[Nafsiyah] Belajar Bertawakal

[Nafsiyah] Belajar Bertawakal

Penulis: Ustaz M. Taufik N.T.

Muslimah News, NAFSIYAH — Allah Swt. berfirman, “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS Ath Thalaaq [65]: 3).

Tentang ayat ini, Imam Al Qurtubi (w. 671H) menyatakan, ”Yakni, barang siapa yang menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, pasti Allah akan mencukupi kebutuhannya. Dan dikatakan, yakni siapa saja yang bertakwa kepada Allah, menjauhi maksiat, dan bertawakal kepada-Nya, baginya apa yang diberikan di akhirat dari ganjarannya itu mencukupinya. Dan tidak dimaksudkan untuk dunia, karena orang yang bertawakal kadang diberi musibah di dunia dan kadang juga dibunuh (di dunia).” (Al Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân, 18/161. Maktabah Syamilah).

Hakikat Tawakal

Hakikat tawakal adalah hati yang bersandar tetap/teguh kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam usaha mendapatkan kemanfaatan dan menolak kemudaratan dari perkara yang sifatnya duniawi maupun ukhrawi. Juga mempercayakan semua urusan kepada-Nya dan mewujudkan keimanan bahwa tidak ada yang bisa memberi, mencegah, mendatangkan mudarat, dan memberi kemanfaatan selain Dia. (Imam Ibnu Rajab al Hanbali (w. 795 H), Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, 2/497. Maktabah Syamilah).

Adalah dusta jika seseorang mengaku bertawakal/menyerahkan urusannya kepada Allah Swt., tetapi dalam menjalankan urusannya ia melirik hukum dan aturan lain yang bertentangan dengan syariat-Nya. Ia mengaku berserah kepada Allah, tetapi hatinya tidak rela dengan hukum-hukum-Nya. Tawakkal adalah suatu sikap mental seseorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah Taala. Ini karena di dalam tauhid, ia diajari agar meyakini bahwa hanya Allah Swt. yang menciptakan segalanya.

Salah Paham terhadap Tawakal

Sebagian orang menganggap bahwa tawakal berarti meninggalkan usaha. Ia hanya diam menunggu, enggan berusaha dan bekerja. Tidak usah belajar, jika Allah menghendakinya pandai tentu ia akan menjadi orang pandai. Tidak usah memperjuangkan agama-Nya, jika Dia berkehendak, niscaya agama-Nya ini akan dominan di tengah masyarakat. Tidak usah bekerja, jika Allah menghendakinya menjadi orang kaya, tentulah ia akan kaya (sekalian katakan kepada mereka ketika mereka lapar, “Kamu tidak usah makan. Jika Allah menghendaki kamu kenyang, tentulah kamu kenyang”).

Ungkapan itu memang benar di satu sisi, tetapi keliru di sisi yang lain. Apa yang dikehendaki Allah memang pasti terjadi. Kalau Allah menghendaki manusia diciptakan tanpa perlu makan, tentu itu yang terjadi. Sebagaimana malaikat yang tetap hidup walau tanpa makan. Namun kenyataannya Allah berkehendaki lain. Dia menciptakan manusia dengan kebutuhan makan sehingga Rasulullah saw. juga lapar kalau tidak makan.

Usaha

Usaha dengan anggota badan untuk meraih sebab-sebab terealisasikannya suatu urusan merupakan ketaatan kepada Allah, sedangkan tawakal dengan hati merupakan keimanan kepada-Nya. Sahl At Tusturi mengatakan, ”Barang siapa mencela gerak, yakni berusaha dan bekerja, ia telah mencela Sunah. Barang siapa mencela tawakal, ia telah mencela keimanan. Tawakal adalah hal (keadaannya) Nabi saw. dan kerja adalah Sunahnya. Maka siapa yang melakukan halnya, janganlah meninggalkan Sunah beliau.” (Jâmi’ul Ulum wal Hikam, 2/497. Maktabah Syamilah).

Sunah di sini adalah segala yang bersumber dari Rasulullah saw., baik perbuatan, perkataan, maupun persetujuan beliau saw. atas suatu perkara. Adakalanya perkara tersebut wajib, adakalanya sunah/mandub/nafilah, mubah (boleh), ataupun haram.

Dari ‘Umar bin Khaththab ra., beliau pernah mendengar Nabi saw. bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia (Allah) akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung. Ia (burung) keluar pada pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR At-Tirmidzi dan beliau berkata hadis ini hasan).

Hadis ini justru menunjukkan bahwa tawakal yang sebenarnya tidaklah identik dengan meninggalkan usaha. Disebutkan bahwa burung tersebut tetap pergi pada pagi hari dan kembali pada sore hari dalam rangka mencari rezeki. Burung tidak hanya diam dan tidur di sarangnya.

Bahkan dalam kondisi “tidak mungkin ada usaha lagi” pun, Allah Swt. tetap menyuruh berusaha sebisa mungkin. Tidakkah kita mengingat saat Nabi Musa as. ingin menyelamatkan diri dan kaumnya dari kejaran Firaun. Saat itu di hadapannya terbentang lautan dan tidak mungkin lagi membuat kapal karena Firaun dan bala tentaranya sudah terlihat menyusul di belakang. Dalam kondisi seperti itu, Allah Swt. tetap menyuruh Musa as. untuk memukul lautan dengan tongkatnya (lihat QS As Syu’ara’: 63). Sesungguhnya tanpa dipukulpun, Allah Swt. mampu membelah laut dan hanya dengan dipukul Musa pun lautan tidak mungkin terbelah sendiri.

Oleh karena itu, menjalankan usaha sesuai syariat Allah dan kaidah-kaidah sebab-akibat adalah kewajiban. Jangan berhenti hanya karena kita menganggap hal tersebut sulit. Namun wajib dibarengi dengan sikap berserah diri dan keyakinan yang bulat bahwa hanya atas izin Allah Swt. semua hal bisa terjadi. Allâhu A’lam. [MNews/YG]

Sumber: mtaufiknt[dot]wordpress[dot]com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *