Muslimah News, INTERNASIONAL — Aktivis muslimah Sumaya binti Khayyat mengulas kondisi Sudan yang saat ini sedang mengalami ketidakstabilan.
Kepada Kantor Berita idelogis internasional, Kamis (21-8-2025), ia menyampaikan bahwa Sudan memiliki signifikansi geopolitik yang sangat besar, dibentuk oleh daratannya yang luas, sumber daya alam yang melimpah, dan lokasi di jantung beberapa jalur perdagangan dan politik paling vital di dunia.
“Meskipun menghadapi ketidakstabilan politik selama beberapa dekade, Sudan tetap menjadi pusat perhatian bagi kekuatan regional dan global karena posisi strategis dan potensinya yang belum dimanfaatkan,” paparnya.
Ia menuturkan, posisi geografis Sudan merupakan salah satu aset strategis terbesarnya. “Terletak di timur laut Afrika, Sudan berbatasan dengan tujuh negara, yakni Mesir, Libya, Chad, Republik Afrika Tengah, Sudan Selatan, Etiopia, dan Eritrea. Hal ini menjadikannya penghubung utama antara Afrika Utara, wilayah Sahel, dan Afrika Sub-Sahara,” urainya.
Selain itu, tambahnya, Sudan juga memiliki garis pantai yang signifikan di sepanjang Laut Merah, tepat di seberang Jazirah Arab dan dekat Selat Bab al-Mandeb, salah satu titik kunci maritim paling penting di dunia.
“Selat Bab al-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Laut Arab, menjadikannya koridor vital bagi perdagangan internasional dan pengiriman minyak. Hampir 10% minyak dunia yang diangkut melalui laut melewati jalur sempit ini,” jelasnya.
Ia menyampaikan, kedekatan Sudan dengan jalur air ini menjadikannya sebagai lokasi yang strategis dan diinginkan bagi kekuatan-kekuatan global yang ingin menguasai rute laut dan logistik angkatan laut. “Kendali atau aliansi dengan Sudan dapat memberikan pengaruh yang signifikan dalam mengelola keamanan Laut Merah dan arus perdagangan antara Asia, Eropa, dan Afrika,” ulasnya.
Kaya SDA
Tidak hanya itu, ungkapnya, Sudan kaya akan sumber daya alam (SDA) yang secara signifikan meningkatkan nilai geopolitiknya. “Negara ini merupakan salah satu penghasil emas terbesar di Afrika dan kekayaan mineralnya meliputi kromium, mangan, seng, bijih besi, dan uranium,” ujarnya.
Meskipun Sudan Selatan memisahkan diri pada 2011 yang mengakibatkan hilangnya sebagian besar ladang minyak, lanjutnya, Sudan masih memiliki cadangan minyak dan gas yang cukup besar, terutama di wilayah timur dan di sepanjang wilayah perbatasan.
Lebih lagi, bebernya, Sudan memiliki lahan subur yang luas dan merupakan rumah bagi Sungai Nil Biru dan Putih yang memberinya potensi besar untuk pertanian dan produksi pangan. “Sudan telah lama dipandang sebagai “lumbung pangan” bagi Afrika dan dunia Arab. Dengan infrastruktur dan tata kelola yang baik, Sudan dapat memainkan peran kunci dalam memastikan ketahanan pangan di kawasan tersebut,” bebernya.
Di luar geografi dan sumber dayanya, ia mengatakan, nilai strategis Sudan yang lebih luas terletak pada pengaruhnya dalam ranah politik Afrika dan Arab.
“Sudan berfungsi sebagai jembatan budaya dan ekonomi antara wilayah Arab Afrika Utara dan wilayah mayoritas muslim di Afrika sub-Sahara. Posisi ini menjadikannya pemain penting dalam diplomasi regional dan dalam proyek-proyek yang lebih luas yang bertujuan untuk integrasi ekonomi atau persatuan politik,” ucapnya.
Dengan kondisi tersebut, ulasnya, kekuatan global, seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, dan aktor regional seperti negara-negara Teluk dan Turki telah menunjukkan minat terhadap Sudan, baik melalui kerja sama militer, investasi ekonomi, maupun aliansi politik.
“Koridor Laut Merah makin termiliterisasi dan wilayah Sudan sering kali menjadi pusat persaingan ini. Pelabuhan, wilayah udara, dan wilayah negara tersebut menawarkan peluang strategis untuk meningkatkan pengaruh, terutama mengingat adanya pergeseran aliansi global dan menurunnya dominasi Barat di wilayah-wilayah tertentu,” paparnya.
Peran Penting
Posisi penting Sudan, tutur Sumaya, tidak hanya kontemporer tetapi juga historis, terutama selama era ketika wilayah ini menjadi bagian Khilafah Islamiah. “Sudan memainkan peran penting dalam menghubungkan dan memperkuat dunia muslim yang lebih luas. Posisi penting ini akan tetap ada pada masa yang akan datang ketika Khilafah kembali,” terangnya.
Bahkan, ia menerangkan, di bawah Khilafah Utsmaniyah, Sudan berperan sebagai perbatasan utama dunia Islam. “Pelabuhan-pelabuhannya di Laut Merah sangat penting bagi perdagangan dan perjalanan keagamaan antara Afrika dan Jazirah Arab, memfasilitasi rute ziarah dan pertukaran ekonomi antarumat,” ujarnya
Ia mengemukakan, tanah Sudan yang subur dan kekayaan mineralnya mendukung pembangunan lokal dan perdagangan regional. “Integrasinya ke dalam Khilafah memungkinkannya untuk mendapatkan manfaat dan berkontribusi pada sistem ekonomi dan hukum Islam yang lebih luas. Selama periode ini, pemerintahan Islam menyatukan beragam kelompok etnis dan suku di bawah panji Islam, menerapkan hukum syariat, dan mempromosikan keadilan dan stabilitas,” urainya.
Posisi Sudan sebagai pos terdepan Khilafah di selatan, sambungnya, memungkinkannya untuk menjadi titik awal bagi dakwah Islam ke Afrika sub-Sahara yang memperkuat persatuan ideologis dan spiritual dunia muslim.
“Jadi, seluruh potensi strategis dan berbasis sumber daya Sudan yang sangat besar hanya dapat dimanfaatkan dengan benar dan adil di bawah Negara Islam, Khilafah. Hanya melalui penerapan sistem Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah, kekayaan, geografi, dan pengaruh Sudan dapat dikelola dengan cara yang melayani kepentingan rakyatnya dan umat yang lebih luas,” ucapnya.
Sebaliknya, ia menyatakan, ketidakstabilan politik yang berulang, keruntuhan ekonomi, campur tangan asing, dan perpecahan internal yang dialami Sudan merupakan konsekuensi langsung dari ketiadaan Khilafah.
“Tanpa kepemimpinan Islam yang bersatu yang memerintah berdasarkan hukum Ilahi, negara ini tetap rentan terhadap eksploitasi oleh kekuatan asing dan manipulasi oleh faksi-faksi sekuler, kesukuan, atau ideologis,” cetuny.
Dengan demikian, ia menegaskan, Khilafah akan memastikan perlindungan kedaulatan Sudan, menyatukan rakyatnya di bawah satu keyakinan, mengarahkan posisi strategis serta kekayaan alamnya untuk mengangkat seluruh dunia muslim, juga bebas dari pengaruh kolonial dan kekacauan internal. [MNews/RA]

Ya Allah,ketika kerakusan kapitalis,,,merusak,,, butuh khilafah