Muslimah News, INTERNASIONAL — Ratusan muslim di Sarajevo, Bosnia, beriringan menaiki perbukitan kecil yang mereka sebut sebagai Zuta Tabija atau Benteng Kuning. Anak-anak membawa balon warna-warni dengan penuh kegembiraan menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Menjelang senja, Pemerintah Kota Sarajevo bersama warga akan bersama-sama membunyikan meriam yang tersimpan di benteng ini, yang merupakan tradisi bagi warga setempat.
Awal Ramadan secara resmi ditandai dengan bunyi meriam di Benteng Kuning ini. Setelah itu, selama satu bulan penuh, meriam yang sama akan dibunyikan menjelang senja sebagai penanda berakhirnya puasa pada hari itu atau datangnya waktu berbuka.
Benteng Kuning adalah benteng meriam di pintu masuk kota yang dikelilingi tembok benteng. Dibangun antara tahun 1727 dan 1739, benteng tersebut berperan sebagai titik pertahanan ketika pasukan Austria-Hongaria menyerang wilayah itu pada 1878. Setelah mengalami berbagai kerusakan, benteng ini direnovasi karena nilai penting sejarahnya dan proses itu selesai pada 1998.
Harapan untuk Ramadan disampaikan Edina Khashouf Covic, warga Sarajevo.
“Bagi saya, Ramadan adalah titik yang menandai akhir dari segala hal yang negatif, dan awal dari semua hal yang positif, insyaallah,” katanya.
Bosnia memiliki populasi sekitar 3,2 juta orang dan separuhnya adalah muslim.
Kekhalifahan
Sarajevo adalah ibu kota Bosnia. Jika menilik sejarah, pada akhir abad ke-15, Bosnia menjadi bagian dari wilayah Kekhalifahan Turki Utsmaniyah.
Menurut Schuman dalam Nations in Transition: Bosnia and Herzegovina (2004), sejak 1180 wilayah tersebut dipimpin Raja (Ban) Kulin yang menolak kekuasaan Romawi Barat (Katolik) dan Romawi Timur (Kristen Ortodoks). Ban Kulin lebih mendukung Bogomilisme hingga akhir kekuasaannya pada 1204.
Uniknya, baik Katolik maupun Kristen Ortodoks memandang sekte Bogomilisme sebagai aliran sesat. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila Paus Gregory IX berulang kali mengimbau penyerbuan atas Bosnia pada Perang Salib periode 1235—1241.
Barulah pada 1322, Bosnia ketika di bawah pimpinan Ban Kotromanic menjalin aliansi dengan negeri Katolik yang terdekat, Hongaria. Namun, aliansi ini tidak mampu berbuat banyak terhadap futuhat yang dilakukan oleh kekhalifahan Turki Utsmaniyah.
Pada 28 Juni 1389, pasukan Khilafah berhasil mengalahkan pasukan Lazar, Raja Serbia yang beragama Kristen Ortodoks di Kosovo. Bosnia pun kian lemah dari sisi internal dengan munculnya Stephen Vukcik yang mendeklarasikan pemisahan Herzegovina pada 1448. Tiga tahun kemudian, Vrhbosna (kini Sarajevo) dapat dikuasai Utsmaniyah. Barulah pada 1465 dan 1481, kekhalifahan ini berhasil menaklukkan berturut-turut Bosnia dan Herzegovina.
Melindungi Nonmuslim
Schuman menjelaskan, para Sultan Utsmaniyah melindungi hak-hak orang nonmuslim di wilayah taklukan untuk hidup secara wajar dan beribadah.
Seiring dengan dakwah yang dilakukan oleh kekhalifahan, banyak penduduk Bosnia yang akhirnya memeluk Islam.
Para khalifah lebih mementingkan aspek meritokrasi (sistem politik yang memberikan kesempatan kepada seseorang berdasarkan kemampuan atau prestasi) ketimbang identitas agama.
Sebagai contoh, seorang Kristen Ortodoks bernama Sokolovic terpilih untuk dikirim ke ibu kota Kesultanan Utsmaniyah, Istanbul, demi melanjutkan pendidikan. Dia kemudian masuk Islam dan menjadi seorang muslim, serta meraih posisi sebagai wazir utama.
Dalam kekuasaan Turki Utsmaniyah, Kota Vrhbosna menjadi pusat kegiatan politik, pendidikan, dan budaya masyarakat. Puluhan masjid dan ratusan sekolah untuk umum dibangun.
Menjelang pertengahan tahun 1500-an, Vrhbosna telah memiliki tata kota yang cukup modern, lengkap dengan sistem irigasi, fasilitas kesehatan publik, dan destinasi wisata. Pada masa inilah, kota tersebut berubah namanya menjadi Sarajevo, yang diambil dari bahasa Turki saraj (‘istana’) dan ovas (‘tanah terbuka’).
Sarajevo didirikan oleh Isa-Beg Ishaković , gubernur provinsi di Bosniayang merupakan bagian dari Kekhalifahan Ustmani. Isakovic menandakan kota dengan berbagai simbol, termasuk “Careva Dzamija” atau lebih dikenal Masjid Kaisar atau Masjid Imperial, sebuah sekolah dan pondok atas perintah Darwis, musafirhana (penginapan gratis bagi wisatawan), hamam (bak mandi ala Turki), jembatan yang melintasi Sungai Miljacka, sistem air dengan pipa, dan Saray (istana), atau bahkan pengadilan yang memberi nama kota baru.
Memasuki era 1700-an, kendali Istanbul atas Bosnia-Herzegovina mulai menyusut seiring lemahnya perhatian Kekhalifahan Utsmaniyah terhadap kepentingan penduduk setempat.
Sarajevo, menjadi bukti sejarah bahwa saat Islam berkuasa mampu menciptakan peradaban agung, menebarkan kesejahteraan, dengan tetap membiarkan penduduknya memeluk keyakinannya masing-masing. Tidak ada genosida. [MNews/IA]
