Nasib Gaza Makin Miris Pascaperistiwa Penembakan para Jurnalis

Nasib Gaza Makin Miris Pascaperistiwa Penembakan para Jurnalis

Muslimah News, FOKUS — Warga Gaza berkumpul pada Senin, 11 Agustus 2025 untuk menghadiri pemakaman lima jurnalis Al-Jazeera dan seorang reporter yang tewas dalam serangan brutal entitas Zion*s Yahudi. Pihak Zion*s mengeklaim salah satu dari jurnalis itu sebagai “teroris” yang berafiliasi dengan Hamas dan telah berpura-pura menjadi jurnalis. Namun, hal ini hanya dalih karena sejatinya melakukan serangan kepada jurnalis adalah sebuah kejahatan perang.

Pihak Al-Jazeera mengatakan bahwa para karyawannya terkena tembakan di sebuah tenda yang didirikan untuk jurnalis di luar gerbang utama sebuah rumah sakit di Kota Gaza. Al-Jazeera juga telah mengajukan empat pengaduan terhadap Zion*s di Mahkamah Pidana Internasional atas dugaan kejahatan perang yang dilakukan terhadap jurnalis di Gaza. Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan bahwa setidaknya 238 jurnalis telah tewas sejak perang brutal yang dilancarkan oleh Zion*s di Gaza pada akhir 2023.

LSM Reporters Without Borders yang juga dikenal dengan nama Reporters Sans Frontières (RSF) turut mengecam pembunuhan oleh tentara Zion*s terhadap jurnalis Al-Jazeera ini. RSF pun meminta negara-negara lain bersama Dewan Keamanan (DK) PBB untuk campur tangan memberikan perlindungan kepada para jurnalis di zona konflik. Pasalnya, tanpa tindakan tegas dari komunitas internasional untuk menghentikan tentara Zion*s, dimungkinkan akan lebih banyak pembunuhan di luar hukum terhadap para profesional media.

Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) pada Juli lalu pernah menegaskan, entitas Zion*s melakukan pola pelabelan jurnalis sebagai militan tanpa memberikan bukti yang kredibel. CPJ juga menyatakan bahwa militer Zion*s telah melontarkan tuduhan serupa terhadap jurnalis lain di Gaza pada awal perang.

Membungkam Laporan Perang?

Al-Jazeera menyebut serangan yang menewaskan para jurnalisnya sebagai upaya untuk membungkam suara-suara yang mengungkap pendudukan Zion*s di Gaza. Terlebih lagi, wartawan internasional dilarang bepergian ke Gaza oleh Zion*s, kecuali untuk perjalanan yang dikontrol ketat oleh militer. Serangan maut terhadap para jurnalis tersebut terjadi di tengah meningkatnya kritik terhadap keputusan PM Benjamin Netanyahu yang hendak memperluas perang di Jalur Gaza. Tidak pelak, penembakan itu diduga untuk menutupi kejahatan keji yang akan mereka lakukan.

PBB dan sejumlah badan kemanusiaan telah mengutuk rencana perluasan tersebut. Jika rencana perluasan perang dilaksanakan, kemungkinan akan memicu bencana lain di Gaza. Sejak Juli badan-badan PBB bahkan telah memperingatkan bahwa kelaparan sedang melanda wilayah Gaza akibat pembatasan ketat oleh Zion*s terhadap masuknya bantuan ke sana.

Sedangkan penembakan kepada para jurnalis masih belum menjadi tahapan klimaks dari genosida di Gaza. Kondisi di Gaza justru makin miris pascaperistiwa penembakan para jurnalis itu. Sejak perang brutal yang dilancarkan Zion*s Yahudi di Gaza, korban jiwa sangat besar, yakni lebih dari 61.400 tewas dan 153.000 lebih luka-luka.

Kematian akibat kelaparan mencapai 217 jiwa, termasuk 100 jiwa di antaranya adalah anak-anak. Setidaknya 200.000 anak Palestina di Jalur Gaza menderita malnutrisi parah. Pada Juli 2025, WHO mencatat hampir 12.000 anak yang berusia kurang dari lima tahun mengalami malnutrisi akut.

Korban dari kalangan perempuan dan anak makin banyak, hal ini bersamaan dengan fakta pelaparan yang makin memprihatinkan. Yang lebih menyedihkan, lebih dari 1.300 warga Palestina mengalami luka tembak di dekat lokasi distribusi bantuan yang tidak ubahnya sebagai lokasi pembantaian terencana. Lihat, realitas inikah yang hendak Zion*s bungkam sehingga mereka merasa harus menembak para jurnalis?

