Sekularisme, Penyebab Tercerabutnya Fitrah Keluarga

Sekularisme, Penyebab Tercerabutnya Fitrah Keluarga

Penulis: Juanmartin, M.Kes.

Muslimah News, OPINI — Entah serapuh apa ikatan keluarga hari ini, hingga masyarakat terus disuguhi berita miris di luar batas nalar. Apa yang dipikirkan seorang ayah saat melakukan rudapaksa pada anak kandungnya? Seorang paman, kakek, bahkan kakak kandung sendiri tega melakukan perbuatan asusila pada adik kandung sendiri. Belum lagi kriminalitas lainnya pun seakan tidak pernah lepas dari institusi keluarga. Apa yang terjadi dengan keluarga hari ini?

Keluarga sejatinya merupakan tempat untuk melepas penat, merilis bahagia yang menciptakan kehangatan pada anggota keluarga. Kini, keluarga seakan menjadi tempat gersang dan menakutkan. Dari keluarga, justru banyak kita dapati seseorang yang hidupnya harus berakhir di tangan orang yang mereka cintai.

Sistem Sosial yang Kompleks

Sebagai negeri dengan warisan norma masyarakat yang menjunjung tinggi agama, kondisi negeri ini terus diserang budaya Barat liberal. Sulit untuk menafikan bahwa budaya “ketimuran” yang sarat dengan pesan-pesan religi telah tergerus sekularisme. Bahkan, budaya Nusantara yang lekat dengan religiusitas kian pudar dan hanya sebatas simbol.

Barat yang menjajakan nilai kebebasan secara langsung mungkin tidak hadir mengetuk pintu-pintu rumah. Nilai-nilai Barat itu hadir dalam sistem sosial yang secara langsung memengaruhi pemikiran, perasaan, dan tata aturan di masyarakat. Masyarakat menjadi terbiasa dengan atmosfer sosial yang mewajarkan stimulus-stimulus seksual dan pergaulan bebas yang mencengkeram pemikiran mereka.

Di sisi lain, sekularisme berdampak pada kemerosotan berpikir yang membuat masyarakat mudah beralih pada ajaran sesat yang melemahkan akidah. Bahkan, pada zaman yang katanya serba modern hari ini, tidak sedikit kita temui kriminalitas berlatar kepercayaan lokal. Sebut saja kasus dukun pengganda uang, pencabulan demi pesugihan, pemerkosaan dengan dalih bisikan gaib atau sejenisnya.

Budaya Barat dan perilaku sirik ini berkelindan meracuni pikiran dan perilaku masyarakat. Anehnya, keduanya diterima, bahkan dianggap sebagai sebuah kewajaran. Lihat saja betapa media menggempur masyarakat dengan tontonan yang mengandung dua hal, yakni nilai kebebasan dan kemusyrikan. Bagaimana masyarakat dan keluarga bisa sehat jika asupan informasinya nyaris seluruhnya bermuatan liberalisme, takhayul, bidah, dan khurafat?

Mengembalikan Fitrah Keluarga

Nilai-nilai Islam sesungguhnya lekat dengan masyarakat Nusantara sejak dulu. Jika hari ini keluarga yang menghuni pelosok Nusantara terpapar dengan paham kebebasan dan kemusyrikan, kembali merenungi syariat adalah solusinya. Ya, sistem sosial yang terbukti meracuni institusi keluarga hari ini sesungguhnya membutuhkan hadirnya Islam sebagai penjaga.

Ajaran Islam yang agung sesungguhnya tegak atas pemahaman mengenai fitrah manusia. Tujuan dari pelaksanaan syariat sendiri, di antaranya menjaga jiwa, harta, keturunan, agama, dan akal. Bagaimana dengan sistem hari ini, adakah semua itu terjaga? Apa yang terjadi di tengah masyarakat telah menunjukkan faktanya. Berbagai kasus dalam keluarga telah mengacaukan nasab keturunan, penjagaan atas jiwa sulit terwujud, sedangkan paham kebebasan dan kemusyrikan merajalela mengacaukan kewarasan manusia.

