Muslimah News, INTERNASIONAL — Direktur Forum Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi, Senin (10-6-2024), membeberkan bahwa entitas penjajah Zion*s Yahudi sebenarnya negara yang lemah kalau tidak didukung Amerika Serikat.
Meskipun begitu, ulasnya, apabila kaum muslim mau menghentikan kebiadaban Zion*s dengan cara bersatu, AS akan berpikir seribu kali lipat untuk menghadapinya. “Itu yang tidak diinginkan oleh AS sejak awal. Oleh karenanya, Menlu AS berulang-ulang datang ke Timur Tengah memastikan tidak ada pergerakan dari pasukan militer di sekitar negara-negara Arab,” ungkapnya.
Ia mengutarakan, sejak awal AS mengatakan bahwa perang ini tidak boleh meluas. “Apa maknanya? Maknanya, negara-negara Arab tidak boleh terlibat. Ini yang diinginkan dan dipastikan oleh AS karena AS sangat khawatir kalau negara-negara Arab bersatu,” paparnya.
Menurutnya, bukan hal yang mudah bagi AS untuk menghadapi kekuatan persatuan kaum muslim. “Apalagi kondisi AS saat ini bukan dalam kondisi ekonomi dan politik yang fit untuk membuka front perang baru,” ucapnya.
Jangankan membuka front baru, sebutnya, bahkan AS sudah menarik pasukannya dari Afganistan juga karena persoalan keuangan atau ekonomi.
“Mengirimkan pasukan ke satu wilayah perang itu butuh dana besar. Demikian juga di Irak, AS membentuk apa yang disebut dengan pemerintahan boneka dan mengurangi pasukannya di sana. Artinya bagi AS, membuka front perang baru itu sama dengan bunuh diri,” urainya.
Selain itu, lanjutnya, dari sisi opini di Barat, termasuk di AS, dukungan terhadap Zion*s Yahudi ini dalam titik nadir.
“Itu ditandai dengan maraknya aksi-aksi pro Palestina di berbagai kawasan di Barat, termasuk di kampus-kampus AS. Ini karena kondisi di Palestina dan kekejaman Zion*s tidak bisa ditutup-tutupi lagi,” ujarnya.
Kalau dahulu, jelasnya, opini masih bisa direkayasa dengan keberadaan kantor-kantor berita dunia, seperti CNN, BBC, VOA yang benar-benar dikendalikan negara-negara Barat, termasuk dengan lobi-lobi Zion*s.
“Saat ini, dukungan politik dari masyarakat Barat terhadap entitas penjajah Yahudi ini makin berkurang, padahal dukungan politik ini akan sangat menentukan kebijakan politik rezim Barat. Itu juga menjadi kendala politik tersendiri secara internal di negara-negara Barat ,” ulasnya.
Oleh karena itu, ia menekankan lagi, tidak mudah bagi AS untuk membuka front perang baru, apalagi jika menghadapi kaum muslim yang bersatu di seluruh dunia—tidak hanya pasukan intinya—, yang siap jihad fi sabilillah.
Kendala Politik
Hanya saja, jelasnya, Barat paham kaum muslim memiliki kendala politik, yaitu keberadaan negara-negara bangsa di negeri-negeri Islam. “Kondisi itu memecah belah kaum muslim untuk bersatu. Hal inilah yang membuat entitas penjajah Yahudi itu sepertinya tidak ada malunya, tidak ada takutnya. Bukan karena mereka kuat, tetapi karena umat Islam ini diam, terutama panglima-panglima perangnya,” kritiknya.
Padahal, ia menyatakan, Al-Qur’an menyebutkan entitas penjajah Yahudi adalah orang-orang pengecut dan sebenarnya bukan orang-orang yang siap berperang.
“Sekarang ini saja banyak tentara mereka merupakan tentara bayaran. Banyak tentara Amerika yang masuk ke sana dengan memakai pakaian militer Zion*s. Persenjataannya juga didukung oleh AS,” cetusnya.
Dengan demikian, lanjutnya, jika ingin mengusir penjajah, mau tidak mau harus dengan kekuatan militer. “Ini karena kita berhadapan dengan AS dan negara-negara Barat yang mereka itu akan bersatu untuk membela entitas penjajah Yahudi sehingga umat Islam juga butuh persatuan,” ucapnya.
Namun, lanjutnya, persatuan umat Islam akan efektif dan kuat kalau ada institusi politik secara global yang menyatukannya. “Itulah sistem politik Islam yang oleh para fuqaha disebut dengan Khilafah ala minhaj nubuwwah,” pungkasnya. [MNews/Ruh]
