Penulis: Abdul Qadim Zallum
Sambungan dari “Dialog Antaragama” Bagian 3/6.
Muslimah News, TELAAH KITAB – Peradaban Islam yang berasaskan akidah Islam berbeda dengan peradaban kapitalisme yang berasaskan akidah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Walhasil, hakikatnya titik temu di antara keduanya tidak mungkin ada. Oleh karena itu, dialog antaragama yang dimotori oleh pihak Barat yang kafir itu sebetulnya lebih dimaksudkan agar kaum muslim melepaskan persepsi-persepsi Islam, lalu menggantinya dengan persepsi-persepsi Barat kapitalis.
Alasannya, Barat sendiri telah sangat memahami bahwa mengkompromikan dua ideologi yang kontradiktif, yakni antara Islam dan kapitalisme, adalah mustahil. Dengan demikian, dialog antaragama dan antarperadaban untuk mencari titik temu di antara agama atau peradaban yang ada, serta untuk menciptakan sebuah peradaban manusia yang baru hanyalah sebuah ilusi. Justru yang harus ada adalah konfrontasi pemikiran (ash-shira’ al-fikrî) di antara berbagai agama dan peradaban yang ada.
Dengan begitu akan dapat diketahui yang benar dan yang batil, yang mulia dan yang hina, serta yang baik dan yang buruk. Allah Swt. berfirman, “Buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya, sementara yang memberi manfaat kepada manusia akan tetap ada di bumi.” (QS Ar-Ra’d: 17).
Dialog antaragama yang diserukan Barat kepada kita sesungguhnya merupakan dialog yang bersifat sepihak. Dialog ini diprakarsai oleh musuh-musuh Islam yang bertujuan untuk menghancurkan Islam berikut peradabannya dan kaum muslim sebagai pemeluknya. Oleh karena itu, kaum muslim harus mempersiapkan segala sarana yang memadai untuk melakukan pertarungan atau konfrontasi melawan musuh-musuh Islam. Hal ini hanya dapat diwujudkan melalui kembalinya Negara Khilafah.
Negara Khilafah inilah yang akan terjun langsung ke dalam medan pertarungan fisik atau jihad (ash-shira’ al-mâdî), maupun medan pertarungan pemikiran (ash-shira’ al-fikrî). Semua upaya ini ditujukan dalam rangka menyebarluaskan peradaban Islam yang bermutu tinggi, sekaligus memusnahkan peradaban kapitalisme yang palsu dan bejat.
Wacana tentang Anak Cucu Nabi Ibrâhîm
Wacana atau perbincangan di seputar anak-cucu Ibrahim lebih dimaksudkan untuk memperkuat legitimasi dialog di antara tiga agama (Islam, Kristen, dan Yahudi). Wacana ini didasarkan pada anggapan bahwa ketiga agama samawi ini telah dibawa oleh Nabi Muhammad saw., Isa as., dan Musa as. yang masing-masing mempunyai bapak yang sama, yaitu Nabi ibrahim as.. Oleh karena itu, pemeluk ketiga agama ini harus hidup berdampingan secara damai karena mereka secara primordial berasal dari satu keturunan.
Ini dari satu segi. Dari segi lainnya, wacana atau perbincangan tentang anak cucu Ibrahim ini dimaksudkan untuk mendukung apa yang disebut dengan “proses perdamaian” dan pembukaan hubungan diplomatik dengan Yahudi. Sekaligus juga melancarkan satu poin di antara sejumlah poin konspirasi Barat-Yahudi yang ditujukan kepada Islam dan kaum muslim. Di antaranya adalah mencaplok Palestina dan Masjidilaqsa, menancapkan pisau beracun ke dada umat Islam, serta menjustifikasi kerja sama antara orang-orang Yahudi, Kristen, dan Islam. Ini semua guna menjalankan otoritas keagamaan dalam pengelolaan kota Yerussalem yang telah dianggap sebagai tempat suci untuk tiga agama.
Mereka beralasan bahwa orang-orang Yahudi, Kristen, dan kaum Muslim pada dasarnya adalah orang-orang Islam. Masing-masing mereka berasal dari satu agama, yaitu Agama Abraham (Agama Ibrahim). Sementara itu, Ibrahim sendiri adalah Bapak para Nabi (Abū al-Anbiya’). Untuk membongkar sekaligus membantah kekeliruan pemikiran mereka, harus dijelaskan tiga poin berikut.
Pertama, aspek bahasa (baca: etimologi).
Secara etimologis, kata aslama dalam makna generiknya adalah inqâda (tunduk, patuh, berserah diri). Al-Qur’an telah menggunakan makna bahasa ini dalam kisah para Nabi dan pemberian sifat kepada mereka sebagai orang-orang yang tunduk patuh kepada perintah Allah Taala.
Allah Swt. telah berfirman melalui lisan Nabi Nûh as., nabi sebelum Ibrâhîm as., “Upahku tidak lain dari Allah semata. Aku diperintahkan supaya menjadi bagian dari golongan orang-orang yang berserah diri.” (QS Yūnus: 72).
Allah Swt. berfirman melalui lisan Nabi Ibrahim dan Ismail as., “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu dan jadikanlah di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu.” (QS Al-Baqarah: 128).
Allah Swt. juga berfirman tentang kaum Nabi Luth as., “Kami tidak mendapati di negeri itu selain sebuah rumah orang yang berserah diri.” (QS Adz-Dzāriyāt: 36).
Allah Swt. pun berfirman melalui lisan Nabi Musa as., “Oleh karena itu, bertawakallah kalian hanya kepada-Nya jika kalian benar-benar orang-orang yang berserah diri.” (QS Yūnus: 84).
Sementara itu, melalui lisan kaum Hawariyyun (para pengikut setia Nabi Isa as.,) Allah Swt. berfirman, “Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa kami sesungguhnya adalah orang-orang yang menyerahkan diri.” (QS Ali ‘Imrân: 52).
Dengan demikian, jelas bahwa kata muslimun yang terdapat dalam beberapa ayat tersebut maknanya adalah mungâdûn (orang-orang yang patuh, tunduk, dan berserah diri). Artinya, mereka bukan berarti memeluk satu agama yang sama, yaitu Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.. Alasannya, Islam belum dikenal oleh mereka dan mereka memang belum diperintahkan untuk memeluk agama Islam.
Setiap kaum dari mereka mempunyai seorang rasul yang dikhususkan bagi mereka. Setiap rasul tersebut menyerukan syariat (aturan) tertentu kepada mereka. Allah Swt. berfirman, “Bagi tiap-tiap umat di antara kalian, Kami telah memberikan syariat (aturan) dan jalan yang terang.” (QS Al-Ma’idah: 48).
Ketika wahyu turun kepada Nabi Muhammad saw. dan wahyu tersebut telah mengarahkan perhatiannya pada sejumlah kata Arab tertentu. Melalui wahyu tersebut, sejumlah kata dalam bahasa Arab tersebut mengalami transformasi makna, yakni dari makna aslinya ke makna syar’i yang dikehendaki. Ini sebagaimana dijelaskan oleh nas-nas syariat yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Sunah. Di antara kata-kata yang telah mengalami transformasi atau pemindahan makna, ialah kata Islam.
Secara etimologis, kata Islâm bermakna inqiyâd (tunduk, patuh, berserah diri). Akan tetapi, secara terminologis dalam konteks syariat, kata tersebut berarti agama yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya Muhammad saw.. Makna ini, misalnya, terdapat dalam firman Allah Swt. yang ditujukan untuk semua manusia sampai Hari Kiamat, “… dan Aku telah meridai Islam sebagai agama bagi kalian.” (QS Al-Ma’idah: 3). [MNews/RY-YG]
Sumber: Abdul Qadim Zallum, Persepsi-Persepsi Berbahaya untuk Menghantam Islam dan Mengokohkan Peradaban Barat.
Bersambung ke “Dialog Antaragama” Bagian 5/6.

One thought on “[Persepsi Berbahaya] Dialog Antaragama (Bagian 4/6)”