Muslimah News, INTERNASIONAL – Tentara Afganistan dan Pakistan terlibat baku tembak di sejumlah titik di sepanjang Garis Durand pada Sabtu malam (11-10-2025). Kedua negeri muslim itu saling mengklaim telah menghancurkan pos-pos perbatasan dalam salah satu bentrokan paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. Dua malam sebelumnya, tentara Pakistan mengebom posisi-posisi tertentu di kota Kabul dan Paktika, menyebabkan korban jiwa.
Juru bicara (jubir) kelompok dakwah ideologis internasional wilayah Afganistan mengecam perang yang terjadi antara dua negeri muslim ini. ”Ini bentuk pelayanan terhadap kebijakan regional Amerika dan India, serta merugikan kaum muslim. Konflik ini sekali lagi menunjukkan bagaimana batas-batas buatan dan kebijakan yang tidak islami telah menghasut kaum muslim saling bermusuhan, sementara musuh sejati umat mengamati keadaan dari tempat yang aman,” komentarnya, Senin (19-10-2025).
Ia menyesalkan, tentara Pakistan yang menganggap dirinya sebagai salah satu angkatan bersenjata terkuat di negeri-negeri Islam menempatkan kekuatan dan senjatanya bukan melawan musuh Islam, tetapi melawan saudara-saudaranya sesama muslim.
”Tentara yang sama, tanpa malu melepaskan Kashmir kepada India dan berdiam diri terhadap kebijakan pemerintah Hindutva Modi yang anti-Islam dan tindakan penindasannya. Tentara itu sekarang menyerang kota-kota dan desa-desa di Afganistan serta kawasan-kawasan suku dengan keberanian yang luar biasa,” ujarnya prihatin.
Ia berandai, kalau keberanian dan tekad itu ditunjukkan terhadap India atau Zion*s Yahudi, maka Kashmir tidak akan dijajah dengan kehinaan, Gaza tidak akan mengalami dua tahun pembantaian massal, dan hari ini tidak akan dipaksa menyelesaikan damai yang memalukan atas Gaza di bawah tekanan dan pengkhianatan penguasa-penguasa muslim, termasuk penguasa Pakistan.
Tentara Bayaran
Jubir mengatakan, pola permusuhan terhadap kaum muslim dan berdiam diri terhadap kekufuran ini berasal dari lingkaran tertentu dari tentara bayaran di dalam tentara Pakistan, dan keberanian ini bersumber dari kedekatan sementara antara pimpinan Pakistan dan tuannya, Donald Trump.
”Kedekatan ini memberi kepada tentara Pakistan ilusi dan keberanian untuk melancarkan serangan di Afganistan. Amerika telah menentukan peran baginya berupa penjagaan agar kaum muslim di wilayah suku-suku dan sepanjang Garis Durand tetap sibuk berkonflik dengan para mujahidin Afganistan,” ulasnya.
Ia menerangkan, Amerika berpura-pura bahwa Pakistan adalah mitra penting, sehingga pimpinan politik dan militer Pakistan sibuk bepergian, berfoto, dan membujuk para pejabat Amerika. Namun, ucapnya, ketika angin berubah, Pakistan kembali dipinggirkan dan dilupakan. Menurutnya, ini seperti yang diakui Khawaja Muhammad Asif, Menteri Pertahanan Pakistan, “Kami telah melakukan pekerjaan kotor ini untuk Amerika selama sekitar tiga dekade dan untuk Barat, termasuk Inggris. Itu adalah kesalahan dan kami menderita karenanya.”
”Pengakuan ini menunjukkan bahwa puluhan tahun kebijakan Pakistan telah melayani kepentingan Amerika dan membebani kaum muslim di kawasan dengan biaya yang mahal. Peristiwa yang terjadi belakangan juga menunjukkan bahwa Pakistan belum belajar dari sejarah dan kembali merayu Amerika untuk memainkan perannya di kawasan,” sesalnya.
Fakta sebenarnya, ia menjelaskan, Amerika hanya mengingat Pakistan ketika ia menemui jalan buntu dalam kebijakannya terhadap Afganistan, India, atau Cina. ”Pada kondisi itu Pakistan tiba-tiba menjadi “mitra strategis” dan perannya diaktifkan sementara! Namun, setelah tugas selesai dan kebijakan Amerika kembali ke arah normalnya, Pakistan kembali dipinggirkan. Semua janji dan senyum diplomatik sebagaimana nyata pada masa Biden hanyalah topeng sementara,” kritiknya.
Pesan kepada Mujahidin
Jubir menyampaikan pesan kepada para mujahidin Afganistan dan kepada tentara Pakistan yang setia. ”Saat ini, harapan umat muslim di seluruh dunia, khususnya di Asia Selatan bergantung pada kemampuan militer para mujahidin Afganistan dan para perwira setia di tentara Pakistan yang menempatkan Islam dan janji surga di atas pangkat dan kedudukan duniawi,” ucapnya.
Kekuatan-kekuatan ini, lanjutnya, memiliki kemampuan untuk mengubah keadaan secara signifikan dengan menghapus batas-batas buatan kolonial dan mendirikan Khilafah Rasyidah. ”Mereka dapat menyatukan kemampuan umat di seluruh kawasan dan muncul sebagai poros politik-militer independen di pentas dunia. Sesungguhnya Khilafah akan menetralkan skema-skema kolonial Amerika, India, dan Cina di kawasan, serta mengerahkan tentara untuk membebaskan negeri-negeri Islam yang diduduki seperti Kashmir, Turkistan Timur, dan Palestina,” ucapnya yakin.
Terakhir ia menyampaikan Al-Qur’an surah Al-Anfal ayat 46, “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berselisih sehingga hilang kekuatanmu; dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”[MNews/IA]
