Muslimah News, INTERNASIONAL — Kekerasan finansial terjadi pada 99% kasus kekerasan domestik di Amerika Serikat. Dengan pola yang serupa, hal ini juga terlihat di berbagai negara lain, termasuk di Indonesia.
Bentuk kekerasan finansial domestik ini, antara lain mengambil alih rekening bersama, memaksakan untuk mengambil pinjaman atau utang, hingga memanipulasi berbagai akses terhadap sumber daya ekonomi. Contoh kasusnya, seperti istri yang diminta untuk menyerahkan seluruh gajinya kepada suaminya, orang lanjut usia (lansia) yang pensiunannya dikuras oleh cucunya melalui dompet digital, dan sebagainya.
Di Amerika Serikat (AS), eksploitasi finansial terhadap lansia mencapai angka $28,3 miliar per tahunnya. Sementara di Australia, kekerasan finansial pada 2023 sebesar $5,7 miliar. Adapun di Indonesia, trennya meningkat pada tahun 2024 sebesar 27% berdasarkan pengaduan atas penyalahgunaan produk-produk yang dikeluarkan oleh keuangan dengan pelakunya adalah keluarga dekat.
Pakar ekonomi Islam Nida Saadah, S.E., Ak., M.E.I. menerangkan, situasi ketika perempuan dan para lansia mengalami tekanan dari sisi finansial menggambarkan untuk kesekian kalinya bahwa sistem sekuler kapitalisme telah gagal memberikan perlindungan.
“Sistem sekuler kapitalisme yang mendominasi peradaban di muka bumi ini telah terlihat dengan jelas gagal dalam melindungi perempuan, gagal dalam melindungi orang-orang yang sudah lansia,” ungkapnya dalam Economic Understanding: “Kekerasan Finansial Domestik dalam Sorotan Islam”, Jumat (30-5-2025), di kanal Muslimah Media Hub.
Peradaban Islam
Fakta sebaliknya, ia menuturkan, perempuan justru terlindungi dan orang-orang yang sudah lansia dirawat dengan baik, hanya bisa dijumpai dalam sejarah peradaban Khilafah Islam.
“Para perempuan adalah sosok yang dihormati, dimuliakan, dilayani. Sementara orang-orang yang sudah lanjut usia—yang berada dalam pemeliharaan anak-anaknya—, maka dirawat dengan baik berdasarkan perintah Allah sebagai bentuk birrul walidain atau berbakti kepada orang tua,” jelasnya.
Cara pandang semacam ini, lanjutnya, tidak dijumpai dalam sistem hari ini yang didominasi oleh ideologi sekuler kapitalisme yang selalu melihat segala sesuatu dari benefit atau keuntungan secara materi.
“Akibatnya, muncullah sosok-sosok yang bersifat egosentris, selalu melihat segala sesuatu dalam ukuran materi atas apa yang dilakukan. Bagi orang-orang tertentu, yang memiliki sumber daya ekonomi, tetapi memiliki kelemahan karena sudah lanjut usia, dan lain-lain, maka justru menjadi objek manipulasi, dieksploitasi, ditekan, diintimidasi. Oleh siapa? Orang yang lebih kuat, termasuk orang yang terdekat dengannya,” paparnya.
Sedangkan, Islam mengajarkan cara pandang yang jauh berbeda dengan apa yang terjadi hari ini. “Di dalam Islam, justru bagi seorang istri, regulasi Islam mengatur bahwa hak keuangan istri dijamin secara penuh,” ujarnya.
Bekerja bagi perempuan, tambahnya, adalah sebuah pilihan. “Kalau pilihan itu diambil, maka harta yang didapatkan dari bekerja itu adalah miliknya. Apabila, ia berikan kepada keluarganya, maka ia mendapatkan pahala sedekah. Itu menggambarkan bahwa tidak ada tuntutan wajib bagi seorang wanita untuk membelanjakan atau mengalokasikan harta yang diperoleh dari ia bekerja,” ungkap Nida.
Apalagi, lanjutnya, dari orang-orang yang sudah lanjut usia. “Justru bukan diambil hartanya, melainkan mendapatkan pelayanan penghormatan dari anak-anaknya sebagai bakti anak kepada orang tua ketika sudah lanjut usia,” katanya.
Melelahkan
Menurutnya, ini tentu kondisi yang sudah sangat melelahkan. “Masyarakat itu sebetulnya sudah lelah hidup dalam sistem dunia hari ini yang didominasi oleh peradaban sekuler kapitalisme,” cetusnya.
Padahal, terangnya, rakyat sebagai manusia normal tentu saja menginginkan hidup yang tenang, hidup yang sejahtera, damai di dunia, dan yang lebih penting lagi tentu menginginkan untuk mendapatkan keselamatan ketika di yaumulhisab. “Dan jawabannya tentu hanya satu, yaitu kembali ke pangkuan Islam,” tandasnya. [MNews/RA]