Oleh karenanya, Islam benar-benar memastikan agar lingkungan sosial bersih dari kemaksiatan, agar setiap individu di dalamnya terjaga. Islam mendefinisikan masyarakat bukan sebatas kumpulan individu semata. Dalam Islam, masyarakat adalah mereka yang terikat pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama. Definisi ini mencirikan kekhasan masyarakat yang memiliki tabiat amar makruf nahi mungkar, saling menasihati dalam rangka mewujudkan atmosfer masyarakat yang sehat, bersih dari kemaksiatan.

Selain menjamin terwujudnya sistem sosial yang sehat, Islam juga menetapkan sejumlah syariat bagi setiap individu. Setiap individu akan memahami upaya menjaga hubungan harmonis antara manusia satu dengan yang lainnya, juga antara sesama anggota keluarga, seperti anak terhadap orang tua atau sebaliknya. Secara langsung, ini akan merealisasikan tujuan terbentuknya keluarga, yakni mewujudkan sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Di dalam Islam juga terdapat sejumlah syariat yang mengatur agar setiap anggota keluarga tidak melanggar hak anggota keluarga lainnya. Oleh karenanya, kita mendapati Allah mengatur wilayah privat sebagai langkah preventif terjadinya tindak asusila sebagaimana marak hari ini.

Di antara aturan tersebut ialah memisahkan tempat tidur saat anak memasuki usia tujuh tahun, memisahkan kamar anak laki-laki dan perempuan, memberi batasan aurat masing-masing anggota keluarga, mengharuskan adanya izin saat hendak memasuki ruang privat masing-masing, juga pentingnya saling menjaga kehormatan dan kemuliaan anggota keluarga.

Peran Negara

Negara memiliki peran strategis dalam merealisasikan upaya preventif, menerapkan sanksi, dan memastikan sistem sosial masyarakat berjalan dalam koridor syariat. Sistem tata sosial (ijtima’iy) dalam Islam diatur dengan seperangkat syariat mengenai interaksi manusia.

Islam mengatur cara perempuan dan laki-laki menjaga aurat. Secara umum, syariat juga memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk menjaga interaksi, tidak berdua-duaan, tidak campur baur, serta berinteraksi hanya dalam perkara muamalat, pendidikan, dan kesehatan. Islam mengatur agar laki-laki dan perempuan sama-sama menjaga kemuliaan dan kehormatan dalam rangka mewujudkan tata sosial yang sehat.

Di sisi lain, negara wajib melindungi masyarakat dari informasi dan visualisasi media yang membangkitkan syahwat maupun informasi yang menjajakan paham kebebasan. Negara juga tidak akan berkompromi dengan segala bentuk kemusyrikan yang melemahkan akidah umat. Sebaliknya, negara akan memasifkan edukasi dalam rangka meningkatkan taraf berpikir umat.

Tidak kalah penting adalah negara menerapkan sanksi atas segala pelanggaran yang terjadi secara tegas bagi siapa pun yang telah mukalaf. Sanksi dalam Islam ini telah terbukti menjaga masyarakat dan mewujudkan perlindungan hakiki atas darah, jiwa, agama, keturunan, dan harta manusia kala Islam berjaya pada masanya.

Sebagai institusi terkecil dalam sebuah sistem, keluarga membutuhkan perlindungan negara. Jika hari ini kita menyaksikan banyaknya kasus kriminalitas dalam keluarga, itu tidak lepas dari sistem yang menaungi kita hari ini.

Sistem sekuler telah terbukti mencerabut fitrah keluarga, mengikis rasa cinta dan kasih sayang yang harusnya mewarnai keluarga, mengubahnya menjadi petaka yang jauh dari fitrah manusia. Dengan demikian, hanya Islam satu-satunya harapan keluarga hari ini, bukan sekularisme liberal yang terbukti menyengsarakan keluarga. [MNews/Gz]

Share

One thought on “Sekularisme, Penyebab Tercerabutnya Fitrah Keluarga”

  1. Keluarga rapuh dlm sistem kapitalisme sekularisme, hanya sistem Islam kaffah satu2x yg mampu mewujudkan keluarga samawa yg kuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *