[Tokoh Bicara] Hijrah Menuju Sistem Islam Kafah

[Tokoh Bicara] Hijrah Menuju Sistem Islam Kafah

Muslimah News, TOKOH BICARA —

Ustazah dan Mubaligah Berperan Besar Menuntun Umat

Bicara hijrah, kita wajib becermin pada hijrahnya Rasulullah saw., berpindah dari Makkah ke Madinah, berubah dari sistem jahiliah (Makkah) ke sistem Islam kafah (Madinah).

Akibat penerapan sistem jahiliah, yakni sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan dan pemisahan agama dari negara). Juga akibat sistem kapitalisme demokrasi, umat Islam terkungkung dengan berbagai macam persoalan yang begitu ruwet, bahkan hingga ambang darurat, baik darurat korupsi, seks bebas, narkoba, pinjol, judol, hingga genosida di Palestina.

Bagi siapa pun yang menginginkan kehidupan yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, tidak ada pilihan lain, selain berhijrah ke sistem Islam kafah dalam naungan Khilafah. Terlebih para ulama, khususnya para ustazah dan mubaligah, mereka berperan besar menuntun umat menuju kehidupan yang lebih baik ini.

Qisthi Yetty Handayani (Aktivis Muslimah)
—

Muharam Bulan Hijrah, Tonggak Berdirinya Daulah Islam

Harus dipahami, esensi dari Muharam sebagai Bulan Hijrah tidak lain adalah karena mengacu pada peristiwa Hijrah Rasul. Hal ini sejalan dengan makna hijrah secara syar’i, yakni berpindah dari dar kufur ke dar Islam. Saat itu, Nabi saw. dan para sahabat, hijrah dari dar kufur di Makkah, lalu membentuk dar Islam di Madinah.

Adapun motivasi utama kaum muslim ketika hijrah kala itu adalah motivasi iman, yakni dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah Taala, yakni untuk menyelamatkan agama mereka dari fitnah yang ditimbulkan dari kaum musyrik Quraisy.

Kota Madinah, sebagai negara baru (daulah Islam) yang dipimpin oleh Nabi saw., memberikan keamanan bagi warganya. Bahkan, mereka mengembangkan kehidupan sebagai umat baru dengan peradaban baru di bawah naungan Daulah Islamiah, yang sepeninggal Rasulullah keberlangsungan Daulah Islam tersebut dilanjutkan oleh para sahabat sehingga lahirlah sistem kenegaraan Khilafah Islamiah.

Oleh karena itu, jadikanlah Muharam sebagai momen perubahan menuju hijrah dari sistem sekuler liberal menuju sistem Islam kafah dalam naungan Khilafah yang akan membawa berkah.

Hayyin Thohiro (Mubaligah dan Aktivis Muslimah)
—

Dibangun atas Landasan Iman dan Takwa

Muharam menjadi momen penting bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia untuk melakukan perubahan hakiki, yaitu perubahan dari sistem kehidupan yang sekuler, liberal, dan dikuasai oligarki, menuju sistem Islam kafah yang membawa berkah.

Keberkahan ini hanya akan terwujud ketika Islam kafah diterapkan sebagaimana yang Nabi Muhammad saw. contohkan, yakni dengan hijrah ke Madinah untuk menerapkan Islam kafah dalam sistem kenegaraan Daulah Islamiah, cikal bakal lahirnya sistem Khilafah Islamiah.

Khilafah Islamiah adalah sistem pemerintahan yang dibangun atas landasan iman dan takwa dengan menerapkan Islam kafah untuk mengatur segala aspek kehidupan. Khilafah adalah sistem pemerintahan yang akan membawa keberkahan sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS Al-A’raf: 96, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”

Kholishoh Dzikri (Mubaligah dan Aktivis Muslimah)
—

Jangan Menjadi Syaithan Akhras ‘Setan Bisu’

Kepemimpinan corak populis otoriter oligarki telah nyata terbukti menciptakan berbagai kerusakan, kemaksiatan, dan kezaliman luar biasa pada kehidupan masyarakat di negeri ini. Keserakahan manusia yang dilegalkan di bawah naungan sistem sekuler kapitalisme menjadi akar masalah semua ini terjadi.

Tentu kita tidak boleh diam menghadapi kenyataan ini. Diam berarti membiarkan kerusakan, kemaksiatan, dan kezaliman. Imam Abu Ali ad-Daqqooq an-Naisaburi asy-Syafi’i berkata, “Orang yang berdiam diri dari (menyampaikan) kebenaran, maka ia adalah syaithan akhras, yakni setan bisu dari jenis manusia. Dan orang yang menyampaikan kebatilan, ia adalah setan yang berbicara.”

Peristiwa Hijrah Rasulullah ﷺ telah memberikan keteladanan dan pelajaran penting, betapa perubahan masyarakat menuju tatanan adil dan penuh rahmat tidak mungkin terjadi tanpa Islam. Para sahabat Nabi ﷺ telah mencontohkan bahwa kemenangan dan perubahan besar itu hanya bisa diraih dengan perjuangan dan pengorbanan yang besar di jalan Allah.

Momentum Tahun Baru Hijriah ini semestinya menyadarkan kita semua untuk mengubah diri, masyarakat, dan negeri ini menuju tatanan yang islami, yang Allah Taala ridai, yaitu hijrah menuju kepemimpinan Islam, Khilafah Islamiah, yang akan menerapkan syariat Islam kafah menuju Indonesia berkah, adil, dan penuh rahmat untuk semua.

Endah Siti Muwahidah (Mubaligah)
—

Hijrah Nabi Mewujudkan Peradaban Islam yang Agung

Peristiwa Hijrah Baginda Nabi saw. dari Makkah ke Madinah adalah momentum penting dalam lintasan sejarah perjuangan Islam dan kaum muslim. Dengan Hijrah itulah, masyarakat Islam terbentuk untuk pertama kalinya. Lewat pintu Hijrah itu pula, Islam sebagai sebuah ideologi dan sistem bisa ditegakkan dalam institusi negara, yakni Daulah Islamiah di Madinah Munawarah.

Setelah Islam diterapkan, cahaya Islam tidak hanya menyinari Madinah, tetapi juga menyebar ke wilayah lain. Membebaskan manusia dari sistem kufur jahiliah yang diterapkan negeri tempat tinggalnya yang penuh kegelapan, menuju cahaya dengan menerapkan Islam sebagai aturan di seluruh sendi kehidupan.

Peradaban unik pun menjelma, menjadi negeri yang merdeka secara hakiki yang menghamba kepada Allah semata. Itulah hijrah yang sebenarnya.

Asma Amnina (Mubaligah dan Aktivis Muslimah)
—

Yuk Hijrah!

“Yuk hijrah!” Sebuah seruan yang tidak asing dan terus terngiang saat Muharam yang penuh hikmah. Tentunya kita berharap benar-benar ada perubahan dari kondisi keterpurukan, menjadi kondisi cemerlang penuh keimanan dan keberkahan.

Permasalahannya, sistem yang saat ini mengepung dunia dikuasai oleh negara superpower yang mengenalkan sistem sekuler kapitalisme. Dengan sistem sekuler ini, dunia makin terpuruk. Penindasan dan kejahatan merajalela. Pembunuhan sadis tidak kenal ampun pun dirasakan saudara-saudara kita di Palestina, Rohingya, dan belahan dunia Islam lainnya. Belum lagi kemiskinan, kemaksiatan, dan kebodohan, juga terus melanda umat Islam.

Sungguh, umat Islam sudah sangat menderita. Saatnya bangkit, saatnya hijrah dari sistem kufur menuju sistem Islam kafah. Saudaraku, mari bangkit dengan Islam kafah. Mari menjemput janji Allah bahwa sistem Islam mampu menyolusi problem dunia.

Mutiatul Hasanah, S.Pd., M.Pd. (Guru SMP di Jember)
—

Masih Ada Harapan

Muharam telah menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengenang puncak perjalanan dakwah Rasulullah. Demi membawa cita-cita dakwah, menerapkan ajaran Islam pada kehidupan manusia. Sebagai momentum, maka pesan Muharam, yakni hijrah dan perubahan, selalu relevan bagi kehidupan umat, termasuk di Indonesia.

