[Kabar] Pemerhati: Brain Rot, Racun Sekularisme yang Merusak Generasi

[Kabar] Pemerhati: Brain Rot, Racun Sekularisme yang Merusak Generasi

Muslimah News, NASIONAL — Fenomena brain rot (pembusukan otak) sedang menjadi ancaman generasi hari ini. Dampak medsos dan domscrolling konten digital sangatlah destruktif. Salah satunya adalah brain rot, yaitu gangguan fungsi otak dan kemampuan berpikir. Brain rot dapat terjadi akibat paparan konten digital ataupun scroll medsos berjam-jam, secara terus-menerus.

Dampaknya adalah saraf otak mengalami kelemahan sehingga terjadi gangguan memori, melemahnya konsentrasi dan gangguan proses berpikir. Tentu sangat berbahaya jika generasi dibiarkan terus terpapar racun yang merusak kemampuan berpikir ini.

Racun Sekuler

Menyikapi hal tersebut, praktisi pendidikan dan pemerhati generasi Dr. Retno Palupi, drg., M.Kes. meminta agar umat memahami bahwa fenomena brain rot terjadi akibat racun ideologi sekuler kapitalisme yang secara sengaja dibuat untuk merusak generasi muslim. “Agar generasi muslim itu tetap ada, tetapi kondisinya lemah tidak mampu berpikir, lemah fisik, dan mental, serta rusak kepribadian Islamnya,” bebernya kepada MNews, Ahad (8-6-2025).

Medsos, lanjutnya, adalah produk perkembangan teknologi. “Sebagai produk perkembangan teknologi dari sistem yang berorientasi sekuler kapitalistik, kehadirannya sengaja dibuat dalam rangka menancapkan pola pikir sekuler materialistis sehingga selalu mengikuti gaya hidup Barat,” ucapnya.

Gaya hidup Barat, ungkapnya, merasa selalu membutuhkan produk-produk yang ditawarkan Barat. “Bahkan, sampai tidak memedulikan akan berdampak negatif atau malah menghancurkan generasi. Akibatnya generasi muda hancur tanpa senjata,” tuntasnya.

Butuh Negara

Retno menyampaikan, fenomena brain rot ini menakutkan dan harus dihentikan negara. “Tidak cukup saran dan imbauan, tetapi butuh peran negara untuk mengatasi brain rot yakni dengan memblokir segala konten sampah dan melarang pembuatan konten sampah itu,” ucapnya.

Menurutnya, solusinya tentu tidak cukup dengan solusi individual dengan mengimbau masyarakat membatasi waktu mengakses medsos, rutin berolahraga, bersepeda, atau bercakap-cakap dengan kerabat, atau mengimbau para orang tua untuk mendampingi anaknya. “Tidak cukup hanya dengan saran dan imbauan. Tidak mungkin masyarakat secara individu atau keluarga mampu menangkal serangan racun kapitalisme melalui medsos,” tegasnya.

Kunci utama, lanjutnya, dalam menangani brain rot adalah peran negara. Pertama, sebutnya, negara harus menjadi garda terdepan bertanggung jawab menyudahi perang pemikiran sekuler kapitalisme yang merusak masyarakat Indonesia. “Negara mempunyai kewenangan untuk mengatur platform medsos yang beredar. Jika membahayakan, maka negara harus berani menolak dan memblokir platform tersebut,” jelasnya.

Kedua, ungkapnya, negara bertanggung jawab menanamkan akidah Islam, membentuk pola pikir, dan pola sikap Islam dalam diri warga negara. “Hanya dengan pola pikir dan pola sikap Islam, manusia dapat menentukan tujuan dan arah hidupnya, serta mampu memilih mana perbuatan baik atau buruk dengan standart yang benar yaitu syariat Islam,” urainya.

Ketiga, tegasnya, negara wajib melaksanakan hukum syarak di seluruh aspek kehidupan. “Termasuk mengatur media informasi berdasarkan Islam, menetapkan sanksi hukum bagi pelanggarnya. Tentu saja, negara yang mampu melakukan tugas ini bukan negara pengikut, tetapi haruslah negara kuat yang berlandaskan akidah Islam, menerapkan syariat Islam bagi kehidupan bermasyarakat,” pungkasnya. [MNews/IK]

Share

3 thoughts on “[Kabar] Pemerhati: Brain Rot, Racun Sekularisme yang Merusak Generasi”

  1. Subhanallah, sistem sekuler telah merusak generasi muda, dengan meracuni fungsi otaknya yg berupa kesenangan dan kebarat-baratan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *