[Kabar] Praktisi: Aktivitas Glocal Generasi Muda Dipengaruhi Kebobrokan Sekularisme Kapitalisme

[Kabar] Praktisi: Aktivitas Glocal Generasi Muda Dipengaruhi Kebobrokan Sekularisme Kapitalisme

Muslimah News, NASIONAL — Praktisi pendidikan Putri Ria Angelina, M.Pd.Kons. mengungkapkan, potensi besar generasi muda saat ini tidak berkembang secara optimal karena terseret arus sekularisme kapitalisme yang mendominasi struktur sosial dan politik modern.

“Mereka beraktivitas glocal, yakni global, tetapi memengaruhi dan dipengaruhi konteks lokal. Namun, identitas, nilai, preferensi, dan aktivisme sosial mereka dibentuk oleh arus global sekuler kapitalisme yang masuk ke ruang lokal melalui media sosial, budaya populer, teknologi digital, dan interaksi global yang tidak terhindarkan,” tuturnya kepada MNews, Selasa (9-12-2025).

Menurutnya, sistem kapitalisme yang menuhankan keuntungan dan pasar telah mengubah pemuda menjadi objek komodifikasi, sementara sekularisme—yang memisahkan agama dari kehidupan—membuat mereka kehilangan arah moral dan tujuan hidup yang kukuh. “Alhasil, pemuda menjadi mudah dipengaruhi budaya konsumtif, hedonistik, pragmatis, individualistik, dan kehilangan visi perjuangan yang lebih besar,” imbuhnya

Kebobrokan Sekularisme Kapitalisme

Ia pun mengurai kebobrokan sekularisme kapitalisme terhadap generasi muda. Pertama, sebutnya, menjadikan pemuda sebagai komoditas pasar. “Kapitalisme modern memandang pemuda bukan sebagai subjek perubahan, tetapi objek industri global. Industri hiburan, mode, teknologi, dan media menjadikan pemuda sebagai target utama untuk menghasilkan keuntungan,” ucapnya.

Generasi muda, sambungnya, dipengaruhi oleh iklan, algoritma media sosial, dan tren yang terus berubah sehingga kehilangan kemampuan mengkritisi realitas. “Mereka terseret ke dalam budaya konsumtif; belanja sebagai identitas, gaya hidup sebagai prestise, dan eksistensi ditentukan oleh perhatian publik,” paparnya.

Budaya ini, urainya, melahirkan tekanan psikologis yang berat. “Pemuda dihadapkan pada standar kecantikan, kesuksesan, dan kebahagiaan palsu. Akibatnya, muncul fenomena depression economy, generasi muda yang makin kaya akses, tetapi miskin makna,” jabarnya.

Kedua, ungkapnya, sekularisme memisahkan agama dari politik, sosial, dan kehidupan publik. “Agama hanya dianggap sebagai urusan privat dan ritual sehingga Islam tidak dikenal sebagai sistem hidup (nizhamul hayah) yang mengatur seluruh aspek. Mereka diajarkan bahwa agama tidak relevan untuk perubahan sosial,” sesalnya.

Padahal, Allah Swt. mengingatkan dengan QS Al-Baqarah: 85, “Apakah kamu beriman kepada sebagian kitab dan mengingkari sebagian yang lain?”

“Inilah akar keterasingan identitas pemuda muslim di era global karena hanya menerapkan sebagian praktik ajaran Islam dan mengingkari sebagian lainnya,” ujarnya.

Ketiga, terangnya, krisis identitas dan tujuan hidup. “Ketika agama dipisahkan dari kehidupan dan kapitalisme menguasai ruang publik, pemuda kehilangan kompas moral dan mengalami krisis identitas. Siapa mereka? Untuk apa hidup? Apa tujuan perjuangan mereka?” tuturnya.

Konsekuensinya, urai Putri, angka stres, kecemasan, gangguan mental, self-hate, dan kehilangan makna pun meningkat. “Ironis, pemuda justru makin rentan di tengah jutaan konten motivasi, self-improvement, dan self-healing,” ujarnya.

Keempat, aktivisme pemuda berjalan tanpa arah ideologis. Menurutnya, meskipun banyak pemuda terlibat dalam gerakan lingkungan, pendidikan, kemanusiaan, atau kesetaraan sosial, sebagian besar bergerak tanpa visi peradaban yang jelas.

“Aktivisme mereka sering terkooptasi agenda donor internasional atau diarahkan hanya untuk perubahan kosmetik, bukan sistemis, hanya memperbaiki gejala, bukan akar masalah,” cetusnya.

Ia menilai, kapitalisme global hanya mendukung aktivisme yang tidak mengancam struktur sistem. “Sementara sekularisme membatasi pemuda agar tidak membawa nilai agama dalam advokasi sosial. Akibatnya, potensi perubahan mereka dipreteli sejak awal,” ulasnya.

Kedudukan Strategis

Padahal, Putri menjelaskan, dalam perspektif Islam kafah, pemuda memiliki kedudukan sangat strategis dalam perubahan masyarakat. “Islam menempatkan pemuda sebagai kekuatan pendorong peradaban,” ujarnya.

Ia menuturkan, Allah Swt. telah berfirman tentang ashabul kahfi dalam QS Al-Kahfi: 13, “Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.”

“Ayat ini menunjukkan kekuatan pemuda tidak lahir dari sekadar energi fisik, tetapi dari keteguhan akidah dan komitmen ideologis,” ungkapnya.

Selain itu, tambahnya, Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam riwayat Bukhari, “Aku diberi kemenangan dengan para pemuda.”

“Sejarah menunjukkan perubahan besar yang terjadi pada masa Rasulullah ﷺ didorong oleh keberanian dan ketajaman spiritual generasi mudanya. Jadi, potensi glocal youth seharusnya disinergikan dengan visi Islam kafah agar mereka menjadi motor perubahan global yang bermakna, bukan sekadar aktor pasif dalam sistem sekuler kapitalisme yang runtuh,” katanya.

Bahkan, paparnya, potensi ini harus diarahkan untuk perubahan menuju penerapan syariat Islam secara kafah. “Pemuda adalah pilar kebangkitan Islam, mampu mengubah dunia ketika bergerak dengan visi ideologis yang benar,” imbuhnya.

Glocal Youth

Untuk itu, ia menawarkan solusi Islam kafah untuk mengarahkan gerakan glocal youth. Pertama, mengembalikan akidah sebagai asas gerakan pemuda. “Islam kafah mengajarkan bahwa perubahan harus dimulai dari akidah yang kuat sehingga dapat melihat realitas global dari kacamata Islam, bukan sekuler. Pemuda perlu memahami, Islam bukan sekadar ibadah ritual, tetapi sistem hidup yang mengatur politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan budaya,” ungkapnya menyitir QS Al-Baqarah: 208, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kafah.”

Kedua, sebutnya, membentuk kesadaran politik Islam. “Islam memandang politik sebagai aktivitas mengatur urusan umat berdasarkan syariat. Kesadaran politik Islam membuat pemuda memahami akar masalah dunia, bukan sekadar isu teknologi, pendidikan, atau kemiskinan, tetapi sistem politik global yang rusak. Dengan kesadaran ini, pemuda tidak akan terjebak dalam aktivisme parsial, tetapi bergerak menuju perubahan sistemis,” ulasnya.

Ketiga, lanjutnya, bergerak dalam kerangka dakwah dan amar makruf nahi mungkar. “Islam memerintahkan umat, khususnya pemuda, untuk memperbaiki masyarakat. Allah Swt. berfirman dalam QS Ali Imran: 104, ‘Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar.’,” jelasnya.

Oleh karenanya, Putri mengingatkan, aktivitas glocal youth harus diarahkan pada dakwah Islam secara lokal dan global, membangun opini Islam, menentang aturan zalim, dan memperjuangkan penerapan syariat kafah.

Keempat, ujarnya, mengarahkan perubahan ke dalam sistem Islam kafah. “Tujuan akhir perjuangan pemuda adalah terwujudnya tatanan Islam kafah yang menegakkan keadilan dan kemuliaan manusia. Perubahan bukan hanya moral dan sosial, tetapi politik penegakan syariat, termasuk membangun peradaban rahmatan lil alamin,” urainya.

Bahkan, sambungnya, Rasulullah ﷺ telah mencontohkan bahwa perubahan masyarakat harus melalui proses dakwah, pembinaan, dan perjuangan politik yang berlandaskan wahyu.

Jadi, Putri menyimpulkan, masa depan umat ada di tangan pemuda. “Pertanyaannya, apakah mereka akan tetap menjadi konsumen budaya global atau penggerak perubahan global dengan panduan Islam kafah?” tutupnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *