Penulis: Ustaz M. Taufik N.T.
Muslimah News, NAFSIYAH — Rasulullah saw. adalah sosok teladan bagi umat manusia. Terkait hal ini, Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan ia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab: 21).
Rasulullah saw. adalah orang yang sangat lembut dan penyayang. Imam Bukhâri meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Suatu ketika aku pernah berjalan bersama Rasulullah saw. yang saat itu memakai selendang Najran yang kasar tepinya. Tiba-tiba ada seorang Arab desa bertemu dengan beliau, lalu menarik selendang beliau dengan kuat. Aku melihat di bagian leher Rasulullah saw. ada bekas ujung selendang itu akibat kuatnya tarikan tersebut. Orang itu kemudian berkata, “Wahai Muhammad! Berikanlah kepadaku sebagian dari harta Allah yang ada padamu.” Rasulullah saw. meliriknya, lalu tersenyum dan memerintahkanku untuk memberikan sesuatu kepadanya.
Di sisi lain, Rasulullah saw. sangat tegas dalam menegakkan syariat Allah Taala. Beliau tidak berkompromi dalam masalah halal dan haram, bahkan terhadap anak kecil, cucu beliau sendiri. Abu Hurairah ra. menceritakan bahwa Al-Hasan bin Ali, cucu Rasulullah saw. telah mengambil sebagian kurma sedekah (zakat), lalu memakannya. Kemudian, Rasulullah saw. bersabda, “Kikh- kikh (tidak boleh, tidak boleh), buang kurma itu! Apakah engkau tidak tahu bahwa (keluarga) kita tidak boleh memakan harta sedekah (zakat)?” (HR Muslim).
Kita tidak bisa disebut meneladan Rasulullah saw. kalau kita hanya mencontoh kelembutan beliau, tetapi tidak mencontoh ketegasan beliau. Terlebih lagi kalau kita berlemah lembut kepada orang yang melecehkan Islam, sementara itu kita baru bisa tegas dan keras kalau orang merugikan kepentingan pribadi kita.
Sungguh sikap seperti ini disindir oleh Al Hâfiz Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) dalam kitab Bahjatul Majâlis, “Wahai saudaraku, sesungguhnya di antara laki-laki (ada) binatang dalam bentuk seorang laki-laki yang mendengar dan melihat. Ia cerdas pada setiap musibah yang menimpa hartanya, tetapi jika agamanya yang ditimpa musibah, ia tidak pernah merasa.”
Sungguh, dalam pelaksanaan hukum-hukum Allah Swt., Rasulullah saw. bersikap sangat tegas. Beliau tidak mengenal kompromi, tidak memandang orang lain akan menerimanya atau tidak, tidak memikirkan akan populer ataukah justru akan dicaci. Rasulullah saw. pernah marah kepada Usamah bin Zaid tatkala melobi Rasulullah untuk meringankan hukuman wanita dari kabilah Makhzumiyah yang telah mencuri.
Rasulullah saw. juga bersikap tegas dalam memerintahkan anak-anak untuk salat. Bahkan beliau menyuruh memukulnya ketika mereka enggan salat meskipun mereka belum balig, tetapi sudah berusia 10 tahun.
Rasulullah saw. juga bersikap tegas kepada siapa saja yang melecehkan umat Islam. Beliau mengusir Yahudi Bani Qainuqa dari Madinah yang dipicu oleh pelecehan mereka terhadap seorang muslimah.
Musailamah yang mengaku nabi pernah menulis surat kepada Rasul saw., antara lain berbunyi, “Amma ba’du, dari Musailamah utusan Allah kepada Muhammad utusan Allah. Sesungguhnya bumi ini dibagi dua, yakni separuh untukmu dan separuh untukku.” Kemudian dengan tegas beliau saw. membalas, “Amma ba’du, dari Muhammad Rasulullah kepada Musailamah si Pendusta Besar. Sesungguhnya bumi ini milik Allah Taala. Dia mewariskannya kepada siapa pun yang Dia kehendaki.”
Beliau juga berkata kepada utusan Musailamah, “Demi Allah, seandainya tidak karena para utusan itu tidak boleh dibunuh, sungguh telah kupenggal leher kalian berdua!” (HR Abu Dawud dengan sanad shahih, juga diriwayatkan Imam Ahmad, Al Bazzar dan Abu Ya’la dengan sanad hasan).
Khalifah Abu Bakar ra. lalu berhasil menumpas Musailamah. Para pengikutnya banyak yang bertobat. Bahkan, istri Musailamah akhirnya tobat menjadi muslim yang baik.
Banyak hal buruk menimpa umat Islam akibat ketaktegasan penguasa dalam mengambil keputusan. Semoga Allah Swt. memudahkan kita untuk mencontoh kelembutan dan ketegasan Rasulullah saw., serta menempatkannya sesuai ketentuan syariat yang beliau bawa.
Allah Swt. berfirman, “Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad saw.), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali ‘Imran 31). [MNews/YG]
Sumber: mtaufiknt[dot]wordpress[dot]com
*Dengan sedikit penyesuaian