Hampir satu dekade ini, umat merasakan kehidupan yang makin sulit. Merebaknya kezaliman berupa kebohongan, sikap semena-mena, penindasan, pengusiran, intimidasi, kriminalisasi, bahkan penghilangan nyawa.

Buruknya riayah urusan umat yang telah ada, makin bertambah dengan terpilihnya rezim yang tidak kompeten. Penerapan sistem demokrasi di negeri ini telah mendatangkan kesengsaraan dan jauhnya umat dari agamanya.

Namun, selama kita yakin besok matahari masih terbit dari arah timur, berarti masih ada harapan bagi langkah perubahan politik. Allah Maha Menepati Janji-Nya.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Siapa yang kufur setelah (janji) tersebut, mereka itulah orang-orang fasik.” (QS An-Nur: 55).

Fatma Sunardi (Pengamat Politik)
—

Demokrasi Penghalang Hijrah Kafah

Demokrasi adalah penghalang terbesar hijrah kafah. Gen Z mesti paham masalah ini. Ini karena politik demokrasi melanggengkan perpecahan dalam tubuh umat Islam, bahkan umat manusia.

Demokrasi juga punya miskonsepsi soal persatuan dan keimanan, padahal untuk hijrah kafah mutlak membutuhkan persatuan umat atas dasar fondasi keimanan.

Ada baiknya juga Gen Z melek dengan kondisi Amerika hari ini. Agar mudah bagi Gen Z berhenti mengagumi demokrasi dan bergegas bersama mewujudkan hijrah kafah.

Endiyah Puji Tristanti (Pengamat Politik)
—

Hijrah, Kebutuhan untuk Mewujudkan Negara Maju dan Rakyat Sejahtera

Banyak sekali persoalan kehidupan hari ini, mulai dari maraknya PHK yang menambah jumlah pengangguran, melemahnya daya beli masyarakat, maraknya pinjol dan judol, mahalnya UKT, ancaman defisit APBN, tingginya beban utang negara, serta masih banyak masalah lainnya. Semua ini makin menjauhkan harapan untuk menjadi negara maju 2045, apalagi untuk mewujudkan target hidup sejahtera bagi setiap individu rakyat.

Namun, jalan hijrah dari sistem demokrasi kapitalisme menuju sistem Islam, bisa mewujudkan harapan itu, insyaallah. Syariat Islam yang bersumber dari wahyu Allah akan menuntun manusia untuk menjalani kehidupan yang berkah dunia dan akhirat.

Dengan hijrah menuju sistem Islam, akan ditemukan petunjuk dari kehidupan yang sulit (jahiliah) hari ini menuju kehidupan sejahtera berkah (cahaya). Cahaya kehidupan Islam inilah yang akan menjadikan umat Islam menjadi umat terbaik.

Akan tetapi, hijrah butuh negara untuk menjalankan syariat Islam secara kafah, mulai dari ibadah hingga politik, ekonomi, dan politik luar negerinya. Inilah Khilafah, negara yang undang-undangnya bersumber dari wahyu Allah, bukan intervensi kepentingan oligarki. Negara ini bervisi rahmatan lil ‘alamin. Visi inilah yang akan menjadi pancaran cahaya untuk memberikan keadilan bagi setiap individu rakyat dan menjadi negara maju (adidaya).

Zikra Asril (Pengamat Politik Ekonomi)
—

Bangun Ekosistem Baru dengan Lebih Kondusif

Tentu banyak makna hijrah bagi umat Islam. Umat harus membangun ekosistem yang baru dengan lebih kondusif untuk perkembangan Islam. Juga banyak peristiwa pada 1 Muharam.

Sudah seharusnya umat Islam menjadikan momen Hijrah untuk mengubah diri menjadi manusia yang lebih baik dan umat harus bergerak dengan dinamis dan terorganisasi.

Mirah Sumirat, S.E. (Presiden ASPEK Indonesia)
—

[MNews]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *