zaid bin Khaththab. Wangi aroma surga telah memanggilnya. Lekukan matanya yang sering tergenang air mata kerinduan untuk syahid di jalan Allah kini telah dikabulkan-Nya. Zaid bin Khaththab telah gugur sebagai syuhada. Semoga Allah Taala selalu merahmatinya.
Kemudian pasukan Khalid bin Walid kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan. Khalifah Abu Bakar as-Sidiq, Umar bin Khaththab, dan kaum muslim menyambut mereka dengan sukaria.
Umar bin Khaththab mengamati pasukan yang datang tersebut. Ia mencari-cari keberadaan kakaknya yang berperawakan tinggi, tetapi tidak juga ditemukan. Akhirnya seseorang dari mereka mendekati Umar, lalu mengatakan bahwa Zaid bin Khaththab telah syahid dalam Perang Yamamah. Kemudian Umar berkata, “Rahmat Allah bagi Zaid. Ia mendahuluiku dengan dua kebaikan, yakni ia lebih dahulu masuk Islam dan lebih dahulu syahid.”
Ketika sedang merindukan kakaknya, Umar bin Khaththab melantunkan syair, “Apabila angin kerinduan berembus, tercium olehku harumnya Zaid. Sungguh, kerinduan ini benar-benar membawa aroma wanginya Zaid, baik nama baiknya maupun budinya yang luhur.” Sungguh, keluarga Al-Khaththab mendapat keberkahan dalam naungan panji Rasulullah ﷺ. Insyaallah, memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat.
Ibrah Kisah Zaid bin Khaththab
Rajjal bin ‘Unfuwah dan Zaid bin Khaththab adalah contoh manusia yang saling bertolak belakang penutup hidupnya. Rajjal bin ‘Unfuwah telah menukar petunjuk dengan kesesatan, juga nikmat iman dengan nikmat dunia yang sementara. Harta, jabatan, dan ketenarannya lenyap dalam sekejap ketika nyawa terlepas dari badannya. Tinggallah kenangan buruk sepanjang zaman dan penyesalan di akhirat yang tidak berujung.
Sementara itu, Zaid bin Khaththab adalah gambaran manusia beruntung. Ia menukar waktu, kesehatan, harta, bahkan nyawanya dengan surga yang telah dijanjikan oleh Rabbnya. Ia bersungguh-sungguh menjadi pembela Islam sejak berislam hingga syahid menjemputnya. Tidak ada yang sia-sia dari pilihan dan sikapnya, baik di dunia maupun di akhirat. Namanya selalu dikenang dalam kebaikan. Ia mendapat kenikmatan yang abadi di surga Allah Taala.
Dari kisah ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa Allah telah memberikan kesempatan kepada manusia untuk memilih jalan dengan segala konsekuensinya. Pilihan Zaid bin Khatthab adalah pilihan yang tepat. Pilihannya didasari keimanan yang kukuh kepada Allah serta menghunjam kuat dalam sanubarinya. Ini sebagaimana penegasan Allah Taala di dalam firman-Nya,
اِنَّ اللّٰهَ اشۡتَرٰى مِنَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ اَنۡفُسَهُمۡ وَاَمۡوَالَهُمۡ بِاَنَّ لَهُمُ الۡجَــنَّةَ ؕ يُقَاتِلُوۡنَ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ فَيَقۡتُلُوۡنَ وَ يُقۡتَلُوۡنَوَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقًّا فِى التَّوۡرٰٮةِ وَالۡاِنۡجِيۡلِ وَالۡقُرۡاٰنِ ؕ وَمَنۡ اَوۡفٰى بِعَهۡدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسۡتَـبۡشِرُوۡا بِبَيۡعِكُمُ الَّذِىۡ بَايَعۡتُمۡ بِهٖ ؕ وَذٰ لِكَ هُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِيۡمُ
“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. Dan demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS At-Taubah: 111).
Semoga kita termasuk orang-orang beriman yang istikamah dalam perjuangan Islam, tidak terlena dengan kenikmatan dunia yang sementara lagi fana. Kepada Allah Taala kita bermohon. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]