Zion*s Brutal, tapi Pengecut

Semua kondisi yang makin memburuk di Gaza ini sejatinya tidak terlepas dari hasil sidang darurat DK PBB yang membahas rencana penjajah Zion*s Yahudi merebut dan menduduki Gaza sepenuhnya dan menggusur warga Palestina dari utara ke selatan. Pelaksanaan sidang itu diminta oleh Denmark, Prancis, Yunani, Inggris, dan Slovenia.

Empat dari lima anggota tetap DK PBB mengecam rencana Zion*s untuk menduduki Gaza, yakni Rusia, Cina, Inggris, dan Prancis. Hanya AS yang mendukung tindakan Zion*s. Pejabat Perwakilan AS Dorothy Shea membela hak Zion*s untuk membela diri sekaligus menyalahkan sikap “keras kepala” Hamas atas masalah-masalah di kawasan tersebut dengan menyatakan bahwa Hamas menolak untuk menerima gencatan senjata.

Kondisi ini turut menguntungkan Zion*s bersamaan dengan adanya pernyataan sikap para pemimpin negeri muslim dalam Deklarasi New York, yaitu deklarasi bersama yang menyerukan Hamas untuk melucuti persenjataan mereka, membebaskan semua sandera, mengakhiri kekuasaan Hamas di Gaza, dan menyerahkan kekuasaan atas Jalur Gaza kepada Otoritas Palestina. Para pemimpin negeri muslim tetap saja diam tanpa selangkah pun mengirimkan pasukan militer.

Tidak heran, Zion*s pun makin brutal. Mereka merasa di atas angin dengan dukungan politik dari AS selaku anggota DK PBB serta pengkhianatan para pemimpin negeri muslim. Sebaliknya, nasib Gaza makin miris. Namun, realitas ini sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa Zion*s sejatinya sudah putus asa dengan perlawanan rakyat Gaza yang selama hampir dua tahun ini seolah-olah tidak kunjung padam.

Genosida melalui upaya pelaparan warga Gaza benar-benar menampakkan langkah Zion*s yang membabi buta. Zion*s bahkan tidak peduli dengan hukum apa pun. Perilaku ini menunjukkan ketakmampuan mereka mengalahkan perjuangan rakyat Gaza secara kesatria.

Pembunuhan para jurnalis termasuk langkah bengis yang Zion*s ambil. Tindakan keji ini pada hakikatnya untuk membungkam media agar tidak menyiarkan kejahatan genosida di Gaza. Pembunuhan jurnalis tidak hanya menghilangkan nyawa manusia, tapi juga wujud tindakan pengecut untuk mematikan nyawa perjuangan rakyat Gaza agar kejahatan Zion*s di Gaza dapat terlaksana secara sunyi senyap.

Tindakan pengecut Zion*s juga terlihat jelas dalam serangan brutal mereka yang senantiasa menyasar perempuan dan anak-anak, serta tempat/fasilitas publik seperti sekolah, masjid, dan rumah sakit. Jika memang Zion*s nyata-nyata hendak berperang, mereka semestinya menghadapi lawan yang sepadan untuk bertempur secara militer. Namun, sudah jelas Zion*s pengecut sehingga beraninya hanya kepada yang lebih lemah dan tidak bersenjata.

Umat Harus Sadar!

Jika kita mencermati semua ini, tidak ada kalimat yang tepat selain, “Umat harus sadar!” Saudara muslim kita di Gaza adalah bagaikan satu tubuh dengan kita. Tidak pantas kaum muslim egois, apalagi memilih menjunjung tinggi nasionalisme dan merasa bahwa Gaza bukan urusan kita. Allah Taala berfirman di dalam ayat,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat [49]: 10).

Rasulullah saw. juga telah banyak menekankan persaudaraan umat Islam, di antaranya di dalam hadis,

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضاً

“Orang mukmin dengan mukmin lain bagaikan bangunan. Masing‑masing saling menguatkan satu sama lain.” (HR Bukhari dan Muslim).

Juga hadis,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari dan Muslim).

Gaza adalah bukti telanjang atas kegagalan nasionalisme dan sistem negara bangsa (nation state). Nasib miris Gaza juga menunjukkan betapa lemahnya Dunia Islam saat ini, padahal jumlah umat Islam mencapai lebih dari 1,8 miliar jiwa. Selama ini Gaza berjuang sendiri, bahkan pemberitaan perihal Gaza agar dunia tidak melupakannya kini tengah dibungkam. Namun sungguh, Gaza sangatlah istimewa. Peristiwa penembakan jurnalis tidak akan memadamkan perjuangan rakyat Gaza.

Pada saat yang sama, kaum muslim harus bersatu dan wajib menolong rakyat Gaza. Hendaklah kaum muslim dari seluruh dunia terus-menerus mengobarkan perjuangan rakyat Gaza hingga tanah mereka terbebas seutuhnya dari cengkeraman Zion*s. Kaum muslim tidak boleh berhenti untuk “berisik” membela Gaza agar menjadi kesadaran umum (wa’yul ‘am) dan opini umum (ra’yul ‘am) di seluruh dunia. Allah Taala berfirman di dalam ayat,

وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ

“Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama maka kalian wajib menolong mereka.” (QS Al-Anfal [8]: 72).

Wilayah Palestina pertama kali dibebaskan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab ra.. Kemudian Palestina dibebaskan untuk yang kedua kalinya oleh Shalahuddin al-Ayyubi. Sepanjang sejarah, Palestina tetap berada dalam kesatuan wilayah Khilafah hingga tetes darah penghabisan pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II yang melindunginya dari segala upaya busuk Zion*s yang ingin menguasainya. Jelas, kemuliaan Palestina hanya akan kembali terwujud dengan tegaknya Khilafah.

Inilah janji Allah Taala yang senantiasa kita nantikan, sebagaimana di dalam ayat,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nur [24]: 55).

Oleh sebab itu, hendaklah kita berpegang teguh pada metode dakwah Rasulullah saw., juga mencontoh khulafaurasyidin dan khulafa sepanjang peradaban Islam yang mulia. Kemuliaan itu hanya akan diraih dengan tegaknya Islam kafah melalui institusi Khilafah. Perjuangan menuju tegaknya Khilafah membutuhkan kepemimpinan sebuah jemaah dakwah Islam ideologis yang tulus mengajak umat untuk berjuang.

Jemaah dakwah Islam ideologis tersebut tulus memperjuangkan tegaknya syariat Islam kafah sebagaimana kutlah (kelompok) dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. saat menapaki aktivitas dakwah di Makkah hingga tegaknya Daulah Islam yang pertama di Madinah. Rasulullah saw. menempuh tiga tahapan (marhalah) dakwah, yaitu pembinaan (tatsqif), interaksi dengan umat (tafa’ul ma’al ummah), dan pengambilalihan kekuasaan (tathbiq al-ahkam).

Jemaah dakwah tersebut berdiri di atas pemikiran (fikrah) yang jelas, jernih, murni, dan cemerlang. Jemaah tersebut mengetahui, memahami, dan siap menerapkan metode (thariqah) bagi fikrahnya. Jemaah itu juga bertumpu pada orang-orang yang sepenuhnya sadar serta memiliki kesadaran dan niat yang benar. Mereka adalah orang-orang yang tidak sekadar berbekal keinginan dan semangat, tapi juga akidah serta pemikiran yang kuat dan sahih. Mereka juga memiliki ikatan yang benar satu sama lainnya yang jauh dari ikatan kemanfaatan, materi, apalagi kepentingan sesaat. Jelas, aktivitas dakwah bersama jemaah dakwah Islam ideologis ini menjadi kebutuhan penting bagi umat Islam seluruhnya. Allah Taala berfirman,

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104).

Perjuangan para jurnalis yang terus berada di garis depan memberitakan nasib saudara muslim kita di Gaza dan Palestina pada umumnya hendaknya menjadi motivasi besar bagi kita untuk berkontribusi menuju pembebasan hakiki bagi mereka. Jangan ragu untuk meneladan as-sayyidusy syuhada (penghulu para syuhada), sebagaimana sabda Rasulullah saw. di dalam hadis,

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَرَجُلٌ قَالَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ

“Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan orang yang melawan penguasa kejam, ia melarang dan memerintah, tetapi akhirnya ia mati terbunuh.” (HR Ath-Thabrani).

Juga hadis dari Abu Sa’id al-Khudri ra.,

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Daud). Wallahualam bissawab. [MNews/NA-RR]

Share

One thought on “Nasib Gaza Makin Miris Pascaperistiwa Penembakan para Jurnalis”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *