Muslimah News, NASIONAL— Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi menyosialisasikan kebijakan jam malam untuk pelajar SD hingga SMP. Siswa yang masih berkeliaran di malam hari tanpa pengawasan orang tua bisa dikenakan sanksi tegas, mulai dari catatan sekolah hingga dibina di pesantren.
Reaksioner
Mubaligah Jawa Barat Endah Siti Muwahidah angkat bicara terkait hal di atas. ”Wacana Pemkot Sukabumi mengirim siswa yang berkeliaran malam hari ke pesantren adalah bentuk kebijakan reaksioner yang mencerminkan kegagalan sistemis dalam membina generasi,” ungkapnya kepada MNews, Senin (9-6-2025).
Ia menyesalkan, alih-alih menyentuh akar persoalan, pemerintah justru melemparkan tanggung jawab pembentukan kepribadian generasi ke pundak pesantren, seolah lembaga Islam ini adalah tempat rehabilitasi anak “nakal”.
”Pesantren pun direduksi menjadi lembaga “pendisiplinan”, bukan lagi diposisikan sebagai pusat transformasi spiritual dan intelektual,” tandasnya.
Mengirim siswa ke pesantren karena dianggap bermasalah, lanjutnya, sama saja menjatuhkan martabat pesantren menjadi “rumah singgah sosial” yang punitif (bersifat menghukum).
”Padahal pesantren adalah institusi pencetak ulama dan pejuang Islam yang tafaqquh fi ad-din, bukan tempat penampungan residu sosial akibat kegagalan sistem pendidikan sekuler yang tercerabut dari nilai-nilai wahyu,” kritiknya.
Kebijakan ini, menurutnya, menjadi potret buram betapa negara abai dalam menciptakan sistem kehidupan yang mampu membentengi generasi dari penyimpangan perilaku dan kerusakan kepribadian sejak dini.
Sistem Sekuler
Endah menilai, akar persoalannya terletak pada sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, termasuk dari sistem pendidikan, sosial, dan keluarga.
”Negara membiarkan generasi muda terseret dalam arus budaya hedonistik, liberal, dan permisif akibat penetrasi kapitalisme global. Sementara itu, sistem pendidikan yang berjalan gagal membentuk kepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah) berbasis akidah yang sahih. Ketika krisis generasi mencuat, yang disalahkan justru para remaja, lalu dicarikan jalan pintas, dilempar ke pesantren,” mirisnya.
Ia menandaskan, pembinaan generasi bukan sekadar urusan teknis dan sektoral, melainkan tanggung jawab kolektif umat dan negara dalam naungan sistem yang sahih, Khilafah Islamiah.
”Negara dalam sistem ini wajib menjamin pendidikan Islam yang menyeluruh dan konsisten sejak usia dini. Pesantren harus dimuliakan sebagai pusat keilmuan, dakwah, dan kaderisasi ulama, bukan dijadikan tempat karantina sosial karena kegagalan sistem sekuler,” bebernya.
Ia menambahkan, solusi hakiki tidak cukup dengan regulasi tambal sulam seperti mengatur jam malam atau memindahkan masalah ke lembaga lain.
”Solusi sejati hanya akan lahir dari penerapan sistem Islam kafah, yang membentuk lingkungan sosial, budaya, dan politik yang kondusif, serta memuliakan institusi pesantren sebagai benteng peradaban Islam dan tempat lahirnya generasi pemimpin umat masa depan,” pungkasnya. [MNews/IA]

Pendidikan Islam mampu mencetak generasi yg berkepribadian Islam
Sepakat butuh penerapan Islam Kaffah