[Kabar] Aktivis: Kasus Raya Adalah Aib Negara Sekuler dan Tidak Akan Terjadi dalam Sistem Islam

[Kabar] Aktivis: Kasus Raya Adalah Aib Negara Sekuler dan Tidak Akan Terjadi dalam Sistem Islam

Muslimah News, NASIONAL – Menanggapi kematian balita dari Sukabumi yang meninggal karena cacingan parah, yakni Raya, aktivis dakwah nasional Ir. Ratu Erma Rachmayanti turut prihatin dan mempertanyakan peran negara. “Kasus Raya ini aib negara sekuler dan tidak akan terjadi dalam sistem Islam. Sekalipun ada penyakit cacingan, kasusnya minim sekali dalam bangunan sistem peradaban Islam,” ucapnya dalam Bincang Hangat Tokoh Muslimah: “Kasus Raya, Bukti Abainya Negara”, Jumat (12-9-2025).

Kematian balita Raya ini, ungkapnya, bukan hanya semata karena masalah ekonomi, tetapi ini adalah problem sistemis. “Raya tinggal di keluarga miskin, orang tuanya sakit, bapaknya sakit TBC (tuberkulosis), dan ibunya menderita gangguan jiwa. Raya menderita malnutrisi dan tidak bisa mengakses kesehatan. Dari masalah tidak punya Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), sanitasi buruk, lingkungan kotor, bahkan masyarakat sekitar kurang peduli dengan keluarga Raya. Parahnya lagi, negara abai dan lamban menangani kasus ini,” paparnya.

Peradaban kapitalisme, ucapnya, menjadi penyebab nonklinis rusaknya layanan kesehatan di negeri ini. “Inilah dampak dari pengingkaran terhadap peran agama, yakni sekularisme yang materialistis. Minimnya peran negara karena peran kapitalis lebih mendominasi yang menjadikan layanan umum sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Memang kapitalis berlomba-lomba membangun rumah sakit, tetapi fasilitas kesehatan berbanding lurus dengan mahalnya biaya kesehatan,” terangnya.

Masyarakat hari ini, tukasnya, aktivitas kehidupannya dipaksa berpijak pada nilai materi. “Walhasil, kebutuhan dasar manusia, baik fisik maupun nonfisik gagal dipenuhi. Inilah yang menjadi pemicu berbagai kerusakan pada aspek layanan kesehatan. Padahal, setiap manusia membutuhkan kesehatan. Kenikmatan yang Allah Swt. beri selain keimanan, yang kedua adalah nikmat kesehatan. Oleh karena itu, wajib bagi negara menjaga kesehatan rakyatnya,” bebernya.

Islam

Dalam pandangan Islam, menurut Ratu, kesehatan tidak hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan, tetapi juga sejahtera secara fisik, mental, dan sosial. “Sehat mental adalah perasaan tenang yang terus-menerus karena terpenuhinya kebutuhan fisik dan naluri dengan benar yang sesuai fitrahnya. Sehat fisik adalah kesehatan anggota tubuh dan keteraturan fungsinya, seperti tercukupinya sandang, pangan, dan papan pada setiap masyarakat. Dengannya, terwujud kesehatan umum yang dikondisikan negara, seperti kelayakan air, makanan, sirkulasi udara, kebersihan lingkungan, vaksinasi, penanggulangan bencana, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Layanan kesehatan, tuturnya, adalah tanggung jawab negara sehingga sudah selayaknya negara memberikan kemudahan untuk mengakses kesehatan, bahkan secara gratis kepada masyarakat. “Harapannya orientasi pelayanan kesehatan dapat diwujudkan, yakni setiap keluarga menikmati kesehatan fisik dan mental sehingga mampu menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah Swt. Selain itu, masyarakat dan negara Islam mampu memikul tanggung jawab dakwah, menyampaikan risalah Islam kepada seluruh umat manusia dengan dakwah dan jihad,” urainya.

Kebijakan kesehatan dalam Islam, lanjutnya, ada beberapa prinsip dasar yang meliputinya. “Pertama, memberikan layanan kesehatan adalah perintah Islam. Kedua, layanan kesehatan adalah tanggung jawab negara. Ketiga, layanan kesehatan untuk semua. Keempat, memberikan layanan terbaik. Dengan keempat aspek ini, penguasa dan praktisi kesehatan akan ikhlas dan bersunngguh-sungguh dalam memberikan layanannya. Bahkan, bisa memberikan fasilitas terbaik dengan gratis,” pungkasnya. [MNews/IK]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *