Penulis: Juanmartin, M.Kes.
Muslimah News, OPINI — Satu keluarga terdiri dari empat orang, ditemukan tewas karena diduga melakukan aksi bunuh diri dengan melompat di Apartemen Teluk Intan Tower Topaz, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (9-3-2024).
Memilih mengakhiri hidup bersama ini bukanlah kasus pertama kali. Meski berbeda cara, kejadian ini adalah kejadian berulang. Di tengah sistem toksik seperti hari ini, bukan tidak mungkin kasus serupa akan terus terjadi.
Mendiagnosis Sistem Sosial
Rasanya sulit untuk menafikan realitas sosial yang mengindikasikan bahwa individu dan masyarakat hari ini sedang “sakit”. Kasus bunuh diri yang marak belakangan tentu ada pemicunya. Alhasil, kita tidak sekadar mencukupkan diagnosis pada latar belakang kasus. Harus ada upaya membangun sudut pandang dan mencari akar masalah dari realitas ini.
Kondisi hidup hari ini sangat kompleks. Untuk itu, mencari benang merah atas kekusutan hidup hari ini menuntut kita untuk mampu mengurainya. Diagnosis sakitnya masyarakat sekarang sesungguhnya dapat dimulai dari sistem kehidupan, hingga pemahaman personal mengenai makna kehidupan itu sendiri. Secara personal, seseorang tentu akan membangun imunitas individual dalam menjalani hidup. Onak dan duri kehidupan membutuhkan kekuatan sudut pandang dalam menjalani terjalnya kehidupan.
Di bawah sistem sekuler kapitalisme, standar pencapaian hidup melulu tentang materi. Standar ini ditopang dalam bisnis kapitalistik hingga masyarakat sulit membedakan mana kebutuhan dan keinginan. Masyarakat yang terlanjur meletakkan standar kebahagiaan pada materi pun akhirnya memaknai hidup atas asas keberlimpahan materi.
Di sisi lain, kian tereduksinya peran negara dalam mengurus rakyatnya membuat siapa pun harus berjibaku untuk bertahan hidup. Secara langsung, sistem kapitalisme telah memproduksi berbagai masalah hidup bagi masyarakat. Sistem ekonomi liberal menjadi monster yang menghasilkan kebijakan yang menyulitkan kondisi ekonomi masyarakat.
Tidak sedikit masyarakat yang akhirnya menyerah menjalani kegetiran hidup. Di sisi lain, sistem sosial yang kental dengan aroma individualis, membuat hubungan sosial masyarakat gersang, jauh dari atmosfer keimanan. Berbagi keresahan hanyalah obat penenang untuk menjaga kesehatan mental keluarga. Sayangnya, daya tahan masing-masing individu berbeda-beda.
Atas dasar ini, solusi tuntas sesungguhnya merupakan linieritas antara pemahaman individu dan sistem yang melingkupi kehidupan. Sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan telah mengikis pemahaman agama pada batasan seruan moral semata. Sementara itu, dalam tataran kenegaraan, negara mencukupkan perannya sebatas regulator, sedangkan aktor utama dalam memenuhi kebutuhan rakyat adalah kaum kapitalis yang tentu saja sarat dengan nuansa untung rugi.
Lantas, bagaimana agar keluarga dapat menumbuhkan imunitas personal untuk mempertahankan kesehatan mental mereka? Bagaimana peran sistem saat ini sebagai perisai bagi rakyatnya dari segala penyakit sosial?
Langkah Preventif
Menumbuhkan imunitas keluarga tentu harus dibangun dengan pemahaman personal anggota keluarga. Dalam Islam, individu bertakwa adalah kunci lahirnya masyarakat yang sehat. Dengan pemahamannya, seseorang akan menyikapi berbagai hal berdasarkan lensa Islam. Syariat Allah adalah standar dalam perbuatan.
Seorang muslim hendaknya memahami bahwa di kehidupan ini ada wilayah Allah yang manusia tidak mampu menolaknya. Sebaliknya, ada pula wilayah yang manusia bisa mengupayakan ikhtiarnya sendiri. Berbagai ikhtiar yang ditempuh manusia hendaknya tegak atas dasar keimanan kepada Allah. Dengan sendirinya, lensa seseorang dalam memaknai kehidupan selalu berdasarkan pada syariat.
Tidak ada rasa kecewa saat materi tidak berlimpah sebagaimana orang lain. Bagi seorang muslim, seluruh perkara hidupnya merupakan ekspresi keimanan kepada Allah. Bersyukur saat Allah melimpahkan rezeki dan bersabar saat Allah memberi ujian. Lensa keimanan inilah yang menguatkan hidup seorang muslim, sebagai implementasi atas keimanan terhadap qada dan kadar.
Meski demikian, syariat sendiri tidak terbatas pada seruan moral. Untuk itulah, seorang muslim harus tetap kritis saat sistem kehidupan tidak berjalan di atas aturan Allah. Hidup dengan aturan Allah adalah kunci keberkahan hidup. Hal yang terjadi hari ini sesungguhnya merupakan akibat dari ditinggalkannya aturan-aturan Allah.
Allah Swt. berfirman dalam QS Thaha: 124, “Barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” Ini adalah peringatan sekaligus ancaman bagi mereka yang berpaling dari petunjuk-Nya.
Solusi Sistemis
Dalam Islam, salah satu tujuan penerapan syariat adalah mewujudkan pemeliharaan atas jiwa. Dalam sistem inilah, negara berperan dalam menciptakan atmosfer yang sehat bagi seluruh warga. Mulai dari sistem sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, berdasarkan lensa syariat.
Untuk meminimalkan stres dan beratnya beban hidup, negara harus menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat secara optimal, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Jika ayah mendapat kemudahan mencari nafkah, ia bisa menghidupi keluarganya secara makruf.
Negara juga berperan dalam mengurai problem sosial masyarakat akibat kesulitan ekonomi. Salah satu yang kerap menjadi solusi pintas bagi masyarakat saat tertimpa kesulitan adalah dengan melakukan utang-piutang. Terlepas dari realitas utang-piutang hari ini yang tidak syar’i, Islam sesungguhnya memiliki mekanisme khas untuk mereka yang berutang dan mengalami kesulitan untuk melunasinya.
Tentu saja, negara berperan mengurai kesulitan rakyatnya dengan mekanisme yang tepat. Negara dapat menyeru orang-orang berada untuk membantu saudaranya. Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari satu kesulitan di antara kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskan dia dari satu kesulitan di antara kesulitan-kesulitan akhirat.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, 33/91).
Jika mekanisme ini belum menemui solusi, negara dapat menjamin para gharim (orang yang berutang) melalui penyaluran harta zakat yang dapat membantu mereka.
Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Inilah solusi preventif dan sistemis dalam perspektif Islam. Alhasil, ada dua pilar yang dapat menjaga kesehatan mental keluarga di tengah kehidupan hari ini. Pertama, menguatkan pemahaman dan keimanan personal. Kedua, menyerukan penerapan sistem Islam sebagai alternatif bagi sistem sekuler kapitalisme yang terbukti menciptakan atmosfer hidup yang toksik bagi kesehatan mental keluarga. Wallahualam. [MNews/Gz]
